Berandasehat.id – Chlamydia pneumoniae, bakteri umum yang menyebabkan pneumonia dan infeksi sinus, dapat bertahan di mata dan otak selama bertahun-tahun dan dapat memperburuk penyakit Alzheimer, menurut sebuah studi dari Cedars-Sinai.

Diterbitkan di Nature Communications, temuan teranyar itu menunjukkan bahwa bakteri ini dapat memperkuat penyakit Alzheimer dan menunjukkan potensi intervensi termasuk terapi pembatas peradangan dan pengobatan antibiotik dini.

Studi menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa Chlamydia pneumoniae dapat mencapai retina, jaringan yang melapisi bagian belakang mata, di mana kuman itu memicu respons imun yang terkait dengan peradangan, kematian sel saraf, dan penurunan kognitif.

“Melihat Chlamydia pneumoniae secara konsisten di seluruh jaringan manusia, kultur sel, dan model hewan memungkinkan kami untuk mengidentifikasi hubungan yang sebelumnya tidak diketahui antara infeksi bakteri, peradangan, dan neurodegenerasi,” ungkap Maya Koronyo-Hamaoui, Ph.D., profesor Bedah Saraf, Neurologi, dan Ilmu Biomedis di Cedars-Sinai Health Sciences University dan penulis senior utama studi.

Temuan ini dipelopori oleh penulis pertama bersama Bhakta Gaire, Ph.D., dan Yosef Koronyo, MSc.

Koronyo-Hamaoui menyampaikan, mata adalah pengganti otak, dan studi ini menunjukkan bahwa infeksi bakteri retina dan peradangan kronis dapat mencerminkan patologi otak dan memprediksi status penyakit, mendukung pencitraan retina sebagai cara non-invasif untuk mengidentifikasi orang yang berisiko terkena Alzheimer.

Untuk melakukan studi ini, para peneliti menggunakan pencitraan canggih, pengujian genetik, dan analisis protein untuk memeriksa jaringan retina dari 104 individu, beberapa dengan kognisi normal, beberapa dengan gangguan kognitif ringan, dan beberapa dengan penyakit Alzheimer.

Mereka menemukan kadar Chlamydia pneumoniae yang jauh lebih tinggi di retina dan otak penderita penyakit Alzheimer dibandingkan dengan yang ditemukan pada orang dengan fungsi kognitif normal.

Semakin tinggi kadar bakteri yang terdeteksi, semakin parah perubahan otak dan penurunan kognitif yang ditemukan para peneliti.

Untuk diketahui, kadar bakteri yang lebih tinggi lebih umum terjadi pada orang yang membawa varian gen APOE4, faktor risiko yang diketahui untuk penyakit Alzheimer.

Para peneliti juga mempelajari neuron manusia di laboratorium dan pada tikus laboratorium dengan penyakit Alzheimer. Pada keduanya, diketahui infeksi Chlamydia pneumoniae meningkatkan peradangan, kematian sel saraf, dan penurunan kognitif, menunjukkan bahwa bakteri tersebut dapat mempercepat proses penyakit.

Infeksi tersebut juga memicu produksi amiloid-beta, protein yang menumpuk di otak penderita Alzheimer.

Timothy Crother, Ph.D., salah satu penulis utama studi ini dan profesor riset di Cedars-Sinai Guerin Children’s dan Departemen Ilmu Biomedis di Cedars-Sinai menekankan studi itu memperbesar kemungkinan menargetkan sumbu infeksi-peradangan untuk mengobati Alzheimer.

Temuan ini menunjukkan bahwa menargetkan infeksi bakteri kronis – dan peradangan yang dipicunya – dapat mewakili strategi pengobatan baru.

Penelitian ini juga mendukung potensi penggunaan retina sebagai cara bukan invasif untuk membantu mendiagnosis dan memantau penyakit tersebut. (BS)