Berandasehat.id – Bagi orang yang sudah mencoba segala cara untuk turun berat badan atau memangkas lemak namun tak kunjung membuahkan hasil, mungkin liposuction menjadi pertimbangan sebagai cara cepat menjadi kurus.

Disadari atau tidak, liposuction kerap disalahpahami sebagai cara cepat untuk turun berat badan tanpa banyak usaha, padahal tidak demikian. Menurut dokter spesialis bedah plastik rekonstruktif dan estetik yang berpraktik di RS Pondok Indah, dr. Ida Bagoes Insani M.M., MARS, Sp. B.P.R.E., liposuction bukan tujuan utama turun berat badan, apalagi menggantikan peran olahraga dan gaya hidup sehat. “Liposuction tak bisa menggantikan olahraga atau gaya hidup sehat,” ujarnya dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Setelah tindakan liposuction, pasien tidak begitu saja bebas makan sembarangan dan meninggalkan olahraga. “Kalau polanya seperti ini, lemak tubuh yang dibuang dari liposuction bisa kembali lagi,” ujar dr. Bagoes.

Lebih lanjut dr. Bagoes menyampaikan prosedur liposuction membantu ‘mem-bypass’ hal yang paling sulit yakni membuang lemak. Tapi  hasil tindakan ini tak bisa dipertahankan jika tak diimbangi gaya hidup sehat. “Agar liposuction bertahan lama harus diimbangi dengan olahraga teratur, makan tinggi protein, rendah lemak, serta aktivitas fisik harian harus cukup,” bebernya.

dr. Ida Bagoes Insani M.M., MARS, Sp. B.P.R.E dokter spesialis bedah rekonstruktif dan estetik (dok. Berandasehat.id)

Sebelum tindakan liposuction, pasien perlu memahami tujuannya dan cara mempertahankan agar lemak yang sudah hilang itu tidak kembali lagi.

Untuk membantu pasien memahami prosesnya secara lebih konkret, prosedur liposuction di RS Pondok Indah menggunakan Dexa Scan, sebelum maupun setelah tindakan, untuk memonitor data visual tentang persentase lemak tubuh. “Ini bisa memberi dorongan psikologis kuat bagi pasien. Kalau sebelum liposuction lemak tubuhnya di kisaran 34 persen, setelah tindakan menjadi 26 persen, mereka akan merasa sayang jika hasil itu hilang dan berusaha menjaga gaya hidup sehat agar lemak tak kembali,” terang dr. Bagoes.

Pemantauan berbasis data ini terbukti membuat pasien lebih disiplin dalam menjaga gaya hidupnya, menurut pengalaman dr. Bagoes dalam menangani pasien liposuction. Pasien yang menjalani prosedur ini tidak mengalami rebound (kembali gemuk) dari sebelum tindakan, alias memiliki berat badan stabil.

Sebelum tindakan liposuction, setiap pasien harus melalui proses skrining  ketat demi keamanan, berupa pemeriksaan fisik, laboratorium, rekam jantung, rontgen, hingga konsultasi spesialis dilakukan untuk memastikan tubuh benar-benar siap. 

Dan perlu dicatat, Tak semua orang dapat menjalani liposuction. “Pasien dengan diabetes atau hipertensi yang tidak terkontrol, penyakit jantung berat, pengguna pengencer darah, ibu hamil, maupun ibu menyusui harus menunda prosedur ini,” ujar dr. Bagoes.

Perlu diketahui, hasil liposuction pun tidak sama pada setiap pasien, tergantung sejumlah hal, termasuk usia. Pasien usia 20-an umumnya memiliki kulit lebih elastis sehingga lebih mudah kembali menempel setelah lemak diambil. Sementara pada usia 50-an, kulit cenderung mengendur.

Namun tak perlu cemas, berkat teknologi laser-assisted liposuction membantu mengencangkan kulit agar tidak bergelambir, meskipun pemulihan kulit tetap bergantung pada usia dan kualitas jaringan setiap individu. (BS)