Berandasehat.id – Alergi dan asma berdampak pada banyak anak di seluruh dunia dan alasan pastinya belum jelas. Namun kini sebuah kelompok penelitian internasional yang dipimpin oleh DTU telah mengidentifikasi mekanisme yang sebelumnya tidak diketahui dan diharapkan dapat mengurangi risiko alergi dan asma di kemudian hari.

Studi menunjukkan anak-anak cenderung tidak mengembangkan alergi dan asma bila sejak bayi mereka dikolonisasi oleh Bifidobacteria tertentu yang menghasilkan zat di usus, disebut metabolit, yang meredam respons imun terhadap alergen.

Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Microbiology berpotensi memiliki dampak besar pada pencegahan alergi dan asma, yang merupakan salah satu penyakit kronis paling umum pada anak-anak.

Mampu mencegahnya dengan memperkuat mikrobiota usus pada bulan-bulan pertama kehidupan dapat menjadi terobosan dalam kesehatan masyarakat.

“Terobosan kuncinya adalah kami sekarang telah mengidentifikasi mekanisme spesifik yang dapat menekan perkembangan reaksi alergi dalam sistem kekebalan tubuh sejak masa bayi,” kata pemimpin proyek Susanne Brix Pedersen, profesor di DTU Bioengineering.

Jika hal ini dapat diterjemahkan ke dalam strategi pencegahan, misalnya, melalui suplemen probiotik atau susu formula bayi yang diperkaya, itu akan menjadi langkah maju yang besar dalam memerangi alergi dan asma, yang saat ini memengaruhi jutaan anak di seluruh dunia.

Zat bakteri meredam reaksi alergi

Para peneliti mengikuti 147 anak sejak lahir hingga usia lima tahun dan menemukan bahwa bayi yang memiliki populasi besar Bifidobacteria tertentu di usus mereka sejak dini mendapat manfaat dari metabolit yang diproduksi oleh bakteri ini.

Secara khusus, zat 4-hidroksifenil laktat (4-OH-PLA) tampaknya menekan kecenderungan sistem kekebalan tubuh untuk bereaksi berlebihan terhadap alergen.

Dalam uji laboratorium dengan sel imun manusia, para peneliti menunjukkan bahwa 4-OH-PLA menghambat produksi antibodi imunoglobulin E (IgE) oleh sistem kekebalan tubuh, yang memainkan peran sentral dalam reaksi alergi. IgE adalah ‘molekul alarm’ tubuh dalam alergi.

Ketika tubuh bertemu dengan alergen, ia memproduksi antibodi IgE, yang mengaktifkan sel imun dan dapat memicu gejala alergi. Ini terjadi karena antibodi IgE mengikat alergen seperti serbuk sari atau protein makanan, memicu respons imun tubuh dan menyebabkan gejala seperti gatal, eksim, demam, dan dalam beberapa kasus, asma. Semakin tinggi kadar IgE, semakin besar risiko alergi.

Uji laboratorium menunjukkan bahwa konsentrasi alami 4-OH-PLA mengurangi produksi antibodi IgE dalam tubuh hingga 60% tanpa memengaruhi produksi jenis antibodi lainnya.

Studi ini mencakup sejumlah besar data dari tiga kohort kelahiran besar di Swedia, Jerman, dan Australia. Para peneliti menganalisis sampel tinja dari bayi menggunakan, antara lain, analisis genetik dan analisis molekul kecil untuk memetakan komposisi bakteri dan kadar metabolit.

Pada saat yang sama, sampel darah digunakan untuk mengukur antibodi IgE terhadap alergen makanan dan udara. Akhirnya, mekanisme tersebut diuji dalam percobaan dengan sel imun manusia, di mana 4-OH-PLA secara langsung menghambat produksi IgE.

Studi ini menunjukkan hubungan biologis yang konkret antara bifidobacteria tertentu, metabolit yang mereka hasilkan, dan perkembangan sistem kekebalan tubuh yang sehat pada anak-anak kecil.

Para peneliti juga menyelidiki kondisi yang meningkatkan kemungkinan bayi memperoleh bakteri bermanfaat ini. “Sungguh luar biasa bahwa anak-anak yang lahir secara normal 14 kali lebih mungkin terpapar bifidobacteria dari ibu mereka,” kata Rasmus Kaae Dehli, spesialis imunologi sistem di DTU Bioengineering.

Selain itu, pemberian ASI eksklusif dan kontak dengan anak-anak kecil lainnya selama masa kanak-kanak juga berkontribusi pada peningkatan jumlah bifidobacteria di usus. Ini berarti bahwa mekanisme alami membantu mencegah perkembangan asma dan alergi.

Sayangnya, gaya hidup kita telah menyebabkan bifidobacteria ini menjadi jauh lebih langka, dan oleh karena itu penting juga untuk melihat langkah-langkah pencegahan lain yang dapat membantu bayi yang tidak terkolonisasi olehnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan 4-OH-PLA atau bakteri probiotik yang dapat menghasilkan zat tersebut dapat menjadi strategi baru untuk mencegah alergi dan asma.

Para peneliti melihat potensi dalam mengembangkan suplemen makanan untuk mereka yang sepenuhnya diberi ASI atau memiliki susu formula bayi yang diperkaya dengan bifidobacteria atau metabolitnya. Hal itu dapat membuka peluang untuk upaya yang ditargetkan pada jendela kesempatan kritis di bulan-bulan pertama kehidupan, ketika sistem kekebalan tubuh terbentuk.

DTU telah memperoleh paten atas penggunaan metabolit tersebut dalam obat-obatan untuk pencegahan dan pengobatan alergi dan asma, demikian laporan MedicalXpress. (BS)