Berandasehat.id – Program Keluarga SIGAP diperluas di Brebes, Jawa Tengah; Sukabumi, Jawa Barat; dan Banjar, Kalimantan Selatan, menyusul keberhasilan program perintis yang sebelumnya dirilis.

Program Keluarga SIGAP merupakan inisiatif kolaboratif yang mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat praktik kesehatan keluarga guna melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah, dengan fokus pada tiga perilaku utama yang saling terkait, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan gizi sesuai usia untuk anak di bawah dua tahun (Baduta).

Fase perluasan dibangun melalui kemitraan lintas sektor antara Gavi, the Vaccine Alliance; Unilever Lifebuoy; dan The Power of Nutrition, bekerja bersama pemerintah serta sistem kesehatan di tingkat pusat dan daerah.

Dalam acara diseminasi pembelajaran program SIGAP, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, dr. Niken Wastu Palupi, menegaskan keselarasan Keluarga SIGAP dengan prioritas nasional. “Di Kementerian Kesehatan, prioritas kita yaitu ke Pilar Pertama: Layanan Primer, melakukan upaya promotif dan preventif. Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak sekadar tahu soal kesehatan, tapi benar-benar mengubah perilaku mereka sehari-hari,” ujarnya dalam temu media di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Keluarga SIGAP memperkuat platform yang sudah digunakan keluarga, seperti layanan Posyandu, kunjungan rumah, satuan pendidikan anak usia dini, serta kanal digital, alih-alih membangun struktur baru. Pendekatan ini membantu mendekatkan pesan kesehatan ke rumah tangga dan membuatnya lebih mudah dipahami, dipercaya, dan diterapkan.

Seiring dengan perluasan program, Keluarga SIGAP menghadirkan pembelajaran penting tentang bagaimana perubahan perilaku terintegrasi dapat dijalankan melalui sistem layanan kesehatan primer, dengan menyoroti area kemajuan yang paling kuat, faktor pendukung keberhasilan, serta respons keluarga ketika dukungan diberikan secara konsisten pada berbagai perilaku kunci.

Pekuat imunisasi rutin

Program Keluarga SIGAP mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat imunisasi rutin di Indonesia, dengan dampak nyata pada peningkatan cakupan perluasan di tiga kabupaten.

Rata-rata cakupan imunisasi dasar anak meningkat sekitar 15%, dengan Banjar mencatat lonjakan paling signifikan dari 37% menjadi 59%. Ini berarti hampir 6 dari 10 anak di Banjar kini terlindungi, dibandingkan kurang dari 4 dari 10 sebelumnya.

Meningkatnya kepercayaan terhadap vaksin juga mendorong lebih banyak orang tua menyelesaikan jadwal imunisasi lengkap, tercermin dari hampir dua kali lipatnya cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes dan booster polio di Banjar yang mencapai sekitar 80%.

Peningkatan kepercayaan ini berkaitan erat dengan cara pesan imunisasi disampaikan bersamaan dengan praktik pengasuhan sehari-hari lainnya.

“Keluarga SIGAP menunjukkan bagaimana agenda imunisasi nasional Indonesia dapat diperkuat melalui koordinasi lintas sektor,” kata Augustin Flory, Managing Director of Innovative Partnerships di Gavi, the Vaccine Alliance.

Dengan mengintegrasikan imunisasi ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari seperti gizi dan kebersihan, imbuh Flory, program ini membantu membangun kepercayaan terhadap vaksin dan mendorong lebih banyak keluarga menyelesaikan imunisasi rutin, sehingga anak terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah seperti polio dan pneumonia.

Pendekatan terintegrasi ini tidak hanya meningkatkan cakupan, tetapi juga memperkuat kepercayaan orang tua. Pengasuh menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang efek samping ringan vaksin, melaporkan kunjungan ke fasilitas kesehatan yang lebih sedikit untuk reaksi ringan, serta lebih konsisten menyelesaikan jadwal imunisasi anak.

Permintaan terhadap dukungan praktis juga tinggi, dengan lebih dari 80% orang tua pengguna WhatsApp Bot SIGAP memilih untuk menerima pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.

Ciptakan lingkungan yang mendukung CTPS

Pembelajaran di bidang CTPS menunjukkan bahwa perubahan perilaku semakin cepat ketika keluarga memiliki motivasi sekaligus sarana yang memadai. Hampir 7% lebih banyak rumah tangga SIGAP kini memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun, menciptakan kondisi praktis yang memudahkan penerapan kebiasaan cuci tangan dalam rutinitas harian.

Lingkungan yang mendukung ini berkontribusi pada perubahan perilaku di enam momen penting CTPS, termasuk sebelum memberi makan anak dan setelah membersihkan anak, dengan tingkat kepatuhan meningkat sebesar 6,4%.

Motivasi juga bergeser, semakin banyak orangtua atau pendamping anak yang menyebut kesehatan dan kebersihan sebagai alasan utama mencuci tangan, bukan sekadar penampilan atau norma sosial.

Adapun keterlibatan ayah meningkat sebesar 13%, menandai semakin kuatnya keterlibatan bersama orang tua dalam menjaga kebersihan di rumah.

“SIGAP menunjukkan bagaimana perilaku perlindungan utama, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun, dan gizi, dapat menjadi kebiasaan nyata ketika keluarga bisa melihat, merasakan, dan mempraktikkannya dalam rutinitas sehari-hari,” ujar Parnil Sarin, Global Brand Director Lifebuoy.

Dengan memperluas pembelajaran dari rumah dan sekolah ke platform digital serta media massa, program ini membantu mempertahankan perilaku tersebut dalam skala yang lebih luas dan menjadikan CTPS bagian dari perjalanan kesehatan anak.

Selain itu, pembelajaran terkait nutrisi menunjukkan peningkatan nyata dalam praktik pemberian makan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan. Praktik inisiasi menyusu dini meningkat sebesar 4,4%, sementara proporsi anak yang mencapai keanekaragaman pangan minimum naik 6,8%.

Hal ini mencerminkan kualitas pola makan yang lebih baik serta keputusan pemberian makan yang lebih sesuai usia di tingkat rumah tangga.

Peningkatan ini didukung oleh alat bantu praktis yang selaras dengan dinamika keluarga. Rata-rata, 96% pengguna menyatakan bahwa alat pelacak gizi SIGAP membantu mereka memahami pola makan harian anak, termasuk konsumsi camilan tidak sehat, serta mendorong peran bersama ibu dan ayah dalam pemenuhan gizi anak.

Terkait hasil ini, Chris Skeet, CEO The Power of Nutrition, menyampaikan bahwa SIGAP mencerminkan kekuatan kemitraan dalam mendukung gizi di tempat yang paling penting, yaitu di rumah, setiap hari.

“Dengan menggabungkan alat praktis, pembelajaran bersama bagi orang tua, dan keterlibatan tenaga kesehatan di lapangan, program ini menunjukkan bagaimana pesan berbasis bukti dan komunikasi perubahan perilaku dapat membantu keluarga mempertahankan praktik pemberian makan yang lebih sehat dan membangun ketahanan jangka panjang,” ujarnya.

Perluasan media dan platform digital

Fase perluasan Keluarga SIGAP juga memanfaatkan media dan platform digital untuk memperluas pembelajaran di luar titik interaksi langsung. Pada periode 1 Mei hingga 30 November 2025, iklan layanan masyarakat SIGAP menjangkau lebih dari 4,7 juta orang secara nasional melalui tayangan televisi dan penempatan built-in, sehingga memperkuat kesadaran terhadap program.

Di media sosial, lebih dari 1,14 miliar impresi konten SIGAP disalurkan melalui Meta, YouTube, dan TikTok di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan untuk mendorong perubahan perilaku.

Di YouTube, sebanyak 8,1 juta tayangan selesai menunjukkan retensi yang kuat terhadap ketiga perilaku SIGAP secara berurutan, sementara iklan bumper enam detik mencatat lebih dari 130 juta tayangan selesai.

Kampanye Always On di Instagram dan Facebook menghasilkan 722 juta impresi dan menjangkau lebih dari 40 juta orang, mengantarkan audiens dari tahap kesadaran hingga pembelajaran aktif.

Konten influencer yang menggabungkan tren, cerita keseharian, humor, dan suara ahli yang terpercaya menjangkau 17,9 juta orang di Instagram dan 11,8 juta orang di TikTok. (BS)