Berandasehat.id – Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat meninggalkan dampak besar bagi masyarakat dan infrastruktur.
Kerusakan infrastruktur dan terganggunya layanan kesehatan pascabencana menyebabkan tantangan serius bagi penyandang diabetes yang bergantung pada pengobatan jangka panjang. Gangguan distribusi obat dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan berisiko menghambat keberlanjutan terapi insulin.
Tantangan ini menjadi semakin krusial bagi pasien diabetes tipe 1, khususnya anak dan remaja, yang sepenuhnya bergantung pada insulin untuk bertahan hidup sehingga terapi insulin tidak boleh terputus. Penghentian insulin, bahkan dalam waktu singkat, dapat berakibat fatal dan meningkatkan risiko komplikasi serius selama masa pemulihan pascabencana.
Ketua PB Persadia Dr. dr. K. Heri Nugroho, SpPD, KEMD, FINASIM, menyoroti bahwa pasien diabetes menjadi salah satu kelompok paling rentan akibat terganggunya rantai distribusi obat selama bencana. “Banjir yang melanda beberapa daerah di Sumatra menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan, terputusnya jalur distribusi obat, serta keterbatasan akses pasien terhadap insulin, obat esensial yang tidak boleh terhenti,” bebernya.
Direktur Pengelolaan dan Pelayanan Kefarmasian Kementerian Kesehatan RI Agusdini Banun Saptaningsih mengakui, bencana alam sangat berdampak pada keberlangsungan pengobatan pasien dengan penyakit kronis, termasuk diabetes. “Dalam situasi darurat seperti ini, ketersediaan obat esensial seperti insulin menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda,” ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan terapi insulin bagi pasien diabetes yang terdampak bencana, Novo Nordisk Indonesia mendukung pemulihan layanan kesehatan pascabencana bagi pasien diabetes di Sumatra, melalui program donasi sebanyak 13.700 pen insulin.
Inisiatif ini dijalankan melalui kolaborasi Novo Nordisk dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), Changing Diabetes in Children (CDiC), dan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia).

“Dukungan ini merupakan bagian penting dari respons kesehatan pascabencana, sekaligus upaya untuk mencegah risiko komplikasi akibat terputusnya terapi, khususnya bagi pasien dengan penyakit kronis di wilayah terdampak,” tutur Agusdini.
Ketua PB Persadia Dr. dr. K. Heri Nugroho, SpPD, KEMD, FINASIM, menyoroti bahwa pasien diabetes menjadi salah satu kelompok paling rentan akibat terganggunya rantai distribusi obat selama bencana. “Banjir yang melanda beberapa daerah di Sumatra menyebabkan kerusakan fasilitas kesehatan, terputusnya jalur distribusi obat, serta keterbatasan akses pasien terhadap insulin, obat esensial yang tidak boleh terhenti,” bebernya.
Dari sudut pandang penanganan pasien anak dengan diabetes, Prof. Dr. Aman Bhakti Pulungan selaku Project Lead Changing Diabetes in Childen (CDiC) menekankan, bagi anak dan remaja dengan diabetes tipe 1, terapi insulin merupakan kebutuhan vital yang tidak boleh terputus dalam kondisi apa pun. “Terputusnya akses insulin, bahkan dalam waktu singkat, dapat berakibat fatal dan membahayakan keselamatan mereka,” tuturnya.
Dia menambahkan, di wilayah terdampak bencana, tercatat lebih dari 50 anak dengan diabetes tipe 1 yang membutuhkan insulin dan menghadapi tantangan berlapis, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan hingga ketidakpastian ketersediaan insulin.
“Inisiatif yang dilakukan Novo Nordisk melalui kolaborasi ini membantu memastikan anak-anak dengan diabetes tipe 1 tetap dapat melanjutkan terapi mereka secara aman dan berkelanjutan di tengah situasi darurat dan proses pemulihan pascabencana, karena tidak ada anak yang seharusnya meninggal akibat diabetes,” lanjut Prof Aman.
Donasi insulin ini akan disalurkan secara bertahap melalui mekanisme distribusi nasional yang dikoordinasikan oleh Kemenkes RI. Insulin dari program donasi ini akan dikirimkan oleh distributor resmi Novo Nordisk di Indonesia ke instalasi farmasi nasional/pusat, yang selanjutnya akan mendistribusikan insulin ke fasilitas layanan kesehatan di wilayah terdampak, termasuk rumah sakit dan fasilitas kesehatan rujukan di tingkat daerah, sesuai dengan koordinasi dan arahan Kemenkes RI.
Secara keseluruhan, donasi ini ditujukan untuk menjangkau sekitar 500 pasien diabetes, yang terdiri dari pasien diabetes tipe 1 serta pasien diabetes tipe 2, di kabupaten/kota terdampak pada tiga provinsi di Sumatra.
General Manager Novo Nordisk Indonesia Sreerekha Sreenivasan mengungkap, bencana alam menimbulkan tantangan besar dalam keberlangsungan pengobatan pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes. “Melalui kolaborasi yang erat dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai organisasi yang terlibat, kami berharap donasi insulin ini dapat membantu menjaga keberlanjutan terapi bagi pasien diabetes yang terdampak bencana.” tandasnya. (BS)