Berandasehat.id – Indonesia memiliki sumber daya alam dengan biodiversitas tinggi namun masih belum dimanfaatkan dengan optimal. Ketergantungan terhadap bahan baku impor di industri kosmetik masih tinggi. Hal ini masih menjadi tantangan di kalangan pelaku usaha lokal, khususnya yang bergerak di industri kosmetik dan obat tradisional.
“Indonesia memiliki memiliki kekayaan hayati yang sangat besar namun belum dimanfaatkan dengan optimal. Saat ini, pemanfaatan sumber daya alam di industri kosmetik masih minim, ketergantungan pada impor. Untuk itu, Nose Herbal Indo ingin terlibat aktif dalam ekosistem Academic, Business and Government untuk mendorong riset, inovasi, serta memprioritaskan bahan alam lokal sebagai bahan baku kosmetik,” terang Aling Pratama, Direktur PT Nosé Herbal Indo, di perayaan 25 tahun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Jakarta, Sabtu (31/1).
Partisipasi aktif Nosé dalam mendukung kolaborasi Academic, Business and Government (ABG) yang diinisiasi BPOM mendapatkan apresiasi penghargaan yang diserahkan di puncak HUT BPOM RI ke-25 di Jakarta.
Halim Nababan dari manajemen Nose Herbal Indo menambahkan dengan kekayaan biodiversitas yang tinggi diharapkan akan mengurangi biaya, serta memiliki keunikan bahan baku lokal yang ditiru negara lain. Dia menyoroti sejumlah tanaman endemik yang berpotensi menjadi kekayaan hayati Indonesia.

“Setidaknya ada empat tanaman endemik di Kalimantan Utara yang sudah diteliti dan memiliki potensi besar sebagai bahan baku lokal untuk kosmetik dan obat tradisional,” ujar Halim.
Tanaman lain yang sedang dan telah diekplorasi adalah pegagan, kecombrang, bidara dan kumis kucing. Selain itu, dapat memanfaatkan keragaman hayati lokal, Nose dan para mitra mengutaman konsep keberlanjutan. “Tanaman itu tidak ditebang, jadi hanya dimanfaatkan bagian tanaman saja, misalnya hanya diambil daun, ranting atau ujung batang,” imbuh Sri Rahayu Widya Ningrum, Vice-CEO PT Nosé Herbal Indo.
Lebih lanjut Aling menyampaikan, keterlibatan Nosé dalam mendukung kolaborasi Academic, Business, and Government (ABG) BPOM dilakukan dengan sejumlah inisiatif. Perusahaan maklon lokal ini aktif mendukung riset dan penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa serta peneliti dari universitas dan instansi pemerintah melalui Baran Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Nosé memandang program ABG yang diinisiasi BPOM RI sebagai langkah strategis dalam mendorong kemajuan industri kosmetik nasional. “Program ini mempertemukan tiga pemangku kepentingan utama yaitu, akademisi, industri, dan pemerintah dalam satu ekosistem kolaboratif yang saling menguatkan,” beber Aling.
Hingga saat ini, Nosé telah menjalin kerja sama penelitian dengan enam universitas di Indonesia, yaitu IPB (Institut Pertanian Bogor) di Bogor, Jawa Barat, UNPAD (Universitas Padjajaran) di Bandung, UI (Universitas Indonesia) di Jakarta, USU (Universitas Sumatera Utara), UGM (Universitas Gadjah Mada) di Yogayakarta, dan UNMUL (Universitas Mulawarman) di Kalimantan.
“Melalui inisiatif itu, sudah dilakukan riset yang fokus ke ekstrak tanaman asli Indonesia. Hasil riset diharapkan akan dipakai ke dalam produk-produk yang dihasilkan untuk pelanggan,” ujar Sri Rahayu seraya menambahkan ekstrak-ekstrak yang telah dikembangkan dengan sejumlah mitra masih terfokus pada produk kosmetik.
Namun, sebut Sri Rahayu, tahun ini Nose sudah memiliki izin CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik), sehingga dapat memproduksi obat tradisional, misalnya untuk menghilangkan masuk angin, hingga produk suplemen kesehatan.

Perusahaan maklon lokal ini berharap program ABG dapat terus diperkuat dan dikembangkan, khususnya dalam mendorong kolaborasi riset yang berkelanjutan antara industri dan perguruan tinggi.
“Harapan kami, kolaborasi ABG ini tidak berhenti di satu momentum saja, tetapi terus berlanjut sebagai gerakan bersama. Dengan riset yang kuat dan kolaborasi yang terbuka, industri kosmetik Indonesia punya potensi besar untuk berkembang secara mandiri dan berkelanjutan,” tandas Aling.
Komitmen BPOM tingkatkan kinerja dan kontribusi
Dalam sambutan di acara peringatan 25 tahun, Kepala Badan POM Taruna Ikrar menekankan komitmen lembaga itu untuk terus meningkatkan kinerja dan kontribusinya dalam pembangunan bangsa. Upaya tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat, tetapi juga untuk mendukung secara signifikan pencapaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen.
Menandai ulang tahun perak BPOM juga dihelat 25 kegiatan, mencakup program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, termasuk menjangkau daerah terpencil, dukungan terhadap program makan bergizi gratis, hingga agenda berskala global, salah satunya menandai keberhasilan BPOM masuk sebagai WHO Listed Authority.
BPOM juga memberikan penghargaan kepada sejumlah perusahaan dan lembaga yang terbagi dalam kategori media, bisnis, dan penegakan hukum. Menurut Taruna, penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam mengawal keamanan obat dan makanan. “Karena industri harus diberikan suatu penghargaan terhadap apa yang telah dilakukan,” tandasnya. (BS)