Berandasehat.id – Batu ginjal terdiri dari gumpalan kristal kecil. Prevalensinya telah meningkat secara global dalam beberapa tahun terakhir, sehingga saat ini sekitar 1 dari 11 orang akan mengalaminya seumur hidup. Faktor risiko meliputi riwayat keluarga, sindrom metabolik, dan asupan cairan yang rendah.

Batu mulai terbentuk ketika kristal tumbuh dalam urin dan menjadi cukup besar sehingga tidak dapat dikeluarkan dengan aliran urin normal.

Dalam temuan yang tak terduga, tim yang dipimpin UCLA telah menemukan bahwa bakteri hadir di dalam jenis batu ginjal yang paling umum diderita masyarakat. Temuan ini mengungkap komponen yang sebelumnya tidak dikenali yang terlibat dalam pembentukannya.

Temuan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, menunjukkan kemungkinan terapi target yang dapat digunakan untuk pencegahan dan pengobatan bagi jutaan orang yang terkena kondisi yang sering kali menyakitkan ini.

Terobosan ini menantang asumsi lama bahwa batu-batu ini berkembang semata-mata melalui proses kimia dan fisik, dan sebaliknya menunjukkan bahwa bakteri dapat berada di dalam batu dan dapat secara aktif berkontribusi pada pembentukannya, menurut kata Dr. Kymora Scotland, asisten profesor urologi di David Geffen School of Medicine di UCLA dan salah satu penulis senior studi.

“Dengan mengungkap mekanisme baru ini, studi ini membuka pintu bagi strategi terapi baru yang menargetkan lingkungan mikroba batu ginjal,” terang Dr. Scotland.

Gerard Wong, profesor di Departemen Bioteknologi, Kimia, dan Institut NanoSistem California di UCLA, bertindak sebagai penulis bersama studi ini.

Pembentukan batu ginjal dan faktor risiko

Ada beberapa subtipe batu ginjal dan meskipun satu jenis batu yang langka diketahui mengandung bakteri. Batu yang paling umum adalah kalsium oksalat (CaOx), yang mencakup hampir 80% kasus batu ginjal, yang sebelumnya tidak diketahui mengandung bakteri.

Saat memeriksa data dari mikroskop elektron dan fluoresensi, para peneliti secara tak terduga mendeteksi bakteri hidup serta lapisan, atau biofilm, bakteri yang terintegrasi ke dalam kristal.

Implikasi pengobatan di masa depan

Tim peneliti telah menemukan mekanisme pembentukan batu baru yang dapat membantu menjelaskan mengapa batu-batu ini sangat umum. Hasil ini juga dapat membantu menjelaskan hubungan antara infeksi saluran kemih berulang dan pembentukan batu ginjal berulang, dan memberikan wawasan tentang potensi pengobatan di masa depan untuk kondisi ini.

Scotland menambahkan, temuan ini menunjukkan bahwa bakteri juga dapat terlibat dalam jenis batu ginjal lainnya.

Dia menandaskan, studi ini berfokus pada batu berbasis kalsium. Bagaimana batu-batu lain yang kurang umum terbentuk masih menjadi pertanyaan. Studi lebih lanjut diperlukan untuk sepenuhnya memahami bagaimana bakteri dan batu ginjal berbasis kalsium berinteraksi.

“Tim multi-institusi kami saat ini sedang melakukan studi untuk menentukan bagaimana bakteri dan batu ginjal berbasis kalsium berinteraksi. Kami ingin memahami secara tepat apa yang membuat beberapa pasien sangat rentan terhadap pembentukan batu berulang, dan apa yang ada pada spesies bakteri tertentu ini yang memungkinkan mereka untuk menukleasi batu-batu ini,” tandas Scotland. (BS)