Berandasehat.id – Dalam beberapa tahun terakhir muncul keresahan kuman tak lagi mempan antibiotik, obat-obatan farmasi yang paling banyak digunakan di seluruh dunia, karena saat ini merupakan obat yang paling efektif untuk pengobatan infeksi bakteri.
Namun, penggunaan obat-obatan ini secara berlebihan dapat merusak mikrobiota usus, yaitu populasi mikroorganisme yang hidup di usus yang membantu mencerna makanan.
Bakteri dan mikroorganisme lain di usus juga diketahui berkomunikasi dengan otak melalui jalur komunikasi yang disebut sebagai sumbu usus-otak (gut brain axis).
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa bakteri usus membantu mengurangi peradangan dan mendukung fungsi otak yang sehat.
Para peneliti di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Kedokteran Chongqing telah melakukan penelitian yang mengeksplorasi kemungkinan bahwa efek antibiotik pada bakteri usus juga dapat memfasilitasi perkembangan gangguan kesehatan mental, khususnya peningkatan kecemasan.
Temuan studi yang dipublikasikan di Molecular Psychiatry, menunjukkan bahwa antibiotik memang merusak bakteri usus yang membantu mengatur suasana hati, menghubungkan penggunaan berlebihan dengan tingkat kecemasan yang lebih tinggi.

“Antibiotik banyak disalahgunakan dalam pengobatan dan mungkin merupakan faktor risiko bagi kesehatan mental,” Ke Xu, Yi Ren, dan rekan menerangkan dalam makalah studi.
Untuk lebih memahami efeknya, mereka mengamati gejala gangguan mental pada tikus dan pasien yang diberi antibiotik dan menyelidiki mekanisme yang mungkin terjadi.
Efek antibiotik pada usus dan otak
Sebagai bagian dari penelitian itu, Xu, Ren, dan rekan melakukan serangkaian eksperimen yang melibatkan tikus dewasa dan manusia. Dalam rangkaian eksperimen pertama, mereka memberikan antibiotik kepada tikus, kemudian mengamati perilaku mereka dan menganalisis mikrobioma dalam feses mereka, membandingkannya dengan tikus yang tidak menerima antibiotik.
Menggunakan tikus yang diberi antibiotik, tim peneliti menemukan perilaku seperti kecemasan yang jelas, bersama dengan mikrobiota usus yang berbeda, terutama Firmicutes dan Bacteroidota, penurunan asam lemak rantai pendek (SCFA), dan gangguan metabolisme lipid usus-otak.
Dalam studi terlihat asetilkolin menurun dalam feses, dinding usus besar, serum, dan hipokampus tikus yang diberi antibiotik, dan penurunan ini berkorelasi signifikan dengan perilaku mirip kecemasan.
Para peneliti kemudian melakukan percobaan tambahan, di mana mereka mengumpulkan sampel feses dan darah dari tiga kelompok orang, sambil juga menanyakan seberapa cemas yang mereka rasakan.
Kelompok pertama baru saja mengonsumsi antibiotik, kelompok kedua tidak mengonsumsi antibiotik, dan kelompok ketiga sehat dan tidak memerlukan pengobatan antibiotik.
Menggunakan pasien yang diobati dengan antibiotik (n = 55), pasien yang belum pernah mengonsumsi antibiotik (n = 60), dan kontrol sehat (n = 60), tim peneliti juga mengamati gejala kecemasan yang jelas pada pasien yang diobati dengan antibiotik, bersama dengan mikrobiota usus yang berbeda (terutama Firmicutes), penurunan SCFAs, dan gangguan metabolisme lipid dalam feses dan serum.
“Pasien yang diobati dengan antibiotik secara konsisten menunjukkan asetilkolin serum dan feses yang lebih rendah, yang sangat berkorelasi dengan gejala kecemasan,” kata peneliti
Membalikkan efek antibiotik pada kesehatan mental
Ketika menganalisis data yang berhasil dikumpulkan, para peneliti menemukan bahwa penggunaan antibiotik dikaitkan dengan perilaku mirip kecemasan pada tikus dan tingkat kecemasan yang lebih tinggi pada manusia.
Selain itu, obat-obatan tersebut tampaknya mengurangi jumlah beberapa bakteri usus yang bermanfaat, khususnya yang termasuk dalam kelompok Bacteroides.
Tim juga menemukan hubungan antara asupan antibiotik dan penurunan neurotransmiter asetilkolin, suatu zat kimia yang mendukung komunikasi antar sel saraf. Tikus dan pasien manusia yang telah menerima antibiotik ditemukan memiliki kadar asetilkolin yang lebih rendah baik di usus maupun otak dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsinya.
Pada tingkat spesies, Bacteroides caecimuris pada tikus yang diobati dengan antibiotik dan Bacteroides plebeius pada pasien yang diobati dengan antibiotik keduanya menurun dan berkorelasi signifikan dengan asetilkolin.
Lebih lanjut, intervensi metakolin eksogen (turunan asetilkolin) secara efektif mengurangi perilaku mirip kecemasan dan menekan aktivasi mikroglia hipokampus pada tikus yang diobati dengan AB.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik yang berlebihan tidak hanya dapat mengubah mikrobiota usus, tetapi juga dapat meningkatkan tingkat kecemasan dan berdampak buruk pada kesehatan mental seseorang.
Di masa depan, penelitian ini dapat menginspirasi penelitian lebih lanjut yang mengeksplorasi dampak asupan antibiotik terhadap kesehatan mental, dan berpotensi juga memberikan informasi untuk pengembangan strategi terapeutik yang bertujuan untuk menyeimbangkan kembali mikrobioma usus setelah pengobatan dengan obat ini. (BS)