Berandasehat.id – Jangan sepelekan kebiasan minum dalam jumlah cukup. Pasalnya, kurang minum dapat memicu respons hormon stres yang lebih besar, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes, dan depresi.
Menurut sebuah studi baru dari para ilmuwan di Liverpool, Inggris, yang diterbitkan di Journal of Applied Physiology, Agustus 2025, individu yang minum kurang dari 1,5 liter cairan per hari memiliki respons kortisol terhadap stres yang lebih dari 50% lebih tinggi daripada mereka yang memenuhi rekomendasi asupan air harian.
“Kortisol adalah hormon stres utama tubuh dan reaktivitas kortisol yang berlebihan terhadap stres dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung, diabetes, dan depresi,” ujar Profesor Neil Walsh, pemimpin studi, seorang ahli fisiologi di Liverpool John Moores University.
Neil dan timnya membagi orang dewasa muda yang sehat menjadi dua kelompok dengan ukuran yang sama, mewakili 25% terendah dan tertinggi untuk asupan cairan harian. Kelompok ‘sedikit cairan’ terdiri dari individu yang biasanya minum kurang dari 1,5 liter cairan per hari (air, minuman panas, dan sebagainya).
Kelompok ‘banyak cairan’ mencakup individu yang secara teratur memenuhi rekomendasi asupan air harian, yakni 2 liter untuk wanita dan 2,5 liter untuk pria. Kedua kelompok dicocokkan berdasarkan faktor-faktor kunci yang diketahui memengaruhi respons stres, seperti karakteristik psikologis dan tidur.

Peserta mempertahankan kebiasaan minum mereka yang biasa selama satu minggu, di mana tingkat hidrasi dipantau dalam sampel darah dan urin. Kemudian peserta menjalani Tes Stres Sosial Trier, yang banyak digunakan untuk mensimulasikan stres di dunia nyata melalui wawancara kerja tiruan dan tugas aritmatika mental.
Dr. Daniel Kashi, anggota tim studi, mengatakan studi menunjukkan bahwa kedua kelompok merasa sama-sama cemas dan mengalami peningkatan detak jantung yang serupa selama tes stres. Namun, hanya kelompok ‘sedikit cairan’ yang menunjukkan peningkatan kortisol saliva yang signifikan sebagai respons terhadap tes stres.
“Meskipun kelompok dengan kadar cairan rendah tidak melaporkan rasa haus yang lebih besar dibandingkan kelompok dengan kadar cairan tinggi, urin mereka berwarna lebih gelap dan lebih pekat, yang merupakan tanda-tanda jelas hidrasi yang buruk,” ujarnya.
Observasi penting menunjukkan bahwa hidrasi yang buruk dikaitkan dengan reaktivitas kortisol yang lebih besar terhadap tes stres. Reaktivitas kortisol yang berlebihan terhadap stres telah dikaitkan dengan kesehatan jangka panjang yang buruk.
Menyoroti bahaya dehidrasi
Mengapa kurang minum hingga tubuh dehidrasi berbahaya, Jawabannya terletak pada sistem pengaturan air tubuh, yang berkaitan erat dengan pusat respons stres di otak. Ketika tubuh merasakan dehidrasi, baik karena asupan cairan yang tidak memadai maupun kehilangan cairan yang berlebihan, hal itu memicu pelepasan hormon yang disebut vasopresin.
Vasopresin bekerja terutama pada ginjal, mendorong reabsorpsi air untuk menjaga volume darah dan keseimbangan elektrolit.
Mekanisme konservasi ini memiliki konsekuensi. Pelepasan vasopresin yang berkelanjutan memberikan beban tambahan pada ginjal, yang harus bekerja lebih keras untuk mengonsentrasikan urin dan mengatur keseimbangan elektrolit.
Vasopresin juga bekerja pada pusat respons stres otak, hipotalamus, yang dapat memengaruhi pelepasan kortisol. Peran ganda vasopresin ini membantu menjaga volume darah dan keseimbangan elektrolit, tetapi juga meningkatkan kortisol.
Para peneliti mengatakan bahwa meskipun studi jangka panjang lebih lanjut diperlukan, temuan ini memperkuat rekomendasi asupan air saat ini, sekitar 2 liter cairan setiap hari untuk wanita dan 2,5 liter untuk pria.
Hidrasi membantu kelola stres
“Terhidrasi dapat membantu tubuh mengelola stres dengan lebih efektif,” tambah Dr. Kashi.
Cara praktis untuk memeriksa status hidrasi adalah dengan memantau warna urine, kuning muda biasanya menunjukkan hidrasi yang baik.
Bagi yang menjalani hidup dengan jadwal padat, selalu sediakan botol air yang dapat menjadi kebiasaan baik mencukupi asupan cairan yang memiliki manfaat bagi kesehatan jangka panjang. (BS)