Berandasehat.id – Tekanan darah tinggi saat lahir mungkin merupakan tanda peringatan dini, yang menjadi pemicu penyakit kardiovaskular di kemudian hari. Hasil itu diperoleh melalui sebuah studi longitudinal, kohort kelahiran ENVIRONAGE, yang bertujuan memahami apakah tingkat tekanan darah di awal kehidupan dapat membantu memprediksi risiko hipertensi di kemudian hari pada masa kanak-kanak.
Para peneliti mengikuti kohort (studi jangka panjang) yang terdiri dari 500 anak Belgia yang sehat, mengukur tekanan darah mereka saat lahir dan lagi selama usia prasekolah dan sekolah, memungkinkan para peneliti untuk melacak pola tekanan darah dari waktu ke waktu.
Tim peneliti menemukan bahwa bayi dengan tekanan darah lebih tinggi saat lahir atau selama usia prasekolah jauh lebih mungkin mengembangkan hipertensi pada usia sekolah—sekitar 3,75 kali lebih tinggi daripada anak-anak dengan tekanan darah normal, menurut temuan yang dipublikasikan di JAMA Network Open.
Hasil ini menantang anggapan umum bahwa penyakit kardiovaskular hanya menjadi masalah orang dewasa. Mengintegrasikan pemantauan dan pengelolaan tekanan darah sejak lahir ke dalam perawatan pediatrik dapat menjadi strategi potensial untuk mengurangi risiko kardiovaskular di kemudian hari.
Lebih awal, makin baik
Pada tahun 2022, WHO menemukan bahwa penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di seluruh dunia, dengan perkiraan 19,8 juta kematian dalam satu tahun, yang menyumbang sekitar 32% dari semua kematian.
Benih penyakit yang berhubungan dengan jantung ini ditanam jauh lebih awal dalam kehidupan, sering kali berakar pada faktor risiko yang ada selama masa kanak-kanak.
Salah satu tanda peringatan dini adalah tekanan darah tinggi, suatu kondisi diam yang dapat secara perlahan merusak organ selama bertahun-tahun sebelum gejala muncul. Untungnya, ini adalah faktor risiko yang dapat dimodifikasi, artinya perubahan gaya hidup dan perawatan medis dapat membantu menurunkan risiko terkena penyakit tersebut.

Terlepas dari pengetahuan ini, belum ada studi kohort skala besar yang terus memantau tekanan darah sejak lahir hingga masa kanak-kanak sampai sekarang.
Dalam studi Pengaruh Lingkungan terhadap Penuaan di Awal Kehidupan (ENVIRONAGE), para peneliti mendokumentasikan tekanan darah dan penanda kesehatan lainnya sejak lahir hingga berbagai tahap masa kanak-kanak.
Studi ini dilakukan di Limburg, Belgia, dimulai pada Februari 2010 dan berakhir pada Agustus 2024, dan mengikuti 500 anak sehat dari waktu ke waktu.
Pengukuran tekanan darah (TD) setiap anak diambil pada tahap-tahap penting kehidupan awal: saat lahir, dalam tiga hari pertama kehidupan, tindak lanjut pertama pada usia prasekolah antara 4–6 tahun, dan tindak lanjut kedua pada usia sekolah antara 9–11 tahun.
Tim peneliti menggunakan pedoman American Academy of Pediatrics 2017 untuk menafsirkan data. Berdasarkan hasilnya, para peneliti mengelompokkan anak-anak ini menjadi tiga kelompok. Pertama, kelompok pelacak, yang peringkat tekanan darahnya tetap stabil dalam kuartil yang sama atau hanya naik atau turun satu tingkat. Kemudian, kelompok penunggang kuda, termasuk anak-anak yang memulai dengan tekanan darah lebih rendah, mengalami peningkatan tekanan darah hingga tingkat tinggi seiring pertumbuhan mereka. Terakhir, kelompok bukan pelacak yang peringkat tekanan darahnya turun secara signifikan dari waktu ke waktu.
Tim menemukan bahwa 80% anak-anak termasuk dalam kelompok pelacak karena mereka mempertahankan peringkat persentil tekanan darah mereka sepanjang periode pengamatan.
Mereka juga mengamati bahwa anak-anak dengan tekanan darah lebih tinggi saat lahir atau di masa kanak-kanak awal lebih mungkin memiliki tekanan darah tinggi atau mengembangkan hipertensi pada usia prasekolah dan sekolah.
Memahami bagaimana tekanan darah berkembang sejak usia dini dapat membantu mengidentifikasi risiko sejak dini dan mencegah tingkat tekanan darah yang tidak sehat pada anak-anak. Oleh karena itu, para peneliti menekankan bahwa mengelola tekanan darah sepanjang siklus hidup sangat penting untuk kesehatan kardiovaskular, demikian laporan Science x Network. (BS)