Berandasehat.id – Brain rot (pembusukan otak) adalah istilah slang untuk penurunan mental dan kognitif yang dialami orang setelah mengonsumsi sejumlah besar konten daring yang remeh dan berkualitas rendah, yang menyebabkan keadaan pikiran kabur, motivasi berkurang, dan fokus yang buruk.

Brain rot bukanlah kondisi medis, melainkan fenomena yang menggambarkan perasaan kemunduran intelektual akibat kelebihan beban digital yang berlebihan. Brain rot dinobatkan sebagai Oxford’s Word of the Year for 2024 dan banyak digunakan dalam budaya internet, khususnya di kalangan generasi muda.

Gary Small, MD, ketua psikiatri di Hackensack University Medical Center di Hackensack, New Jersey, dan penulis The Memory Bible, berbagi sejumlah tips bagi pengguna media sosial untuk meminimalkan peluang brain rot yang sangat merugikan. Berikut daftarnya:

1. Tetapkan batasan waktu layar

Patuhi batas waktu layar harian, termasuk waktu berselancar di situs media sosial seperti TikTok atau Facebook. “Tiga puluh detik hingga beberapa menit adalah awal yang baik,” kata Small.

2. Matikan semua notifikasi media sosial untuk fokus

Masih kesulitan? Aplikasi seperti FocusMe dapat membantu membatasi akses.

3. Latih mindfulness

Mindfulness dapat membantu mencegah kerusakan otak. Latihan ini membantu melatih kembali otak untuk fokus. “Ini dapat membantu menghentikan kebiasaan menggulir umpan media sosial tanpa berpikir,” kata Small.

Penelitian menunjukkan mindfulness dapat membantu meningkatkan bagian otak (kepadatan materi abu-abu). Materi abu-abu membantu kita belajar dan mengingat.

4. Tetap aktif secara fisik

Tingkatkan aliran darah ke otak dengan berolahraga. Small menyebut, aktivitas dapat meningkatkan neuroplastisitas otak, kemampuan untuk beradaptasi dan tumbuh.

Studi menunjukkan kebugaran fisik membantu otak berkonsentrasi dan memperhatikan, terutama remaja. Usahakan berolahraga sedang selama sekitar 150 menit setidaknya lima hari seminggu, mencakup jalan cepat, berenang, atau bersepeda.

5. Membaca

Bacalah koran, artikel, atau buku. Orang yang membaca secara teratur cenderung memiliki risiko penurunan kognitif yang lebih rendah.

Tidak seperti video daring pendek, membaca mendorong kita untuk meningkatkan rentang perhatian. Membaca juga memperkuat bagian otak yang terkait dengan bahasa dan fungsi kognitif yang lebih kompleks.

6. Batasi multitasking

Sekitar 40% orang dewasa melakukan multitasking menggunakan perangkat digital. Hal ini dapat meningkatkan stres dan menurunkan produktivitas. Otak akan sangat tertekan karena harus beralih dengan cepat antar tugas. Seiring waktu, multitasking dapat merusak ingatan, serta kemampuan untuk merencanakan, fokus, dan mengatur.

7. Tetaplah bersosialisasi

Berinteraksi dengan keluarga dan teman di media sosial tidak sama dengan berinteraksi secara langsung. “Saat bertemu langsung, Anda berfokus pada hal-hal seperti bahasa tubuh, yang membantu menjaga otak tetap aktif,” kata Small.

Bertemu langsung juga dapat menurunkan risiko depresi.

8. Merasa sedih atau putus asa perburuk kerusakan otak

Sebuah survei terhadap dewasa muda menemukan bahwa mereka mengalami lebih sedikit gejala depresi dengan lebih banyak dukungan offline.

9. Beraktivitas di luar ruangan

Matikan semua perangkat dan luangkan waktu di luar ruangan. Ini adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah kabut otak. “Kegiatan luar ruang dapat menurunkan tingkat stres, meningkatkan suasana hati, dan meningkatkan fokus secara keseluruhan,” kata Small. “Semua itu dibutuhkan untuk otak yang sehat.”

10. Jika perlu, lakukan detoks digital secara menyeluruh

Menjauh dari media sosial selama tujuh hari saja dapat meningkatkan kesehatan mental. Mau mencoba? (BS)