Berandasehat.id – Kecacatan bahkan kematian akibat stroke yang terus meningkat menjadi keprihatinan bersama. Menurut data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi stroke di Indonesia mencapai 8,3 per 1.000 penduduk.
Terkait prevalensi stroke di Nusa Tenggara Timur (NTT), menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), sejumlah kabupaten menunjukkan angka cukup tinggi, seperti Sikka (9%), Manggarai (8%) dan Kupang (6%). Dengan kondisi akses layanan kesehatan masih terbatas, hal ini dapat menambah risiko keterlambatan penanganan dan meningkatkan angka kecacatan, bahkan kematian, akibat stroke.
Staf Ahli Gubernur NTT Bidang Kesejahteraan Rakyat, Ady Enderson Mandala, mengatakan dengan kondisi geografis kepulauan, masyarakat NTT tersebar di pulau-pulau kecil dan desa yang belum terjangkau sarana dan prasarana yang memadai, penanganan stroke memang masih menjadi hal menantang.
“Pemprov NTT terus berupaya meningkatkan layanan kesehatan. Peringatan World Stroke Day 2025 nasional yang dipusatkan di Kupang bukan hanya seremonial belaka, tapi bagian dari konsolidasi, implementasi kebijakan di bidang kesehatan ke arah lebih baik,” ujar Ady Enderson di acara puncak peringatan World Stroke Day 2025 tingkat nasional di Kupang, NTT, yang berlangsung 13-16 November 2025.
Lebih lanjut dia mengatakan, pada 2024 sebanyak 80-90 persen kasus stroke di masyarakat NTT akibat penyumbatan (stroke iskemik), dan rentang usia yang terkena serangan di kisaran 40 tahun ke atas.
“Karena stroke bisa dicegah, Pemprov NTT terus melakukan edukasi agar masyarakat menjalankan gaya hidup sehat, mendorong cek tekanan darah, gula darah dan cek kolesterol berkala. Masih banyak warga NTT yang merokok dan minum miras, dari sisi kesehatan ini merugikan, karenanya kami dorong edukasi berhenti merokok dan hindari asap rokok,” terang Ady.

Selain itu, melalui nakes juga dilakukan edukasi mengenai pentingnya melakukan aktivitas fisik, seperti jalan pagi, bersepeda, atau jalan cepat setidaknya 150 menit per minggu. Edukasi juga dilakukan dengan mendorong pola makan seimbang, kurangi konsumsi daging dan lebih banyak mengonsumsi ikan sebagai protein hewani yang lebih sehat. “NTT punya sumber daya ikan, namun belum dimanfaatkan optimal. Masyarakat kebanyakan lebih suka mengonsumsi daging,” ujarnya.
Terlepas dari letak geografis yang menantang, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni), Dr. dr. Dodik Tugasworo, Sp.N (K) mengapresiasi upaya Pemprov NTT untuk meningkatkan penanganan stroke dengan mengirim sumber daya dokter umum menempuh pendidikan spesialis neurologi.
Lebih dari 20 orang dokter dari NTT saat ini menjalani PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) di beberapa center pendidikan di Indonesia.
“Saat ini ada 22 neurolog di NTT, namun belum merata, masih ada 6 kabupaten yang belum ada dokter spesialis sarafnya. Ini menjadi hal menantang, mengingat letak demografis berupa pulau-pulau yang jauh bisa menyebabkan penanganan stroke menjadi tidak optimal, sehingga time is brain belum tercapai,” ujarnya.
Untuk meningkatkan layanan terhadap penanganan stroke, dia berharap PPDS yang saat ini menempuh pendidikan spesialis neurologi akan kembali ke NTT agar persebaran neurolog lebih merata.
Kesempatan sama, Ketua Kolegium Neurologi Prof. Dr. dr. Syahrul Sp.N(K) menyampaikan, saat ini ada 19 Pusat Pendidikan Neurologi, satu berbasis RS, yaitu Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, dan 18 berbasis Universitas.
Dia menekankan bahwa Indonesia Timur menjadi fokus pemerataan dokter spesialis neurologi, mengingat neurolog di wilayah ini, termasuk NTT, masih kurang. “Sekarang neurolog NTT ada 22 orang. Agar persebaran dan rasionya merata, masih butuh 75 neurolog lagi. Kita berharap putra daerah yang menjalani PPDS Neurologi bisa kembali ke NTT,” tutur Prof Syahrul.
Menurutnya, PPSD bisa terwujud jika ada dukungan dari Pemprov/Pemkab. “Dengan demikian diharapkan sumber daya NTT bisa meningkat secara kuantitas dan kualitas,” tuturnya.
Prof Syahrul juga mendorong adanya dokter spesialis neurologi neurointervensi yang memiliki subspesialisasi dalam prosedur medis minimal invasif untuk mendiagnosis dan mengobati gangguan pada sistem saraf pusat, seperti stroke dan aneurisma.
Neurointervensi berfokus pada penanganan kelainan di otak dan sumsum tulang belakang, terutama yang melibatkan pembuluh darah, menggunakan teknik seperti kateterisasi, embolisasi, atau trombektomi.
Selain neurolog, Prof Syahrul mengatakan rumah sakit juga perlu alat yang memadai untuk menunjang penanganan stroke. “Neurolog bisa tingkatkan kemampuan neurointervensi dengan cath lab, sehingga bisa ambil sumbatan-sumbatan penyebab stroke. Itu alatnya harus tersedia di RS. Dengan adanya perlengkapan RS yang memadai, mudah-mudahan layanan neurologi khususnya stroke bisa lebih baik,” tandasnya.
Cath lab merupakan singkatan dari catheterization laboratory, yaitu sebuah ruangan khusus di rumah sakit untuk diagnosis dan intervensi non-bedah penyakit jantung dan pembuluh darah. Di sini, dokter menggunakan alat kateter untuk memeriksa kondisi seperti penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah dan melakukan tindakan seperti pemasangan cincin jantung (stent).
Dalam sesi diskusi Ketua Umum Perdosni mengingatkan pentingnya mencegah agar jangan sampai stroke. “Kena stroke itu madesu (masa depan suram). Makanya preventif promotif menjadi hal penting. Mari kita bersama-sama perangi dan menekan insiden stroke agar otak sehat negara kuat,” pungkas Dr. Dodik. (BS)