Berandasehat.id – Diperkirakan hampir separuh orang dewasa berusia 65 tahun ke atas hidup dengan pradiabetes, suatu kondisi yang membuat mereka rentan terkena diabetes tipe 2 dan meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular.
Kini, sebuah studi dari University at Buffalo yang diterbitkan dalam jurnal Aging telah meneliti bagaimana berbagai faktor risiko sosial pada lansia dengan pradiabetes dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular.
“Selain risiko perkembangan menjadi diabetes tipe 2 yang lebih tinggi pada lansia dengan pradiabetes, terdapat pula hubungan yang kuat dengan komplikasi kardiovaskular,” kata Obinna Ekwunife, Ph.D., penulis utama dan asisten profesor kedokteran di Jacobs School of Medicine and Biomedical Sciences di Universitas Buffalo.
Dia menambahkan, lansia sering menghadapi berbagai tantangan sosial dan kesehatan tumpang tindih yang dapat mempercepat buruknya hasil kesehatan kardiovaskular, sehingga penting untuk memahami bagaimana faktor risiko sosial berkontribusi.
Penelitian ini didasarkan pada Studi Kesehatan dan Pensiun Universitas Michigan yang melibatkan 5.086 orang dewasa berusia 50 tahun ke atas dengan pradiabetes.
Lima domain risiko sosial yang diteliti adalah stabilitas ekonomi, lingkungan, pendidikan, perawatan kesehatan, dan konteks sosial.
Faktor risiko kardiovaskular meliputi kontrol gula darah yang terlihat pada rata-rata 90 hari yang dikenal sebagai HbA1c, tekanan darah sistolik, dan rasio kolesterol.

Para peneliti UB menilai hubungan antara faktor risiko sosial dan luaran kardiovaskular ini setelah menyesuaikan usia, jenis kelamin, ras, dan status perkawinan.
“Studi kami menemukan bahwa pendidikan yang terbatas, didefinisikan sebagai mereka yang tidak lulus SMA, secara konsisten memprediksi hasil yang lebih buruk di ketiga indikator kardiometabolik utama: kontrol glikemik, tekanan darah, dan kolesterol,” kata Ekwunife.
Hal ini menjadikan pendidikan sebagai faktor risiko sosial yang sangat kuat, bahkan ketika risiko lain seperti tekanan finansial atau kurangnya asuransi juga dipertimbangkan.
Studi ini juga menemukan bahwa meskipun tingkat pendidikan rendah merupakan faktor tunggal yang paling kuat, ketidakstabilan ekonomi juga merupakan faktor risiko yang signifikan untuk hasil kardiovaskular yang lebih buruk.
Ekwunife menjelaskan bagaimana tingkat pendidikan dapat memengaruhi kesehatan secara saling terkait.
Tingkat pendidikan yang lebih rendah dapat membatasi pendapatan dan peluang kerja, meningkatkan paparan terhadap lingkungan yang penuh tekanan atau tidak sehat, dan mengurangi literasi kesehatan.
“Kombinasi ini mempersulit pemahaman dan kepatuhan terhadap rencana pencegahan atau pengobatan, penyediaan makanan yang lebih sehat, dan akses terhadap sumber daya, yang pada akhirnya memperburuk hasil kesehatan kardiovaskular,” tutur Ekwunife.
Bagi lansia, ia mencatat, mitigasi jelas bukan berarti kembali bersekolah, melainkan memastikan mereka menerima informasi dan perawatan dengan cara yang jelas dan mudah diakses.
Strategi yang dibahas dalam makalah ini meliputi:
* Pendidikan kesehatan yang disederhanakan dan sesuai budaya.
* Program dukungan sebaya dan komunitas untuk memperkuat perilaku sehat. Para peneliti mencatat bahwa intervensi pencegahan diabetes yang disesuaikan untuk kelompok berisiko tinggi, seperti mereka yang memiliki pendidikan atau sumber daya ekonomi terbatas, sangat penting untuk menjembatani kesenjangan kesetaraan kesehatan.
* Penggunaan teknologi dan navigator kesehatan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan.
* Intervensi kebijakan, seperti memasukkan pradiabetes dalam program keringanan Medicaid yang menyediakan layanan pendukung.
“Dokter harus menyadari bahwa risiko sosial, terutama pendidikan rendah, bukan hanya faktor sosiodemografis, tetapi juga pendorong aktif hasil kesehatan yang buruk pada pradiabetes,” simpul Ekwunife.
Skrining kebutuhan sosial, penyesuaian komunikasi, dan menghubungkan pasien dengan sumber daya dapat membuat perbedaan nyata.
Bagi pasien yang lebih tua, pesan utamanya adalah bahwa penanganan pradiabetes lebih dari sekadar pengobatan dan gaya hidup; meminta dukungan, klarifikasi, dan sumber daya sama pentingnya dengan perawatan medis, demikian MedicalXpress. (BS)