Berandasehat.id – Diabetes tipe 2 yang dulunya dianggap sebagai penyakit yang muncul pada orang dewasa, meningkat pada tingkat yang mengkhawatirkan pada anak-anak dan remaja. Data menunjukkan, sebelum pertengahan 1990-an, hanya 1% hingga 2% remaja mengidap diabetes. Saat ini, angka itu telah meroket menjadi antara 24% dan 45%, dengan usia rata-rata diagnosis berkisar sekitar 13 tahun.

Tren yang meresahkan ini erat kaitannya dengan peningkatan obesitas anak yang sedang berlangsung. Sementara genetika, pola makan, dan aktivitas fisik semuanya berperan dalam risiko diabetes tipe 2, penelitian baru dari Charles E. Schmidt College of Medicine di Florida Atlantic University menyoroti faktor kunci lain dalam risiko diabetes, yaitu lokasi tempat tinggal.

Para peneliti melakukan studi skala besar untuk mengeksplorasi bagaimana diabetes tipe 2 muncul pada anak-anak. Dengan menggunakan data dari Survei Kesehatan Anak Nasional yang mencakup tahun 2016 hingga 2020, tim tersebut berfokus pada subkelompok anak-anak sejak lahir hingga usia 5 tahun, sebuah demografi yang jarang dipelajari dalam penelitian diabetes tipe 2.

Studi tersebut menganalisis respons dari pengasuh lebih dari 174.000 anak di seluruh negeri, termasuk hampir 50.000 anak dalam kelompok anak usia dini. Para peneliti tidak hanya memeriksa pola makan dan aktivitas fisik tetapi juga pengaruh yang lebih luas seperti kondisi lingkungan sekitar, kesehatan pengasuh, ketahanan pangan, dan partisipasi dalam program bantuan pemerintah.

Tujuan studi untuk lebih memahami bagaimana pengalaman dan lingkungan kehidupan awal dapat membentuk risiko mengembangkan diabetes tipe 2.

Hasil riset yang diterbitkan dalam jurnal Pediatric Research, menemukan bahwa meskipun prevalensi diabetes tipe 2 secara keseluruhan pada anak di bawah usia 5 tahun tetap rendah dan relatif stabil selama periode lima tahun, perkembangan penyakit tersebut tampaknya lebih terkait dengan faktor sosial dan lingkungan daripada perilaku individu saja.

Karakteristik lingkungan sekitar dan rumah tangga tertentu tampak menonjol. Misalnya, pada tahun 2016 hingga 2020, keberadaan perpustakaan di dekat rumah secara signifikan berkaitan dengan diagnosis diabetes tipe 2 pada anak. Hubungan ini diperkirakan mencerminkan pola lingkungan dan perilaku yang lebih luas yang mendorong aktivitas menetap di dalam ruangan daripada aktivitas fisik di luar ruangan.

Perpustakaan cenderung mencerminkan lingkungan yang lebih urban dibandingkan dengan area dengan tingkat kemudahan berjalan kaki dan ruang hijau yang tinggi di lingkungan tersebut.

“Penelitian telah menunjukkan bahwa lingkungan lingkungan – seperti keberadaan trotoar, taman, atau ruang hijau lainnya – dapat secara langsung memengaruhi kemampuan anak untuk melakukan aktivitas fisik, dan pada gilirannya, memengaruhi risiko mereka terkena penyakit kronis seperti diabetes tipe 2,” kata Lea Sacca, Ph.D., penulis senior dan asisten profesor kesehatan populasi di Schmidt College of Medicine.

Para pengasuh juga semakin banyak melaporkan masalah lingkungan seperti sampah dan vandalisme. Kekhawatiran lingkungan ini terus meningkat antara tahun 2016 hingga 2020 dan terlihat jelas di seluruh sampel secara keseluruhan dan kelompok usia termuda.

Hubungan penting lainnya yang muncul pada anak usia dini termasuk menerima bantuan dari tetangga pada tahun 2016 dan kemudahan berjalan kaki di lingkungan sekitar pada tahun 2019.

Temuan studi juga menunjukkan bahwa pada tahun 2017, akses ke makanan gratis atau berbiaya rendah menunjukkan hubungan yang serupa dengan karakteristik lingkungan dan rumah tangga. Dari tahun 2019 hingga 2020, terdapat peningkatan yang nyata dalam penggunaan program bantuan pemerintah seperti kupon makanan, paket makanan gratis, dan bantuan tunai. Meskipun program-program ini dapat membantu mengatasi kerawanan pangan, dampaknya terhadap kualitas gizi lebih rumit. (BS)