Berandasehat.id – Meskipun sebagian besar bersifat jinak, nodul tiroid dapat menimbulkan keluhan seperti benjolan di leher, rasa tak nyaman saat menelan, suara serak hingga masalah kesehatan lain yang dapat memengaruhi kualitas hidup.

Nodul tiroid merupakan benjolan atau pertumbuhan abnormal pada kelenjar tiroid yang dapat bersifat jinak atau ganas. “Nodul ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya pertumbuhan jaringan tiroid (adenoma tiroid) berlebih yang umumnya bukan kanker dan tidak berbahaya, kecuali ukurannya menimbulkan gejala atau menyebabkan hipertiroid,” terang dr. M. Ikhsan Mokoagow, MMedSci, Sp.PD, Subsp. E.M.D, FINASIM, FACE Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes RS Pondok Indah – Puri Indah.

Selain itu, nodul tiroid juga dapat disebabkan oleh adanya kista tiroid, umumnya berasal dari adenoma yang mengalami kerusakan dan berisi cairan. “Namun sebagian kista tiroid juga memiliki komponen padat yang berpotensi menjadi ganas,” ujar dr. Ikhsan.

Kondisi lain yang dapat menyebabkan nodul tiroid adalah gondok multinodular, yaitu pembesaran kelenjar tiroid yang memiliki lebih dari satu nodul. Gondok multinodular juga sering dikaitkan dengan kekurangan yodium atau gangguan fungsi tiroid.

dr. M. Ikhsan Mokoagow, MMedSci, Sp.PD, Subsp. E.M.D, FINASIM, FACE Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes

Nodul tiroid juga dapat menjadi indikasi adanya kanker tiroid. Meski kemungkinan nodul yang bersifat kanker relatif kecil, tetapi risikonya meningkat jika seseorang memiliki riwayat keluarga dengan kanker tiroid atau paparan radiasi.

Gejala nodul tiroid bervariasi, mulai dari tidak ada gejala sama sekali hingga gejala kesulitan menelan atau perubahan suara. Untuk mendiagnosis nodul tiroid, umumnya dilakukan pemeriksaan fisik, tes darah, serta pencitraan seperti USG dan biopsi.

Penanganan nodul tiroid tergantung pada jenis dan ukuran nodul, serta gejala yang dialami pasien, serta ganas atau tidaknya nodul tersebut.

Nodul jinak yang telah dipastikan melalui biopsi yang dapat ditangani dengan radiofrekuensi ablasi, prosedur medis minimal invasif menggunakan energi gelombang radio untuk memanaskan dan menghancurkan jaringan yang tidak diinginkan, seperti tumor atau benjolan.

Menurut dr. Ikhsan, nodul jinak berukuran 1 hingga 4 cm dapat ditangani dengan efektif melalui metode radiofrekuensi ablasi. “Untuk nodul yang lebih besar, dilakukan secara bertahap,” imbuhnya.

Kelebihan teknik radiofrekuensi ablasi antara lain menghancurkan jaringan nodul tanpa merusak seluruh kelenjar tiroid, sehingga fungsi hormon umumnya tetap terjaga sehingga pasien tidak memerlukan terapi pengganti hormon seperti yang umum diberikan pasca operasi pengangkatan tiroid.

Apabila nodul membesar kembali atau ada lebih dari satu nodul, prosedur dapat diulang tanpa risiko jaringan parut seperti pada operasi.

Selain itu, radiofrekuensi ablasi juga menjadi pilihan terapi yang efektif untuk pasien dengan toxic adenoma, yaitu nodul tiroid yang aktif secara hormonal dan menyebabkan gejala hipertiroid ringan hingga sedang.

Bagi pasien yang secara medis tidak memungkinkan untuk menjalani operasi, atau merasa khawatir dengan risiko pembedahan, radiofrekuensi ablasi menjadi solusi yang lebih efektif dalam mengendalikan aktivitas nodul toksik tanpa sayatan.

Menurut dr. Ikhsan, keunggulan radiofrekuensi ablasi dibandingkan dengan tindakan pembedahan cukup signifikan. “Prosedur ini tidak meninggalkan bekas luka sayatan karena hanya menggunakan jarum kecil. Pasien umumnya dapat kembali beraktivitas normal dalam waktu 1–2 hari setelah tindakan,” tuturnya.

Tindakan radiofrekuensi ablasi juga memiliki risiko komplikasi yang sangat rendah, seperti perdarahan, infeksi, atau gangguan pita suara. Dengan demikian teknik ini menjadi alternatif terapi yang memberikan hasil klinis yang optimal dengan tetap mempertahankan kualitas hidup pasien. (BS)