Berandasehat.id – Stroke jauh lebih mematikan dan lebih melumpuhkan daripada yang seharusnya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya orang yang mempercayai semua informasi yang salah tentang stroke, terkait penyebab, bagaimana cara mencegah serta mengobatinya.

Stroke adalah penyebab kematian nomor tiga di AS, merenggut nyawa lebih dari 160.000 orang setiap tahun. Stroke juga merupakan penyebab utama kecacatan yang dapat dicegah. Lima persen orang di atas usia 65 tahun pernah mengalami beberapa bentuk stroke.

Berikut 9 mitos mematikan tentang stroke, yang dirangkum dengan bantuan pakar stroke dari University of Tennessee, Dr. John Beuerlein, dirangkum dari CBSNews:

“Stroke sama dengan penyakit jantung’

Stroke pengaruhi otak, bukan jantung. Stroke disebabkan oleh gangguan aliran darah, seringkali ketika gumpalan darah terlepas dari jantung dan mengalir melalui aliran darah ke otak, tempat gumpalan tersebut menyumbat arteri. Jenis stroke ini sering kali merupakan akibat dari fibrilasi atrium, kelainan irama jantung yang kerap dapat dikontrol dengan pengencer darah seperti warfarin.

‘Stroke hanya di usia lanjut’

Stroke lebih umum terjadi pada orang lanjut usia, tetapi dapat menyerang orang-orang dari segala usia – bahkan bayi. Hampir 25 persen stroke terjadi pada orang di bawah usia 65 tahun. Setelah usia 35 tahun, risiko stroke berlipat ganda setiap 10 tahun. Pada orang muda, stroke sering dikaitkan dengan penyakit sel sabit, kelainan pembuluh darah seperti aneurisma, atau penyalahgunaan kokain atau obat-obatan lainnya.

‘Stroke tak bisa dicegah’

Stroke tidak dapat dicegah? Sama sekali tidak. Ada banyak faktor risiko stroke yang dapat dihindari, termasuk tekanan darah tinggi (hipertensi) yang tidak terkontrol, kolesterol dan/atau trigliserida tinggi, dan merokok (yang dapat menggandakan risiko). Terapi obat dan strategi gaya hidup, termasuk penurunan berat badan, dapat sangat mengurangi risiko terkena stroke.

‘Stroke tak bisa ditolong’

Stroke adalah keadaan darurat medis. Segera hubungi no kontak darurat rumah sakit jika muncul gejala stroke, seperti lemas, kelumpuhan, penglihatan ganda, kehilangan penglihatan, kesulitan berbicara tiba-tiba, pusing yang tidak dapat dijelaskan, atau kehilangan keseimbangan.

“Stroke dapat diobati dengan obat-obatan penghancur gumpalan darah dan teknik bedah, tetapi sangat penting untuk digunakan sesegera mungkin – idealnya dalam waktu empat setengah jam,” kata Dr. Beuerlein.

‘Stroke selalu diawali dengan rasa sakit’

Sebagian besar stroke hanya menyebabkan sedikit atau tidak ada rasa sakit. Beberapa orang berpikir stroke menyebabkan sakit kepala terburuk, tetapi deskripsi itu lebih cocok dengan kondisi lain yang dikenal sebagai perdarahan subaraknoid, yaitu perdarahan antara otak dan jaringan tipis di sekitarnya.

‘Tidur bisa hilangkan gejala stroke’

Beberapa orang yang mengalami mati rasa atau lemas akibat stroke mencoba tidur untuk menghilangkan gejalanya. Ide yang amat buruk, sekalius membuang-buang waktu yang berharga – dan dapat menyebabkan kecacatan yang lebih parah.

‘Berhenti minum obat stroke saat lebih baik’

Beberapa pasien stroke berpikir mereka dapat berhenti minum obat stroke yang diresepkan setelah merasa lebih baik. Namun, stroke sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, atau masalah lain yang tidak hilang dengan sendirinya.

‘Pemulihan stroke bisa cepat’

Pemulihan dari stroke dapat memakan waktu bertahun-tahun. Bahkan, kata Dr. Beuerlein, kondisi ini dapat berlanjut seumur hidup, meskipun jika pengobatan memberikan perbaikan yang cepat. Penting bagi pasien stroke untuk mengendalikan faktor risiko yang menyebabkan stroke – atau kemungkinan besar stroke akan kambuh.

‘Stroke mini bisa diabaikan karena akan hilang sendiri’

Stroke terkadang didahului oleh serangan iskemik transien, alias TIA. Stroke mini ini menimbulkan gejala yang sama dengan stroke, tetapi cepat hilang. Namun, hanya karena gejalanya hilang, bukan berarti TIA harus diabaikan. Sekitar satu dari tiga orang yang mengalami TIA akan mengalami stroke berat. Bagi yang mengalami gejala yang menunjukkan stroke atau TIA, hubungi kontak darurat dan segera ke unit gawat darurat terdekat. (BS)