Berandasehat.id – Kehilangan gigi dapat dikaitkan dengan risiko kesehatan yang serius pada lansia. Sebuah tim peneliti Tiongkok menganalisis data dari 8.073 peserta lansia dan menemukan bahwa orang yang kehilangan gigi lebih cepat memiliki risiko kematian yang lebih tinggi, terlepas dari berapa banyak gigi yang mereka miliki sejak awal.
Para peneliti menekankan perlunya memantau secara ketat perkembangan kehilangan gigi di kalangan lansia, karena merupakan indikator penting dari penurunan fisiologis yang lebih luas.
Kebiasaan yang dapat diubah seperti menyikat gigi secara teratur, menghindari merokok, dan pemeriksaan gigi rutin memainkan peran kunci dalam seberapa cepat gigi tanggal.
Studi menunjukkan bahwa perawatan mulut yang konsisten dapat menurunkan angka kematian di kalangan lansia dengan gigi tanggal.
Menjadikan kesehatan mulut sebagai fokus yang lebih kuat dari upaya kesehatan masyarakat dapat menjadi cara mudah untuk meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan, saran studi yang diterbitkan dalam BMC Geriatrics.
Tak pandang usia, kesehatan mulut merupakan masalah utama pada manusia di seluruh dunia. Pada tahun 2022, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merilis ‘Laporan Status Kesehatan Gigi dan Mulut Global’ yang menunjukkan bahwa hampir separuh populasi dunia (~3,5 miliar orang) memiliki beberapa bentuk penyakit gigi. Laporan ini menyoroti kehilangan gigi sebagai salah satu masalah yang paling umum.

Meskipun kehilangan gigi seiring bertambahnya usia sering kali tidak dapat dihindari, dampaknya bisa sangat luas. Kehilangan gigi tidak hanya memengaruhi kualitas hidup dengan mempersulit mengunyah dan menikmati makanan, tetapi juga dikaitkan dengan tingkat kematian yang lebih tinggi – bukan hanya kematian secara keseluruhan, tetapi juga dari penyebab spesifik seperti penyakit jantung, kanker paru, dan pneumonia.
Sebagian besar penelitian yang meneliti hubungan antara kehilangan gigi yang lebih cepat dan risiko kematian berfokus pada pengukuran jumlah gigi pada satu titik waktu, tanpa memperhitungkan perubahan dari waktu ke waktu.
Studi ini merupakan yang pertama kali mengkaji secara komprehensif hubungan antara kehilangan gigi seiring waktu dan mortalitas pada kelompok besar lansia.
Selama 3,5 tahun, tim peneliti mempelajari 8.073 lansia berusia 73 hingga 91 tahun. Mereka melacak seberapa cepat partisipan kehilangan gigi seiring waktu, dengan mengukurnya sebagai rata-rata jumlah gigi yang hilang per tahun.
Berdasarkan pola kehilangan gigi, partisipan dibagi menjadi empat kelompok: stabil (tidak ada gigi yang hilang per tahun), kehilangan lambat (lebih dari nol tetapi kurang dari dua gigi yang hilang per tahun), kehilangan sedang (dua hingga kurang dari empat gigi yang hilang per tahun), dan kehilangan cepat (4 gigi atau lebih yang hilang per tahun).
Data tersebut kemudian dimasukkan ke dalam analisis regresi Cox (metode statistik yang memperhitungkan risiko relatif suatu kejadian) untuk menentukan apakah kehilangan gigi yang lebih cepat berkaitan dengan risiko mortalitas yang lebih tinggi.
Tim peneliti menemukan bahwa mereka yang kehilangan gigi cepat memiliki risiko kematian 33% lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak kehilangan gigi sama sekali. Selain itu, dengan setiap kehilangan gigi per tahun, risikonya meningkat sebesar 4%.
Para peneliti mencatat bahwa investigasi lebih lanjut mengenai mekanisme yang mendasari hubungan ini diperlukan untuk mengembangkan intervensi yang efektif. Hingga saat itu, meningkatkan kesadaran akan risiko kesehatan tersembunyi dari kehilangan gigi yang cepat di kalangan tenaga kesehatan dan masyarakat umum dapat sangat membantu dalam mendorong perubahan kebiasaan, demikian laporan Science x Network. (BS)