Berandasehat.id – Gumoh (regurgitasi) kerap dialami bayi, dan tak jarang hal ini memicu keresahan orang tua baru. Padahal, gumoh di masa awal kehidupan bayi merupakan hal wajar. Gumoh bisa menjadi tak wajar jika bayi mengalami gagal tumbuh tidak sesuai kurva pertumbuhan.

“Gumoh terjadi saat aliran balik lambung (GER) tidak hanya terhenti di esofagus, namun mencapai mulut,” ujar Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi RS Premier Bintaro, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A (K) di acara bincang kesehatan yang dihelat RS Premier Bintaro di Jakarta, baru-baru ini.

GER bisa terjadi lantaran di antara kerongkongan dan lambung terdapat katup bagian bawah yang berfungsi sebagai penghalang agar isi lambung, seperti susu, tidak naik kembali. “Pada bayi, katup ini belum bekerja optimal sehingga isi lambung lebih mudah naik kembali,” terang Prof Hegar.

Lebih lanjut dikatakan, gumoh pada bayi wajar terjadi karena selain katup lambung yang belum matang, bayi juga lebih banyak mengonsumsi cairan dibandingkan makanan padat, sehingga mudah terjadi aliran balik mencapai mulut.

Ilustrasi bayi gumoh

Berbeda dengan gumoh, GER terjadi di dalam tubuh dan tidak selalu terlihat dari luar karena isi lambung bisa saja hanya naik sampai kerongkongan tanpa keluar melalui mulut. Dengan kata lain, regurgitasi atau gumoh adalah refluks yang terlihat, ketika isi lambung keluar melalui mulut dan terlihat oleh orang tua/pengasuh.

Berbagai studi menunjukkan gumoh paling sering terjadi pada enam bulan pertama kehidupan dan akan berkurang seiring pertambahan usia. “Kondisi ini dikenal sebagai happy spitter, yaitu bayi yang sering gumoh tetapi tetap sehat dan tidak terganggu tumbuh kembangnya,” terang Prof Hegar.

Gumoh paling sering terjadi pada enam bulan pertama kehidupan, lalu berangsur menurun setelah usia tersebut dan umumnya menghilang pada usia sekitar 12-18 bulan pada bayi sehat. Artinya, meski refluks dan gumoh kerap terjadi, bahkan bisa beberapa kali dalam sehari, hanya sebagian kecil yang berkembang menjadi penyakit (GERD). 

Data menyebut, pada usia satu bulan, sekitar 80 persen bayi mengalami regurgitasi, sedangkan yang menjadi penyakit hanya sekira 3 hingga 8 persen, karena sebagian besar bayi memiliki mekanisme perlindungan alami terhadap asam lambung. “Ini menunjukkan bahwa mayoritas bayi yang gumoh masih berada dalam kondisi normal,” tutur Prof Hegar. 

Terkait GERD, Prof Hegar mengungkap, hal itu merujuk ketika refluks sudah masuk kategori penyakit. Dikatakan GERD apabila isi lambung yang ada di kerongkongan terlalu lama atau terlalu sering sehingga merusak dinding esofagus.

Kerongkongan pada dasarnya bersifat netral. “Ketika asam lambung yang bersifat asam naik terlalu sering atau bertahan terlalu lama di kerongkongan, lapisan dindingnya dapat mengalami peradangan/luka, disebut esofagitis. Pada kondisi inilah refluks tidak lagi dianggap normal,” ujar Prof Hegar.

Berbeda dengan refluks biasa, GERD sudah menimbulkan dampak klinis. Bayi yang mengalami GERD dapat merasakan nyeri, sehingga enggan makan atau minum. Refluks yang menyebabkan kerusakan pada kerongkongan dan mengganggu kondisi bayi secara keseluruhan. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada asupan harian dan pertumbuhan bayi.

Menurut Prof Hegar, GERD pada bayi biasanya ditandai dengan regurgitasi berlebihan yang tidak kunjung membaik. Kondisi ini berbeda dengan regurgitasi yang masih dalam batas wajar.

Tanda dan gejala GERD pada bayi

Orang tua perlu mewaspadai GERD pada bayi dengan sejumlah tanda dan gejala sebagai berikut:

1. Gagal tumbuh

Salah satu indikasi penting GERD pada bayi adalah gagal tumbuh, dalam hal ini badannya tidak bertambah sesuai usia meskipun asupan nutrisi sudah cukup.

2. Bercak darah pada cairan gumoh

Gumoh disertai bercak darah menjadi tanda yang perlu diwaspadai, karena mengindikasikan adanya luka atau peradangan pada kerongkongan.

3. Bayi melengkungkan tubuh

Hal lain yang perlu diwaspadai adalah gerakan melengkungkan tubuh ke belakang pada bayi dengan GERD. Hal itu karena rasa tidak nyaman bayi atau nyeri akibat asam lambung.

Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A (K)

GERD juga berkaitan dengan gangguan neurologi pada bayi. Kondisi ini membuat evaluasi medis menjadi kian penting.

Lantas pemeriksaan apa yang perlu dilakukan? Endoskopi dapat dilakukan untuk melihat adanya esofagitis atau peradangan pada kerongkongan. Pemeriksaan ini membantu menilai kerusakan yang ditimbulkan oleh asam lambung.

Adapun pemeriksaan monitoring tingkat keasaman (pH) dan Multichannel Intraluminal Impedance bisa memberikan gambaran lebih detail tentang pola refluks. (BS)