Berandasehat.id – Ada cara baru untuk mengobati gejala asma dan bahkan memperbaiki kerusakan paru yang sebelumnya tidak dapat dipulihkan. Harapan ini bakal segera hadir menyusul penemuan target terapi baru yang potensial oleh para ilmuwan di Universitas Aberdeen dan Manchester.

Perawatan asma saat ini sebagian besar melibatkan pengendalian peradangan jaringan paru menggunakan inhaler steroid. Namun, empat orang meninggal setiap hari di Inggris akibat komplikasi terkait asma.

Kini, tim peneliti telah menyelidiki jaringan parut yang terjadi pada jaringan paru sebagai akibat dari asma dan telah mampu membalikkan perubahan ini pada model hewan.

Meskipun masih dalam tahap awal pengembangan, temuan yang dipublikasikan di Science Immunology membuka jalan bagi cara baru untuk mengobati tidak hanya asma, tetapi juga banyak penyakit berbeda di mana perubahan struktural serupa terjadi pada jaringan.

Penyakit-penyakit tersebut termasuk kondisi seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), penyakit jantung kronis dan sirosis hati dan menyumbang sekitar 40% kematian di seluruh dunia.

Asma memengaruhi lebih dari 7 juta orang di Inggris, dan asma yang parah dapat berdampak sangat merugikan pada kualitas hidup seseorang.

Bahkan ketika diobati, asma dapat berakibat fatal dan data terbaru menunjukkan bahwa asma berkontribusi terhadap 1.465 kematian di Inggris pada tahun 2022, terlepas dari tersedianya perawatan baru yang bertujuan untuk meredam peradangan di paru.

Namun, selain peradangan, asma juga mengakibatkan apa yang sebelumnya dianggap sebagai perubahan struktural paru yang ireversibel (tidak bisa pulih).

Perubahan ini termasuk membuat paru lebih kaku dan lebih banyak jaringan parut melalui peningkatan hal-hal seperti ‘kolagen matriks ekstraseluler’.

Dengan menggunakan model hewan yang memiliki ciri-ciri asma parah pada manusia, para peneliti menemukan bahwa mencegah peradangan saja tidak cukup untuk membalikkan jaringan parut ini.

Sebaliknya, mereka menemukan bahwa memblokir aksi molekul protein spesifik yang sangat terkait dengan peradangan dan kerusakan jaringan secara luar biasa membalikkan jaringan parut di paru.

Dr. Tara Sutherland, dosen Imunologi, yang memimpin penelitian di Universitas Aberdeen, bersama para kolaborator di Universitas Manchester, menjelaskan obat-obatan yang menghambat peradangan pada asma sangat penting untuk mengelola penyakit ini.

Namun, obat-obatan ini mungkin tidak selalu cukup untuk mencegah dan memulihkan kerusakan paru-paru yang ditemukan pada asma berat.

“Temuan kami menunjukkan bahwa kita juga perlu mempertimbangkan bahwa perubahan struktural paru terjadi pada asma berat dan bahwa perubahan ini dapat terjadi secara independen dari jalur peradangan,” ujarnya.

Pemahaman yang lebih baik tentang perubahan struktural ini dan konsekuensinya terhadap kesehatan paru dapat mengarah pada pengembangan terapi baru yang bermanfaat bagi penderita asma berat, terutama yang berpotensi digunakan bersama obat-obatan yang menghentikan peradangan.

Meskipun merupakan langkah awal dalam proses yang panjang, studi terbaru ini menunjukkan kemungkinan pengobatan baru yang berpotensi mencegah perkembangan penyakit dan bahkan memulihkan jaringan parut pada asma dan banyak penyakit lain di mana fibrosis akibat pembentukan matriks yang tidak teratur diperkirakan menjadi penyebab sekitar 40% kematian di seluruh dunia.

James Parkinson, peneliti dari Divisi Imunologi dan Imunitas terhadap Infeksi dan Kedokteran Pernapasan di Universitas Manchester yang berkolaborasi dalam proyek ini, menambahkan studi ini menambah pemahaman kita tentang bagaimana asma berkembang.

“Penelitian ini juga memperkuat pentingnya mempertimbangkan semua aspek remodeling saluran napas saat mengevaluasi potensi terapi di masa mendatang,” tandasnya. (BS)