Berandasehat.id – Kita kerap dengar operasi kelopak mata seleb Korea, Cina atau Jepang yang secara genetik memiliki mata sipit tanpa lekukan, demi mendapatkan mata lebih cantik.
Faktanya, operasi kelopak mata menjadi salah satu yang paling diminati dalam beberapa tahun terakhir, mencatat kenaikan 24 persen dan total 1,7 juta prosedur pada tahun yang sama, menurut International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) dalam laporan Global Survey 2023.
Di Asia, faktor genetika dan anatomi turut berperan dalam tingginya permintaan operasi kelopak mata. Menurut hasil riset yang dipublikasikan di Nature (Scientific Report), tercatat bahwa sekitar 50 persen populasi Asia memiliki kelopak mata tanpa lekukan (monolid) atau dengan lekukan minimal, yang menjadikan prosedur seperti double eyelid surgery populer.
Di Asia Timur, prevalensi double eyelid di Jepang mencapai 82–83 persen, Cina Singapura sekitar 66,7 persen, dan Taiwan lebih dari 83 persen.
Terkait fenomena ini, dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM, dokter spesialis mata sub spesialis orbita, okuloplastik dan rekonstruksi di JEC Eye Hospitals & Clinics, mengatakan kelopak mata yang turun, gangguan saluran air mata, atau perubahan bentuk akibat trauma, tidak hanya memengaruhi penampilan tetapi juga fungsi pelindung mata.
“Kondisi-kondisi tersebut kerap membutuhkan tindakan medis khusus, oculoplasty, yang menggabungkan keahlian oftalmologi dan bedah plastik untuk memulihkan fungsi sekaligus memperbaiki estetika,” kata dr. Dyah dalam temu media di JEC Kedoya, Kamis (21/8/2025).

Dia menambahkan, oculoplasty adalah bidang unik yang berada di persimpangan antara oftalmologi dan bedah plastik. “Dari blepharoplasty hingga perbaikan saluran air mata, tindakan itu berfokus pada dua tujuan yaitu memulihkan fungsi dan memperbaiki penampilan,” terangnya.
Oculoplasty tampaknya menjadi tindakan medis yang cukup populer di sejumlah negara dengan berbagai alasan, baik estetika maupun medis, atau keduanya. Di Singapura misalnya, hasil riset studi epidemiologi yang bertajuk ‘Epidemiology of Oculoplastic Conditions: The Singapore Experience’ menunjukkan bahwa 77,4 persen tindakan oculoplastic berkaitan dengan kelopak mata, 13,1 persen terkait saluran air mata, dan 9,5 persen melibatkan rongga mata.
Permintaan yang tinggi terkait oculoplasty di Negeri Singa bukan hanya untuk alasan estetika, tetapi juga karena adanya kondisi medis seperti ptosis, epiblepharon, dan kelainan kelopak lainnya.
Oculoplasty merupakan subspesialisasi dalam oftalmologi yang fokus pada diagnosis dan tatalaksana kelainan di area sekitar bola mata, termasuk kelopak, orbita, dan sistem saluran air mata.
Tindakan di bidang ini sangat beragam, mulai dari operasi fungsional seperti perbaikan ptosis, entropion, ektropion, epiblepharon, hingga rekonstruksi pasca-trauma, tumor, maupun fraktur orbita.
Adapun dari sisi estetika, prosedur yang populer di antaranya blepharoplasty kelopak atas maupun bawah untuk mengoreksi kulit berlebih dan kantung mata, double eyelid surgery, hingga perawatan non-bedah seperti botox.
“Tujuan utamanya adalah menjaga keseimbangan antara fungsi penglihatan, kenyamanan, penampilan wajah, dan rasa percaya diri pasien,” terang dr. Dyah.
Dia mengakui masih ada kesalahpahaman bahwa tindakan oculoplasty murni untuk estetika. Padahal, dalam banyak kasus, prosedur ini juga merupakan kebutuhan medis untuk mencegah penurunan fungsi penglihatan.

“Kami sering menangani pasien dengan kelopak mata turun (ptosis) yang menutupi sebagian pupil, sehingga mengurangi lapang pandang. Banyak yang awalnya mengira ini sekadar masalah penuaan, padahal secara medis dapat diatasi,” bebernya. “Setelah dilakukan ptosis repair, pasien biasanya langsung merasakan penglihatan lebih lega dan wajah terlihat lebih segar – yang berdampak positif pada rasa percaya diri.”
Kesempatan sama, dr. Indra Maharddhika Pambudy, SpM, dokter spesialis mata sub spesialis orbita, okuloplastik dan rekonstruksi, menekankan bahwa aspek bedah sering kali menjadi solusi terbaik untuk kasus tertentu. Hal itu berlaku misalnya untuk ptosis repair, rekonstruksi pasca-trauma, atau pengangkatan tumor kelopak mata. “Tujuannya bukan hanya mempercantik, tapi juga mengembalikan fungsi pelindung mata,” ujarnya.
Dia menambahkan, kelainan pada kelopak mata dan area sekitarnya memerlukan metode yang tepat dan harus ditangani oleh dokter dengan kompetensi khusus. “Dokter spesialis mata dengan sub spesialis bedah tumor, okuloplastik, dan rekonstruksi mata memiliki pemahaman mendalam mengenai anatomi area mata, termasuk kelopak, saluran air mata, serta struktur orbita. Keahlian ini sangat penting mengingat mata merupakan organ yang sangat vital dan sensitif,” tandas dr. Indra. (BS)