Berandasehat.id – Kian banyak bukti bahwa mengonsumsi prebiotik, jenis serat tertentu yang sering ditemukan dalam tumbuhan yang merangsang bakteri baik di usus, dapat membantu menjaga kesehatan mikrobioma/mikroflora usus.
Prebiotik, yang dapat dianggap sebagai makanan untuk mikrobioma, berbeda dari probiotik, yang mengandung mikroorganisme hidup. Keduanya berpotensi bermanfaat bagi kesehatan mikrobioma, tetapi cara kerjanya berbeda.
Para ilmuwan memperkirakan kandungan prebiotik dari ribuan jenis makanan dengan menggunakan literatur yang sudah ada untuk mengetahui makanan mana yang menawarkan kandungan prebiotik tertinggi.
Menurut studi, makanan yang memiliki kandungan prebiotik tertinggi adalah daun dandelion, artichoke Yerusalem, bawang putih, daun bawang, dan bawang bombai.
Selain mendukung mikroba usus, makanan kaya prebiotik mengandung serat dalam jumlah tinggi, yang kurang dipenuhi dalam pola makan ala Barat.
“Mengonsumsi makanan kaya prebiotik telah ditunjukkan oleh penelitian bermanfaat bagi kesehatan,” kata Cassandra Boyd, mahasiswa magister di Universitas Negeri San José yang melakukan penelitian bersama Asisten Profesor John Gieng, PhD.

Makan dengan cara yang meningkatkan kesehatan mikrobioma sambil mengonsumsi lebih banyak serat mungkin lebih mudah dicapai dan diakses daripada yang kita pikirkan selama ini.
Studi telah mengaitkan asupan prebiotik yang lebih tinggi dengan peningkatan regulasi glukosa darah, penyerapan mineral seperti kalsium yang lebih baik, dan penanda peningkatan fungsi pencernaan dan kekebalan tubuh.
Meskipun sebagian besar pedoman diet saat ini tidak menentukan asupan harian yang direkomendasikan untuk prebiotik, International Scientific Association for Probiotics and Prebiotics — sebuah organisasi ilmiah nirlaba yang menetapkan definisi prebiotik yang berlaku saat ini — merekomendasikan asupan 5 gram per hari.
Dalam studinya para peneliti menggunakan temuan ilmiah yang telah dipublikasikan sebelumnya untuk menganalisis kandungan prebiotik dari 8.690 makanan yang terdapat dalam Food and Nutrient Database for Dietary Studies, sebuah sumber daya yang digunakan banyak ilmuwan untuk mempelajari nutrisi dan kesehatan.
Sekitar 37% makanan dalam basis data ditemukan mengandung prebiotik. Daun dandelion, artichoke Yerusalem, bawang putih, daun bawang, dan bawang bombai memiliki jumlah terbesar, berkisar antara sekitar 100-240 miligram prebiotik per gram makanan (mg/g).
Makanan kaya prebiotik lainnya termasuk onion ring, bawang bombai krim, kacang panjang, asparagus, dan sereal Kellogg’s All-Bran, masing-masing mengandung sekitar 50-60 mg/g.
Boyd mengungkap, temuan dari tinjauan literatur pendahuluan kami menunjukkan bahwa bawang bombai dan makanan terkait mengandung berbagai bentuk prebiotik, yang menyebabkan total kandungan prebiotik yang lebih besar.
Berbagai bentuk bawang bombai dan makanan terkait muncul dalam berbagai hidangan sebagai bumbu dan bahan utama. Dia menyampaikan, makanan ini umum dikonsumsi oleh orang Amerika dan karenanya akan menjadi target yang layak bagi orang-orang untuk meningkatkan konsumsi prebiotik mereka.
Berdasarkan temuan tim, Boyd mengatakan seseorang perlu mengonsumsi sekitar setengah bawang bombai kecil (4 ons) untuk mendapatkan 5 gram prebiotik.
Makanan yang mengandung gandum berada di peringkat lebih rendah dalam daftar tersebut. Makanan dengan sedikit atau tanpa kandungan prebiotik meliputi produk susu, telur, minyak, dan daging.
Para peneliti berharap studi ini akan memberikan dasar untuk membantu ilmuwan lain menilai dampak kesehatan prebiotik dan memberikan informasi untuk pedoman diet di masa mendatang.
Mereka mencatat bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami bagaimana memasak memengaruhi kandungan prebiotik dan untuk menilai makanan yang mengandung banyak bahan dengan lebih baik.
Studi yang dijalankan Boyd telah dipresentasikan pertemuan tahunan utama American Society for Nutrition yang diadakan pada 22–25 Juli 2023. (BS)