Berandasehat.id – Seiring meningkatnya usia harapan hidup, Indonesia menghadapi beban penyakit degeneratif otak, seperti stroke dan demensia. Kondisi ini bukan hanya meningkatkan beban kesehatan, tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang luas.

Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI) Dr. dr. Dodik Tugasworo P, Sp.S(K) mengatakan penyakit degeneratif seperti stroke, demensia, Parkinson, epilepsi  diperkirakan akan booming. “Karena orang Indonesia usianya makin lama makin meningkat, jadi penyakit degeneratif akan booming,” ujarnya di acara Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) 2025 PERDOSNI di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (23/8/2025).

Dia menambahkan, masalah kesehatan otak yang tidak ditangani dengan baik dan sistematis dapat menghambat produktivitas dan menurunkan daya saing bangsa.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk pada 2023. Sementara itu, berdasarkan data nasional, insiden stroke adalah 158,47 per 100.000 penduduk. 

Menyatukan puzzle untuk menjaga kesehatan otak (dok. ist)

Agar jangan sampai stroke, dr. Dodik menyebut PERDOSNI telah menyiapkan panduan program pencegahan hingga pengobatan (kuratif). “Bahkan PERDOSNI juga mendistribusikan SDM untuk neurointervensi, menangani pasien yang terkena stroke memakai teknologi modern yang tersebar di berbagai wilayah atas bantuan dari Kementerian Kesehatan,” terangnya.

Masalah lain yang turut mengintai terkait kesehatan otak adalah demensia, gangguan kesehatan yang menyebabkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir logis, dan fungsi kognitif lainnya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 55 juta orang hidup dengan demensia pada 2021. Sedangkan prevalensi demensia di Indonesia diperkirakan mencapai 1,8 juta orang.

Untuk mendeteksi demensia, PERDOSNI juga telah menyiapkan tools dan menyebarkannya ke Posbindu (Pos Binaan Terpadu),  kegiatan monitoring dan deteksi dini faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) yang dikelola oleh masyarakat melalui pembinaan terpadu. Tujuannya agar masyarakat tahu deteksi dini masalah ini dan cara pencegahannya.

Dr. Dodik menilai yang perlu ditingkatkan adalah sosialisasi dengan masyarakat terkait deteksi dini dan skrining kesehatan otak. “Kalau masyarakat sudah tahu nanti anggapan usia lanjut pasti pikun akan hilang, karena tua tidak identik dengan pikun atau stroke. Poinnya adalah hidup harus ditata sejak dini,” tuturnya. 

Menangkal mitos kesehatan otak

Kesempatan sama, dr. Dodik juga menyoroti mitos yang banyak berkembang di masyarakat terkait dengan stroke yang tidak terbukti secara ilmiah. “Banyak mitos yang beredar kalau stroke, jari pasien dicocok-cocok pakai jarum bisa sembuh, Atau, kalau stroke terus pasien dibentak-bentak akan bangun sendiri. Mitos semacam ini harus kita kikis. Tindakan yang benar adalah kalau stroke segera bawa ke rumah sakit secepatnya agar lekas ditolong,” tuturnya.

Untuk mencegah stroke, Ketua PP PERDOSNI menyarankan formula ‘3O1D’. Pertama, olahraga selama 30 menit. Kedua, olah seni bisa dengan bernyanyi, pelihara tanaman, pelihara burung atau hobi yang bikin senang hati. O ketiga adalah olah sabar jangan terburu-buru. Sedangkan D adalah diet, kurangi makanan berlemak dan berminyak. “Dengan menerapkan hal itu mudah-mudahan kita terhindar dari stroke,” ujarnya. 

Tak lupa dr. Dodik mengingatkan implikasi negatif stroke bagi pasien dan keluarga dengan istilah madesu (masa depan suram), karena menjadi beban keluarga juga negara. “Apalagi kalau yang kena stroke kepala keluarga pencari nafkah utama, itu akan berat. Itulah mengapa kita semua harus menjaga kesehatan otak jangan sampai stroke,” pungkasnya. (BS)