Berandasehat.id – Stroke menjadi salah satu penyakit yang melemahkan, menimbulkan kecacatan bahkan kalau terlambat ditolong bisa memicu kematian. Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr. dr. Slamet Budiarto, SH., MH.Kes., menyampaikan bahwa stroke menjadi salah satu penyakit katastropik dengan beban biaya tinggi.
Stroke tidak bisa dianggap remeh karena menjadi penyebab utama disabilitas/kecacatan (11,2%) dan penyebab kematian sebesar 18,5% dari total kematian di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan 2023 menyebut stroke menjadi salah satu penyakit katastropik dengan beban biaya ketiga tertinggi dengan anggaran mencapai Rp5,2 triliun pada 2023.
“Salah satu penyakit katastropik paling sering adalah stroke. Makanya, kita jaga kesehatan otak agar jangan sampai stroke dengan gaya hidup sehat, memilih makanan bergizi dan rutin melakukan aktivitas fisik, olahraga, seperti jalan atau lari, jangan hanya main game dan malas gerak,” ujar dr. Slamet Budiarto di acara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) 2025 Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI) di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/8/2025).
Kesempatan sama, Ketua Pengurus Pusat PERDOSNI Dr. dr. Dodik Tugasworo P, Sp.N(K), MH menyampaikan, Mukernas tahun ini sengaja menyoroti tema ‘Otak Sehat, Negara Kuat’, yang menegaskan komitmen PERDOSNI untuk menjadikan kesehatan otak sebagai fondasi utama dalam pembangunan manusia Indonesia yang tangguh, produktif, dan berdaya saing tinggi.
“Otak yang sehat melahirkan sumber daya manusia yang cerdas, inovatif, dan mampu bersaing di era global. Selain itu, kesehatan otak yang optimal tidak hanya berdampak pada kualitas hidup individu, tetapi juga pada ketahanan sosial, ekonomi, budaya, hingga politik sebuah bangsa,” kata dr. Dodik seraya menambahkan Indonesia sebagai negara besar membutuhkan sumber daya manusia dengan otak yang sehat, kreatif, dan resilien agar mampu menghadapi tantangan global.

Indonesia menghadapi beban penyakit degeneratif otak, seperti stroke dan demensia seiring meningkatnya usia harapan hidup masyarakat. Ketua PP PERDOSNI menyebut, kondisi ini bukan hanya meningkatkan beban kesehatan, tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang luas. “Pasien dengan stroke atau demensia sering kehilangan kemampuan untuk bekerja, dan ini menjadi beban finansial dan psikologis bagi keluarga, masyarakat, dan negara,” terangnya.
Sosialisasi kesehatan otak, jangan maklum dengan pikun
Sementara itu, untuk menggaungkan pentingnya menjaga kesehatan otak, PERDOSNI telah melakukan sejumlah upaya sosialisasi di antaranya melalui media sosial, kader, serta pesan-pesan yang mudah dipahami masyarakat awam melalui berbagai peringatan seperti Hari Alzheimer Sedunia, Hari Stroke Sedunia hingga Hari Parkinson.
Dr. dr. Astuti, Sp.N, Subsp.NGD(K), Ketua Kelompok Kerja PERDOSNI menyampaikan, untuk mendeteksi kesehatan otak khususnya terkait demensia (kepikunan), PERDOSNI telah merilis 14 faktor risiko, di antaranya hipertensi, diabetes, obesitas, kurang aktivitas fisik, isolasi sosial, polusi, nutrisi buruk, gangguan penglihatan, dan sebagainya. “PERDOSNI telah berupaya meningkatkan awareness terkait kesehatan otak kepada masyarakat, lewat sosialisasi di tingkat kader, juga media sosial dengan memberikan pesan yang mudah dipahami masyarakat umum,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa pikun bukan suatu hal yang harus dimaklumi di usia lansia. “Pikun itu penyakit. Kalau lansia sehat sampai akhir hayat dia tidak pikun,” tutur dr. Astuti.
Ada sejumlah cara meminimalkan risiko demensia/kepikunan, antara lain menerapkan gaya hidup sehat sejak dini dengan melakukan skrining terhadap 14 faktor risiko. “Bagi yang sudah diabetes misalnya, usahakan agar diabetesnya terkontrol jangan sampai parah dan masuk ke frame demensia,” bebernya.
Dr. Astuti mengingatkan bahwa kualitas hidup penderita cacat kognitif akan sangat berat, bukan saja kepada individu yang bersangkutan, namun juga keluarga. Karenanya, penting menjaga kesehatan otak sejak dini, agar masa lansia tetap sehat dan tidak pikun.
Kesehatan otak generasi cerdas berkualitas
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat hadir sebagai pembicara kunci di Mukernas PERDOSNI 2025, menyoroti pentingnya peran aktif setiap warga negara dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, demi meningkatkan daya saing di masa depan.
Dia mengaku berdiskusi dengan pengurus PERDOSNI sebelum menjadi pembicara, antara lain tentang penyakit degeneratif di Indonesia tinggi seiring dengan meningkatnya usia harapan hidup masyarakat yang berpotensi menjadi beban negara.
Lestari menyebut, konstitusi telah menegaskan bahwa tujuan kita bernegara adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. “Ini bukan hanya bicara kesejahteraan, tapi bagaimana kita memastikan seluruh bangsa dan masyarakat Indonesia memiliki kesehatan termasuk kesehatan jiwa. Saya rasa kesehatan jiwa tidak akan tercapai jika kesehatan otak tak terpenuhi,” ujar Lestari saat menyampaikan pandangan bertema ‘Kesehatan Otak sebagai Pilar Penting dalam Pembangunan Nasional Menuju Daya Saing Global Indonesia Emas 2045’.
Guna mewujudkan tujuan itu, penting untuk mengedepankan upaya membangun ‘jembatan’ antara kesehatan jiwa dan kesehatan otak dalam konteks sebuah kebijakan. “Ini penting untuk mewujudkan misi Indonesia Emas 2045,” terangnya.
Ada empat pilar untuk mewujudkan hal itu, yakni pembangunan sumber daya manusia serta penguasaan ilmu dan teknologi, pemerataan pembangunan, pembangunan ekonomi berkelanjutan, serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan yang baik. “Keempat pilar itu tak bisa dipisahkan. Kalau terwujud, maka masyarakat Indonesia akan memiliki kesehatan paripurna, termasuk kewarasan berpikir. Maka penting untuk menjaga kesehatan otak,” beber Lestari.
Selanjutnya dia menyoroti pentingnya ‘peta jalan’ kesehatan otak yang tepat dan dapat dipahami sejumlah pihak, agar berbagai kebijakan yang dilahirkan dapat tepat sasaran. “Tujuannya tak lain agar berbagai kebijakan yang dilahirkan dapat tepat sasaran dalam upaya memastikan generasi penerus bangsa memiliki standar kesehatan jiwa dan kesehatan otak yang memadai dalam menghadapi tantangan di masa mendatang,” urainya.
Guna memastikan generasi penerus bangsa memiliki standar kesehatan jiwa dan kesehatan otak yang memadai dalam menjawab tantangan di masa depan, Lestari melontarkan usulan untuk melibatkan deteksi dini kesehatan jiwa dan otak dalam program pemerintah. “Kesehatan otak punya peran penting dalam keberlanjutan pembangunan nasional. Perlu dilakukan deteksi dini kesehatan otak, yang bisa ditindaklanjuti dengan kegiatan yang paling sederhana untuk memastikan agar intervensi pada usia dini dan produktif guna memantau kesehatan otak bisa dijalankan,” ulasnya.
Intervensi 1000 HPK
Lestari menilai program 1000 Pertama Kehidupan (HPK) yang digaungkan pemerintah masih menitikberatkan kepada peningkatan kesehatan dalam konteks pemberian gizi yang menjadikan anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan tolok ukur fisik/jasmani.

“PERDOSNI saya rasa dalam hal ini bisa melakukan intervensi bahwa 1000 HPK bukan semata secara jasmani, namun juga otak. Memberikan stimulasi kepada otak anak di usia dini bisa menjadi kunci dalam menjaga kesehatan otak jangka panjang generasi penerus bangsa,” bebernya.
Kesehatan otak, sebut Lestari, memegang peran penting dalam kemampuan daya saing suatu bangsa. “Otak manusia sangat menentukan dalam pengambilan keputusan terutama dalam situasi kritis. Kesehatan otak menjadi dasar paling penting sebagai model pembentukan generasi cerdas, termasuk membentuk pemimpin berkualitas, membangun ketahanan bangsa,” urainya.
Dia menyoroti pentingnya keterlibatan multisektor, termasuk dalam hal ini rekomendasi PERDOSNI, agar pengambilan kebijakan bisa dilakukan secara holistik.
Lestari juga mendorong agar semua pihak terkait seperti pemerintah dan pihak swasta dapat terlibat aktif mengajak masyarakat untuk peduli terhadap kesehatan otak, serta mengedepankan berbagai upaya promotif preventif dalam menghadapi berbagai tantangan di sektor kesehatan. (BS)