Berandasehat.id – Maia Estianty memiliki pengalaman merawat anggota keluarga terdekat, tepatnya anak, saat terkena cacar api (herpes zoster), atau biasa dikenal dengan istilah dompo/cacar ular. Menurut Maia, Ahmad Al Ghazali (Al), anak sulungnya, pernah terkena cacar api di usia 20an tahun.
“Dia bilang sakitnya gila banget. Al pernah kena cacar air saat bayi, dan cacar api di usia 20-an. Meskipun sudah sembuh, nyerinya bisa terasa bahkan setelah ruam hilang. Cacar api ternyata tidak hanya menyerang usia lanjut, tetapi juga dapat dialami usia produktif,” ujar Maia, Duta Kenali Cacar Api di acara diskusi kesehatan GSK Indonesia bersama Rumah Sakit Siloam Lippo Village di Karawaci, Tangerang, baru-baru ini.
Saat membagikan pengalaman tentang cacar api di media sosial, banyak komentar muncul menyuarakan derita yang ditimbulkan penyakit ini. “Komentarnya beragam, tapi rata-rata bilang itu sakit banget. Melebihi sakit saat melahirkan, sakitnya gila banget,” imbuh Maia.
Meskipun ruam cacar api umumnya dapat sembuh dalam waktu sekitar dua hingga empat pekan, nyeri yang ditimbulkan kerap tidak berhenti ketika ruam menghilang. Bekas dan rasa sakitnya bertahan hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun sehingga mengganggu produktivitas.

Untuk itu, Maia mengajak masyarakat untuk meminimalkan peluang terkena cacar api dengan menjaga gaya hidup sehat dan melakukan vaksinasi. “Rata-rata kita pernah kena cacar air. Nah, virus cacar air itu tidak hilang sama sekali, tapi dorman (tidur). Dia akan bangkit saat kondisi imunitas tubuh lemah, akibat penyakit atau karena faktor usia,” Maia menerangkan.
Saat virus cacar air, Varicella zoster, yang tidur itu bangkit kembali, maka akan memunculkan cacar api, yang menimbulkan bekas dan rasa sakit tak terperi.
Vaksinasi cacar api memang tidak mencegah cacar api 100 persen, namun saat infeksi itu terjadi sakitnya atau sensasi nyeri yang ditimbulkan diharapkan bisa jauh berkurang. “Lebih baik cegah deh daripada kena cacar api,” saran Maia.
Dari sisi medis, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Siloam Lippo Village Sandra Sinthya Langow mengungkap, cacar api memang dapat menimbulkan nyeri hebat yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Nyeri akibat cacar api bisa mengganggu tidur dan produktivitas pasien. “Pada kondisi tertentu, komplikasinya bisa mengenai mata yang bisa memicu gangguan penglihatan,” terangnya.
Berdasarkan pengalaman di ruang praktik, Sandra mengungkap rata-rata pasien baru menyadari bahaya ia terkena cacar api setelah mengalami komplikasi.
Cacar api memang bukan penyakit kritis, namun kelompok risiko tinggi, yaitu orang-orang dengan penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, autoimun, hingga kanker memiliki risiko lebih besar mengalami komplikasi saat terkena herpes zoster.
“Kelompok dengan penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, autoimun, kanker, hingga gangguan ginjal memiliki risiko lebih tinggi terkena cacar api. Risiko terkena cacar api juga meningkat seiring bertambahnya usia akibat penurunan daya tahan tubuh,” ujarnya.
Komplikasi cacar api juga tak bisa disepelekan. Komplikasi umum yang kerap ditemui terkait penyakit ini antara lain nyeri saraf jangka panjang/nyeri pasca herpes(NPH), yang muncul pada lokasi ruam cacar api. Rasa nyeri dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah ruam cacar api sembuh.
Studi menyebut, sekira 10-18 persen penderita cacar api akan mengalami NPH. Bahkan, pasien yang sudah lanjut usia lebih berisiko untuk mengalami NPH yang lebih menyakitkan daripada pasien cacar api yang berusia lebih muda.

Selain NPH, komplikasi cacar api lainnya termasuk gangguan penglihatan, masalah pada serebrovaskular, dan pendengaran.
Sebagai upaya pencegahan, vaksinasi menjadi salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan. Vaksin cacar api direkomendasikan bagi individu berusia di atas 50 tahun, serta orang dewasa di bawah usia 50 tahun dengan kondisi medis tertentu, bahkan dapat diberikan mulai usia 18 tahun sesuai indikasi dan rekomendasi dokter.
Selain edukasi langsung melalui tenaga medis, untuk memperluas akses informasi kesehatan terkait herpes zoster, tersedia chatbot WhatsApp KECAPI (Kenali Cacar Api) yang memudahkan masyarakat mendapatkan informasi seputar penyakit ini dan langkah pencegahannya. (BS)