Berandasehat.id – Bagi pebisnis atau pelancong yang kerap melakukan perjalanan dengan pesawat komersial, sebaiknya lebih hati-hati, terutama terkait minuman yang disajikan selama penerbangan. Sebuah studi yang dirilis awal tahun 2026 menemukan bahwa kualitas air minum dapat sangat bervariasi dari satu maskapai ke maskapai lainnya.
Studi teranyar itu mengungkap banyak maskapai masih gagal memenuhi standar keselamatan federal yang dimaksudkan untuk melindungi penumpang dan awak pesawat.
Studi dari Center for Food as Medicine & Longevity meninjau data pengujian air maskapai penerbangan yang dikumpulkan dari 1 Oktober 2022 hingga 30 September 2025.
Para peneliti mengevaluasi 10 maskapai penerbangan utama dan 11 maskapai penerbangan regional, memberikan masing-masing Skor Keamanan Air mulai dari 0,00 hingga 5,00.
Skor 3,5 atau lebih tinggi mendapatkan nilai A atau B, yang berarti air di dalam pesawat relatif aman.
“Delta Air Lines dan Frontier Airlines memenangkan posisi teratas dengan air teraman di udara, dan Alaska Airlines berada di peringkat ketiga,” kata perwakilan Center for Food as Medicine & Longevity, Charles Platkin, dikutip Healthday.
Sebaliknya, maskapai penerbangan utama dengan skor terendah adalah American Airlines dan JetBlue, menurut studi tersebut.
“Hampir semua maskapai penerbangan regional perlu meningkatkan keamanan air di dalam pesawat, kecuali GoJet Airlines,” imbuh Platkin.

Peraturan Air Minum Pesawat Federal (ADWR), yang berlaku sejak 2011, mewajibkan maskapai penerbangan untuk menyediakan air minum yang aman di dalam pesawat.
Maskapai penerbangan harus secara teratur menguji tangki air untuk bakteri koliform dan kemungkinan E. coli, dan mereka harus mendisinfeksi dan membilas sistem air setiap pesawat beberapa kali per tahun.
Untuk memberi skor pada maskapai penerbangan, para peneliti melihat lima faktor berbobot, termasuk:
* Pelanggaran per pesawat.
* Pelanggaran tingkat kontaminan maksimum untuk E. coli.
* Tingkat tes positif koliform.
* Pemberitahuan publik, serta seberapa sering sistem air didisinfeksi dan dibilas.
Di seluruh maskapai penerbangan yang diteliti, 35.674 lokasi sampel air diuji untuk bakteri koliform. Dari jumlah tersebut, 949 sampel (2,7%) dinyatakan positif.
Studi ini juga mengidentifikasi 32 pelanggaran E. coli di 21 maskapai penerbangan yang dianalisis, faktor terbesar yang menurunkan skor.
Temua studi mencakup:
* Delta Air Lines memperoleh nilai sempurna 5,00 (A).
* Frontier Airlines memperoleh nilai 4,80 (A).
* Alaska Airlines menyusul dengan nilai 3,85 (B).
* GoJet Airlines adalah maskapai regional dengan peringkat tertinggi yaitu 3,85 (B).
* American Airlines berada di peringkat terendah di antara maskapai besar dengan nilai 1,75 (D).
* Mesa Airlines memperoleh nilai 1,35 (Nilai F), terendah di antara maskapai regional.
* CommuteAir memiliki tingkat positif koliform sebesar 33,33%, salah satu yang tertinggi dalam penelitian ini.
Penghargaan ‘Memalukan’ dalam laporan ini diberikan kepada Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA), yang turut bertanggung jawab untuk menegakkan standar keselamatan air pesawat terbang. Sanksi perdata untuk pelanggaran air maskapai penerbangan tetap sangat jarang, catat penelitian tersebut.
Pengujian bakteri koliform penting karena keberadaannya dapat menandakan bahwa organisme penyebab penyakit mungkin juga ada dalam sistem air.
Ketika sampel menunjukkan hasil positif, maskapai penerbangan diharuskan untuk segera melakukan pengujian ulang, mendisinfeksi, membilas, atau mematikan sistem yang terpengaruh, tergantung pada hasilnya.
Karena pesawat mengisi ulang tangki air dari banyak lokasi, termasuk bandara internasional, kualitas air di dalam pesawat juga dapat dipengaruhi oleh selang, truk, dan peralatan transfer lainnya, catat para peneliti.
Hingga sistem air maskapai penerbangan membaik, Center for Food as Medicine & Longevity menawarkan panduan yang jelas bagi para pelancong yang ingin mengurangi risiko. “Jangan pernah minum air di dalam pesawat yang botolnya tidak tertutup rapat,” saran kelompok tersebut.
Lembaga itu juga merekomendasikan untuk menghindari kopi dan teh di dalam pesawat dan menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol dengan setidaknya 60% alkohol sebagai pengganti mencuci tangan dengan air wastafel pesawat. (BS)