Berandasehat.id – Menjaga tekanan darah  pada tingkat normal dapat mengurangi risiko komplikasi kehamilan, menurut sebuah studi baru yang dipimpin oleh para peneliti di Universitas Bristol.

Fernanda Morales-Berstein, asisten peneliti di Universitas Bristol dan penulis utama studi mengungkap temuan yang menunjukkan bahwa tekanan darah ibu yang lebih tinggi meningkatkan risiko berbagai hasil kehamilan yang merugikan, termasuk kelahiran prematur, melahirkan bayi yang lebih kecil, perlunya induksi persalinan, diabetes gestasional, dan bayi perlu dirawat di unit perawatan intensif neonatal, menurut studi yang dipublikasikan di BMC Medicine.

Maria Magnus, peneliti senior di Pusat Kesuburan dan Kesehatan di Institut Kesehatan Norwegia dan salah satu penulis studi, menambahkan seiring dengan meningkatnya obesitas dan usia saat melahirkan, jumlah wanita usia reproduksi dengan tekanan darah tinggi semakin meningkat. “Tekanan darah tinggi adalah masalah medis umum yang ditemui selama kehamilan, dengan sekitar 1 dari 10 wanita hamil terpengaruh,” ujarnya.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa wanita dengan tekanan darah tinggi selama kehamilan, termasuk mereka yang mengalami hipertensi gestasional dan preeklampsia, dan bayi mereka mungkin berisiko lebih besar mengalami masalah kesehatan pada periode perinatal.

Namun, penelitian-penelitian ini sebagian besar bersifat observasional dan tidak dirancang untuk memisahkan korelasi dari sebab-akibat.

Jika tidak sepenuhnya diperhitungkan, faktor-faktor yang memengaruhi tekanan darah dan hasil kehamilan, seperti posisi sosial ekonomi dan berat badan, dapat membiaskan analisis tersebut, sehingga menghasilkan temuan yang menyesatkan.

Meskipun telah ada uji coba untuk mengurangi tekanan darah selama kehamilan, uji coba tersebut umumnya terlalu kecil untuk mengungkapkan efek yang jelas pada komplikasi tertentu bagi ibu atau bayi.

Randomisasi Mendel adalah metode yang menggunakan data genetik dan kurang rentan terhadap bias yang biasanya memengaruhi studi observasional konvensional.

Metode ini telah digunakan sebelumnya untuk menilai efek tekanan darah ibu terhadap berat lahir dan durasi kehamilan bayi.

Namun, hasil dari penelitian-penelitian ini tidak konsisten, dan banyak hasil relevan lainnya belum dieksplorasi, sehingga menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut.

Implikasi studi baru

Untuk mengatasi kesenjangan penelitian ini, para peneliti di Unit Epidemiologi Integratif MRC di Universitas Bristol dan Institut Kesehatan Masyarakat Norwegia melakukan studi randomisasi Mendelian terbesar dari jenisnya, yang menilai hubungan antara tekanan darah ibu dan 24 hasil kehamilan yang merugikan.

Menggunakan data dari lebih dari 700.000 wanita hamil, tim peneliti menemukan bahwa tekanan darah yang lebih tinggi pada ibu meningkatkan risiko banyak komplikasi ibu dan janin selama kehamilan.

Misalnya, tekanan darah sistolik yang lebih tinggi sebesar 10 mmHg meningkatkan risiko perlunya induksi persalinan sebesar 11% dan kelahiran prematur sebesar 12%.

Deborah Lawlor, Profesor Epidemiologi di Universitas Bristol dan salah satu penulis studi, menyampaikan studi itu membahas keterbatasan utama dari studi observasional konvensional yang ada, yang dipengaruhi oleh faktor perancu; dan uji coba, yang umumnya kecil dan kurang bertenaga.

“Kami membandingkan hasil riset dengan hasil dari metode lain yang bergantung pada asumsi yang berbeda. “Ketika mereka mengonfirmasi hasil utama kami, hal itu meningkatkan keyakinan kami bahwa apa yang ditemukan kemungkinan bersifat kausal,” bebernya.

Carolina Borges, profesor madya dalam Epidemiologi Etiologi di Universitas Bristol, dan penulis terakhir bersama dalam makalah tersebut, menambahkan dengan menggunakan informasi genetik untuk mengisolasi sebab dan akibat dengan lebih baik, studi itu membantu memperjelas apakah tekanan darah ibu itu sendiri berkontribusi pada komplikasi kehamilan dan bayi baru lahir.

Hal ini penting untuk perawatan klinis dan kesehatan masyarakat, karena memperkuat basis bukti yang dibutuhkan untuk memandu strategi pencegahan, pemantauan, dan pengobatan yang bertujuan untuk meningkatkan hasil kesehatan ibu dan bayi.

Para penulis mengungkap temuan studi ini harus menjadi dasar kebijakan yang ditargetkan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Inggris dan di luar negeri.

Namun demikian penelitian lebih lanjut diperlukan pada populasi bukan Eropa, dan uji klinis sangat penting untuk menentukan waktu optimal, jenis obat, dan dosis yang dibutuhkan untuk mencegah komplikasi kehamilan yang terkait dengan tekanan darah tinggi pada ibu. (BS)