Berandasehat.id – Penyakit jantung bawaan (PJB) masih menjadi persoalan serius di Tanah Air. PJB timbul akibat kelainan struktur jantung yang ada sejak bayi dilahirkan dan terjadi saat janin berkembang di kandungan

Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sekitar 50.000 bayi lahir dengan PJB setiap tahun di Indonesia, dari yang ringan hingga kritis. Dari jumlah itu, diperkirakan 25-30% di antaranya tergolong parah dan memerlukan tindakan segera.

Menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Peyakit Jantung Bawaan, dr. Oktavia Lilyasari, Sp.JP (K) FIHA, penyebab PJB belum sepenuhnya dipahami, namun terjadi akibat kelainan saat janin berkembang dalam rahim. 

“Penyebab pasti PJB tidak diketahui, namun ada sejumlah faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan PJB pada bayi antara lain infeksi ibu saat hamil, konsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu,” kata dr. Oktavia dalam temu media di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, baru-baru ini.

Dia menambahkan, infeksi rubella, penyakit autoimun atau tokso di masa kehamilan dapat meningkatkan peluang PJB pada bayi. “Demikian pula paparan dari luar misalnya polusi, merokok hingga konsumsi alkohol,” tutur dr. Oktavia.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Peyakit Jantung Bawaan, dr. Oktavia Lilyasari, Sp.JP (K) FIHA (kiri depan) menjelaskan tentang penyakit jantung bawaan pada anak (dok. Berandasehat.id)

Selain itu, persalinan prematur dan kelainan kromosom yang didapat secara genetik juga dapat meningkatkan peluang PJB. “Penyebab PJB masih misterius, dan jumlahnya cukup banyak,” tuturnya.

Gejala PJB mencakup kulit kebiruan (sianosis), sesak napas, mudah lelah, pertumbuhan terhambat, dan bengkak pada tungkai atau perut. “Sekitar 30 persen pasien PJB itu kritis kalau tak selekasnya ditangani bisa mengancam nyawa,” lanjut dr. Oktavia.

Penanganan PJB bergantung pada jenis dan tingkat keparahannya, dan mungkin memerlukan kolaborasi tim medis yang beragam. “Biasanya yang datang ke RS Harapan Kita kasusnya kompleks, dirujuk dari berbagai rumah sakit di daerah yang tak memiliki spesialis jantung dan alat penanganan yang memadai,” tutur dr. Oktavia.

Meskipun PJB tidak selalu bisa dicegah, beberapa langkah dapat mengurangi risikonya. Untuk meminimalkan PJB, dr. Oktavia menekankan pentingnya pencegahan dengan menjaga kesehatan ibu hamil dan menghindari faktor risiko. 

“Kalau ada ibu hamil yang pernah memiliki anak dengan PJB, itu harus dipantau, karena ada kemungkinan bayi yang dikandung selanjutnya juga berisiko memiliki kelainan jantung bawaan, peluangnya hingga 3 persen,” tegasnya.

Untuk kasus semacam ini, ibu hamil diminta kontrol teratur kepada dokter kandungan. Apabila situasi bayinya kritis saat dilahirkan karena mengidap PJB, bisa dilakukan tindakan segera oleh spesialis jantung.

Kesempatan sama, Head of Communication Yayasan Jantung Indonesia, Iwet Ramadhan, menyoroti tentang penyakit jantung pada anak dalam kunjungannya ke bangsal perawatan jantung anak di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, belum lama ini.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh YJI, ada sekitar 50.000 bayi yang lahir dengan penyakit jantung bawaan setiap tahun. “Dari jumlah itu, hanya 7.500 yang mendapat penanganan. Ini menjadi salah satu alasan mengapa Yayasan Jantung Indonesia berusaha untuk bisa membantu anak-anak dengan penyakit jantung bawaan. Anak itu nggak cuma harapan orang tua, tapi harapan bangsa juga,” tutur Iwet.

Dia menambahkan, YJI juga menyoroti perihal penyakit jantung rematik pada anak yang masih kurang banyak diketahui masyarakat. Disebabkan kuman Streptococcus yang berada di kulit manusia, dan dengan mudah bisa masuk ke tubuh jika tidak menjaga kebersihan, semudah mencuci tangan sebelum makan.

Berbagai literatur menyebut, penyakit jantung rematik berawal dari infeksi bakteri Streptococcus pyogenes yang tidak diobati dengan tuntas, misalnya untuk infeksi tenggorokan/radang. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh, sebagai respons terhadap infeksi, keliru menyerang jaringan jantung, yang bisa memicu  penyakit jantung rematik.

“Makanya jangan abaikan batuk pada anak, pengobatannya harus tuntas, karena bisa memicu penyakit jantung rematik,” beber Iwet.

Iwet menuturkan, YJI mendapat arahan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk kian menggencarkan skrining penyakit jantung rematik, khususnya pada anak-anak.

Don’t Miss A Beat

Memperingati Hari Jantung Sedunia yang jatuh di pengujung September tiap tahunnya, Yayasan Jantung Indonesia (YJI) mengangkat tema global tahun ini, “Don’t Miss A Beat”.

Tema ini merupakan seruan yang mendalam bagi setiap individu untuk lebih peka mendengarkan tubuh, melakukan pencegahan dini, aktif bergerak, serta memperkuat kepedulian terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekat sebagai fondasi kesehatan jantung.

Head of Communication Yayasan Jantung Indonesia, Iwet Ramadhan (pakaian batik), berbincang dengan keluarga pasien di bangsal penyakit jantung anak di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (dok. Berandasehat.id)

“Don’t Miss A Beat’ adalah pengingat agar kita tidak melewatkan satu detak pun untuk menyayangi jantung kita. Setiap detak adalah anugerah kehidupan yang harus dijaga,” ujar Ketua Umum Yayasan Jantung Indonesia, Annisa Pohan Yudhoyono, dalam keterangan tulis.

Untuk mewujudkannya, YJI mengajak seluruh masyarakat menerapkan Panca Usaha Jantung SEHAT, sebuah akronim mudah yang mencakup langkah-langkah holistik: Seimbangkan Gizi, Enyahkan Rokok, Hindari dan Atasi Stres, Awasi Tekanan Darah, serta Teratur Berolahraga.

Iwet menambahkan, pemeriksaan kesehatan rutin, khususnya tekanan darah dan gula darah, menjadi indikator krusial kesehatan jantung dengan deteksi dini.

“Deteksi dini dapat mencegah komplikasi serius. Untuk itu, YJI secara konsisten menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat melalui pemeriksaan kardiovaskular keliling,” tandasnya. (BS)