Berandasehat.id – Seperti halnya fisik, kesehatan mental merupakan faktor penting untuk mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik. Sayangnya, tak semua orang mau secara terbuka mengakui mengalami masalah kesehatan mental karena adanya stigma negatif dikatakan ‘lemah’ atau ‘kurang iman’ sehingga memilih menutup diri atau enggan mengungkap hal tersebut.

Kesehatan mental bukan masalah sepele. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, lebih dari 1 miliar orang hidup dengan masalah kesehatan mental, dalam hal ini depresi dan kecemasan menjadi gangguan paling umum. Lembaga dunia itu juga menyebut 1 dari 7 remaja usia 10-19 tahun memiliki masalah kesehatan mental.

Sementara itu, survei yang dilakukan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mengungkap sebanyak 15.5 juta atau sekitar 34.9% remaja mengalami gangguan kesehatan mental.

Terkait kesehatan mental di Indonesia, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengatakan meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja tak bisa dilepaskan dari penggunaan teknologi digital yang kian masif.

Paparan teknologi digital sejak usia dini memiliki keterkaitan dengan meningkatnya masalah kesehatan mental pada kelompok muda.

“Sekitar 2% kelompok usia di atas 15 tahun yang mengalami depresi tercatat pernah mencoba bunuh diri. Sebagian dari mereka juga mengalami psikosis, dan empat dari setiap 1.000 keluarga memiliki anggota dengan masalah kesehatan mental,” ujar Wamenkes di acara seminar ‘Next-Gen Health: Tech, Safety, Mental Health & Community for a Resilient Future’ yang dihelat oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat, Sabtu (6/12).

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono (dok. Ist)

Pemakaian gawai di kalangan anak Indonesia tergolong tinggi. Dante menyebut, dari total 79,8 juta anak di Indonesia, terdapat sekitar 28,65 juta anak berusia tujuh hingga 17 tahun yang menggunakan telepon seluler dan terhubung dengan internet.

Menurutnya, diperlukan pendekatan khusus untuk mengubah perilaku terkait pemakaian gawai dan internet, serta perlunya penanganan melalui pendekatan kesehatan masyarakat yang komprehensif.

Wamenkes Dante menekankan pentingnya peran komunitas dalam penguatan kesehatan mental. Melalui Posyandu, pemerintah melibatkan lebih dari 1,48 juta kader kesehatan di 84.019 desa dan kelurahan untuk memberikan edukasi, deteksi dini, dan pendampingan kesehatan mental bagi anak, remaja, ibu hamil, hingga lansia.

Upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah kesehatan mental di antaranya dengan memperluas akses layanan kesehatan mental dengan dukungan teknologi, misalnya melalui layanan Healing 119 (Healing 119.id) yang menyediakan konsultasi gratis melalui WhatsApp atau telepon.

Dengan fasilitas ini, orang yang mengalami masalah kesehatan mental bisa ‘curhat’ dengan aman dan cuma-cuma.

‎Layanan Healing 119 juga diperkuat oleh tenaga profesional, mulai dari psikolog hingga tenaga medis yang siaga memberi respons cepat.

Melalui penguatan layanan digital ini, Dante berharap stigma terhadap kesehatan mental semakin berkurang dan masyarakat semakin berani mencari bantuan.

Dante menekankan, fondasi kesehatan mental harus dimulai dari keluarga sejak fase awal kehidupan, bahkan sejak konsepsi. “Harus dimulai dari keluarga, dan bukan hanya dari anak-anak, tetapi sejak konsepsi. Kita mencoba membuat ibu dan bapak yang sehat, bahagia, dan siap menghadapi tantangan,” tandasnya.

Menyoroti Trauma Pasca Konflik di Timor Leste

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Timor Leste Flavio Brandao Mendes den Araujo di acara seminar yang sama mengatakan inovasi digital bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi membantu upaya pelayanan kesehatan, tapi juga berpeluang mendatangkan masalah kesehatan mental.

Dia mengatakan, Timor Leste juga melaksanakan digitalisasi dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk menggunakan kecerdasan buatan untuk mendukung pemeriksaan kesehatan mental. Namun, Wamenkes Flavio menekankan teknologi tidak akan sepenuhnya bisa menggantikan peran tenaga kesehatan.

“Teknologi itu cerdas, tapi tidak bisa menggantikan dokter dan perawat. Mental health issues harus dihadapi oleh manusia, bukan teknologi,” katanya.

‎Wamenkes Flávio Brandão mengungkap persoalan kesehatan mental di Timor Leste mayoritas merupakan dampak trauma pascakonflik puluhan tahun silam. “Kesehatan mental di Timor Leste sebenarnya lebih banyak kita lihat dengan isu-isu post conflict trauma. Hari ini baru kami ‘panen’ hasil dari trauma waktu itu, yang kejadiannya mungkin 20 tahun lalu, 30 tahun lalu,” ujarnya.

Timor Leste, menurut Flávio, tidak mengandalkan pendekatan medis semata dalam menangani kesehatan mental. Intervensi dilakukan melalui keluarga dan komunitas kecil. “Dokter ditempatkan di keluarga, di komunitas kecil, supaya mengerti status mental setiap keluarga. Status ekonominya, status kemakmurannya,” tuturnya.

Menurutnya, persoalan sosial dan ekonomi yang tidak ditangani akan memperparah masalah kesehatan mental. Selain itu, Timor Leste juga membutuhkan tenaga psikoterapis dalam jumlah besar untuk memperkuat intervensi individu dan masyarakat.

Wamenkes RI Dante Saksono Harbuwono dan Wakil Menteri Kesehatan Timor Leste Flavio Brandao Mendes den Araujo (dok. Ist)

‎”Yang kita butuh itu psikoterapis, yang tahu bagaimana mengintervensi di individu dan komunitas. Karena banyak yang datang ke rumah sakit, secara fisik sehat, tapi masalahnya ada di mental,” ujar Wamenkes Flavio.

Dalam penguatan layanan kesehatan mental, Timor Leste juga menjalin kerja sama dengan Indonesia, baik dalam layanan suportif maupun paliatif. Flávio mengakui bahwa kesehatan mental masih menjadi ‘wake up call’ dalam pembangunan negaranya. “Ini sesuatu yang kita lupa. Tapi ini wake up call, supaya kita melihat kembali bahwa ternyata masalah mental itu kita lupa intervensi dalam perjalanan kita sebagai negara,” ujarnya lebih lanjut.

Timor Leste, menurut Flavio, mendorong mahasiswa Program Doktoral Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM UI untuk aktif dalam riset ilmiah. “Riset itu diharapkan dapat mendukung kebijakan kesehatan mental nasional berbasis bukti,” tandasnya.  

Seminar yang dihelat mahasiswa Program Doktoral Ilmu Kesehatan Masyarakat FKM menghadirkan pemateri dari Amerika Serikat, Malaysia, Australia, dan Timor Leste dengan bahasan mencakup kecerdasan buatan (AI) untuk layanan kesehatan mental, keselamatan kerja digital, manajemen kelelahan kognitif tenaga kesehatan, hingga transformasi kesehatan berbasis komunitas. (BS)