Berandasehat.id – Untuk mengeliminasi kanker serviks di Tanah Air, Kementerian Kesehatan RI bersama dengan Kementerian Kerja Sama Ekonomi Federal Jerman (BMZ), Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, dan sejumlah rumah sakit terkemuka telah menjalin kemitraan bilateral berupa Program ACTIVE 2.0 (Enhancing Cervical Cancer Treatment & Patient Recovery Across Southeast Asia).

“Kolaborasi ini sejalan dengan Transformasi Kesehatan khususnya untuk pelayanan onkologi sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga medis di berbagai rumah sakit nasional. Ini sejalan dengan komtmen Kemenkes untuk memperkuat layanan kanker di dalam negeri,” kata Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Obrin Parulian, dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Dia menambahkan, Program ACTIVE 2.0 diluncurkan untuk menyempurnakan prosedur radioterapi di berbagai rumah sakit, meningkatkan hasil perawatan pasien, dan memperkuat sistem layanan kanker secara nasional.

Program ini didukung oleh Deutsche Investitions-und Entwicklungsgesellschaft (DEG), Elekta, The Federation of Asian Organizations for Radiation Oncology (FARO) difasilitasi oleh Asia Society for Social Improvement and Sustainable Transformation (ASSIST).

“Program ACTIVE 2.0 bertujuan membantu rumah sakit agar dapat menyediakan layanan kanker yang berkualitas melalui kegiatan pelatihan, pembangunan infrastruktur, dan perencanaan jangka panjang,” ujar Project Director ACTIVE 2.0, Paul Lee, di kesempatan sama.

Empat rumah sakit rujukan nasional, yaitu RS Kanker Dharmais, RS Cipto Mangunkusumo, RS Sardjito, dan RSUP Dr. Mohammad Hoesin, telah ditunjuk sebagai Center of Excellence (CoE) dalam Program ACTIVE 2.0.

Upaya bersama eliminasi kanker serviks melalui Program ACTIVE 2.0 (Enhancing Cervical Cancer Treatment & Patient Recovery Across Southeast Asia)Berandasehat.id

Keempat rumah sakit tersebut akan menjadi pusat pelatihan, pengembangan infrastruktur, dan penyedia dukungan pemulihan pasien. Sebagai pusat pelatihan, keempat rumah sakit tersebut akan menyediakan pelatihan bagi rumah sakit yang berada di wilayah sekitarnya. Selain itu, RS juga akan membangun pusat pelatihan dengan peralatan yang mumpuni untuk meningkatkan kapabilitas tenaga kesehatan dalam penanganan kanker.

“Melalui ACTIVE 2.0, rumah sakit di Indonesia akan mendapatkan akses teknologi radioterapi mutakhir, bimbingan pakar internasional, dan program pelatihan yang dirancang khusus untuk meningkatkan kualitas perawatan pasien secara nasional. Melalui program ini, dokter Indonesia akan diberikan pelatihan untuk meningkatkan skill dan kompetensi dalam mengoperasikan alat canggih dalam penanganan kanker serviks,” kata Obrin.

Obrin mengakui saat ini ada celah cukup lebar di antara RS di Indonesia. “RS Kanker Dharmais sebaga rumah sakit rujukan kanker nasional ada gap cukup jauh dengan RS lainnya. Makanya pemerintah membuat pengampuan, mentorship, agar rumah sakit yang punya kompetiensi tinggi bisa meningkatkan rumah sakit di bawahnya,” tuturnya.

Sementara itu, Direktur Utama RS Kanker Dharmais, dr. R. Soeko Werdi Nindito D, menyampaikan dari semua jenis kanker, kanker serviks diketahui penyebabnya, yakni HPV (human papillomavirus). “Kebiasaan gaya hidup bersih bisa menjadi langkah pencegahan utama, juga melakukan vaksinasi HPV,” ujarnya.

HPV merupakan sekelompok virus umum yang menyebar melalui kontak kulit, termasuk kontak seksual, dan dapat menyebabkan kutil atau jenis kanker seperti kanker serviks, anus, orofaring, vulva, vagina, dan penis. 

Kebanyakan infeksi HPV tidak berbahaya dan bisa hilang sendiri, tetapi beberapa jenis berisiko tinggi bisa menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang jika tidak ditangani. “Butuh waktu lama bertahun-tahun orang yang kena HPV bisa mengembangkan kanker,” cetus Soeko.

Terkait proyek koborasi ACTIVE 2,0, dia menyampaikan dalam hal ini Jerman membantu empat rumah sakit dengan memberikan alat brakiterapi untuk terapi radasiasi bagi pasien yang menderita kanker serviks. “Alat ini mahal dan tenaga yang mengoperasikannya perlu dilatih agar mengoperasikannya dengan benar demi meningkatkan keberhasilan terapi,” ujar Soeko.

Kesempatan sama, Head of Cooperation with the Private Sector BMZ, Benjamin Knödler, menyampaikan ACTIVE 2.0 menjadi contoh kolaborasi dalam membangun layanan kanker yang tangguh dan berkualitas dapat dilakukan di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Sejumlah pakar medis internasional seperti ahli onkologi radiasi dari Jepang dan Eropa akan memberikan pendampingan di bawah koordinasi mitra global. Jadwal pelatihan dengan rumah sakit di Indonesia akan disusun bersama institusi medis sehingga tenaga profesional lokal dapat mempelajari praktik terbaik internasional dalam perawatan kanker serviks. (BS)