Berandasehat.id – Mata merah, pandangan kabur kerap dianggap sebagai gangguan mata ringan yang disangka akan hilang dengan sendirinya. Padahal mata merah bisa jadi merupakan uveitis yang jika tak ditangani bisa mengancam penglihatan. Data menyebut, uveitis menyumbang 25% angka kebutaan di negara berkembang.

Uveitis merupakan gangguan pada retina, berupa peradangan pada uvea, lapisan tengah mata yang mengandung pembuluh darah dan jaringan penting lainnya. Kondisi ini dapat disebabkan oleh infeksi, cedera, penyakit autoimun, hingga idiopatik (penyebabnya tidak diketahui).

Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM,  Sub Spesialis Ocular Infection and Immunology, JEC Eye Hospitals and Clinics menyampaikan uveitis perlu diwaspadai, karena bukan sekadar peradangan mata biasa. “Banyak penyandangnya yang mengabaikan gejala. Ketidaktahuan membuat pasien kerap terlambat memeriksakan mata, padahal terlambat ditangani bisa mengancam penglihatan,” ujarnya dalam temu media memperingati World Retina Day 2025 di Jakarta, baru-baru.

Gejala umum uveitis antara lain mata merah (termasuk yang disertai rasa nyeri), penglihatan kabur atau berbayang (baik yang tidak/disertai mata merah), munculnya floaters (bintik atau bayangan kecil yang tampak melayang-layang di lapang pandang), dan photophobia – pandangan yang sensitif terhadap cahaya.

Ilustrasi uveitis (dok. ist)

Lebih lanjut dikatakan, uveitis yang diabaikan bisa mengarah pada gangguan mata yang lebih serius seperti glaukoma, katarak, juga kerusakan retina. Dampaknya tak main-main: bisa berujung pada kebutaan permanen.

Retina merupakan bagian organ mata yang bertanggung jawab sebagai penghubung utama antara cahaya yang masuk ke mata menjadi sinyal visual ke otak. “Gangguan sekecil apa pun pada retina berpotensi mengacaukan proses penglihatan secara keseluruhan,” terang dr. Eka.

Dia menambahkan, peradangan mata atau peradangan struktur okular, seperti uveitis, keratitis, dan skleritis, berisiko merusak retina.

Mayoritas penyebab uveitis tak diketahui

Dalam paparannya, Dokter Sub Spesialis Ocular Infection and Immunology, JEC Eye Hospitals and Clinics itu menjelaskan, uveitis berpotensi menyerang semua kelompok umur, terutama pada kalangan usia produktif (20-60 tahun).

Di Indonesia, uveitis dipicu dua penyebab terbanyak, yakni penyakit infeksi sistemik (misalnya tuberkulosis dan toksoplasma) serta autoimun. yang mencemaskan, studi menyebut bahwa 48–70% kasus uveitis tergolong idiopatik (tidak diketahui penyebab pastinya).

Penderita uveitis kerap mengabaikan gejala karena memang mirip dengan kondisi mata merah dan pandangan yang sensitif terhadap cahaya. “Gejala awal infeksi mata ringan seperti konjungtivitis (bersifat menular, biasanya disertai belek) mirip dengan uveitis. Kemiripan ini yang membuat banyak penderitanya abai,” ujar dr. Eka.

Perlu diwaspadai, gejala uveitis dapat timbul secara tiba-tiba dan memburuk dengan cepat, dan muncul pada salah satu atau kedua mata. “Pada penderita autoimun, misalnya lupus atau sindrom Sjogren, gejala uveitis sering terjadi pada kedua mata dengan interval waktu berbeda,” ujarnya.

Untuk itu, dr. Eka menekankan perlunya waspada dengan gejala yang muncul. “Gejala-gejala tersebut merupakan alarm yang memerlukan perhatian medis segera. Kondisi uveitis dapat memburuk dengan cepat,” tuturnya.

Diagnosis yang akurat serta koordinasi antarprofesi medis sangat penting untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan mencegah komplikasi uveitis. Dia menekankan penanganan uveitis memerlukan pendekatan menyeluruh guna mengendalikan peradangan dalam jangka panjang.

Tata laksana uveitis

Tata laksana uveitis dimulai dengan pemeriksaan oftalmologi lengkap menggunakan slit-lamp, disertai pencitraan mata dan tes darah untuk mengidentifikasi akar penyebabnya.

Selanjutnya, pemberian obat sesuai kondisi uveitis, antara lain:

– Tetes mata kortikosteroid sebagai pengobatan lini pertama untuk mengurangi peradangan dengan cepat.

– Dilating drops (cycloplegics) atau tetes mata untuk melebarkan pupil mata guna mengurangi nyeri akibat kejang iris dan mencegah pembentukan jaringan parut.

– Kortikosteroid (oral ataupun suntik) untuk mengatasi peradangan sistemik pada pada kasus yang lebih berat atau uveitis posterior.

– Imunosupresan, seperti methotrexate atau biologics, untuk kasus uveitis yang bersifat kronis atau disebabkan oleh penyakit autoimun.

– Pemberian antibiotik, antivirus, atau antijamur, apabila uveitis teridentifikasi akibat infeksi.

Kesempatan sama, dr. Referano Agustiawan, SpM(K), Direktur Utama RS Mata JEC @ Menteng, mengingatkan gangguan retina merupakan salah satu penyebab utama kebutaan di dunia, dengan akar penyebab yang beragam bergantung pada kelompok usia.

Kiri ke kanan: dr. Referano Agustiawan, SpM(K) dan  dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM menjelaskan pentingnya deteksi dini uveitis dan penanganan tepat untuk cegah kondisi lebih parah

WHO memperkirakan 196 juta populasi dunia mengalami degenerasi makula dan 146 juta menderita retinopati diabetik; menempatkan keduanya sebagai gangguan retina dengan jumlah penderita terbanyak. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi retinopati diabetik mencapai 43,1%.

“JEC Eye Hospitals and Clinics menjadi pionir dalam penanganan gangguan retina secara komprehensif. Tata laksana gangguan retina mulai dari terapi laser, injeksi retina sampai tindakan bedah retina,” ujar dr. Referano.

Layanan khusus retina tersedia di seluruh 16 cabang dengan penatalaksanaan yang telah terstandardisasi. Khusus di RS Mata JEC @ Menteng, penanganan retina tersentralisasi melalui JEC Retina Center yang dilengkapi 15 pemeriksaan diagnostik berteknologi tinggi, dan siaga melayani kedaruratan retina 24 jam.

Diperkuat 11 dokter mata dengan subspesialisasi retina, RS Mata JEC @ Menteng telah menangani lebih dari 12 ribu pasien gangguan retina dan infeksi mata selama tiga tahun terakhir. (BS)