Berandasehat.id – Indonesia belum memiliki gambaran utuh mengenai prevalensi PJB pada anak karena keterbatasan data nasional. Menjawab tantangan ini, Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) diprakarsai oleh Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan bekerja sama dengan GE HealthCare Indonesia menggelar program skrining penyakit jantung bawaan (PJB) gratis bagi anak usia sekolah secara berseri di 27 kota di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Jayapura.
Program skrining ini menargetkan siswa sekolah dasar dan santri pondok pesantren, tidak hanya untuk mendeteksi kelainan jantung sejak dini, tetapi juga sebagai langkah awal pengumpulan data skrining PJB secara nasional yang diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai gambaran PJB di Indonesia.
“Melalui skrining yang dilakukan secara serentak periode 23 Januari – 14 Februari 2026 di berbagai wilayah Indonesia, PERKI tidak hanya berupaya menemukan kasus PJB lebih dini, tetapi juga mengumpulkan data awal yang sangat penting sebagai fondasi menuju registri PJB nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan,” kata Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI, Dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K)., FIHA di acara skrining PJB di SD Negeri Makassar 3 Jakarta Timur, Kamis (12/2).

Gerakan skrining nasional ini merupakan wujud komitmen PERKI dalam melindungi kesehatan jantung anak. Melalui skrining PJB gratis yang dilakukan secara berseri di 27 kota, PERKI memimpin upaya skrining PJB anak usia di bawah 18 tahun terbanyak di Indonesia. “Upaya ini diharapkan dapat menyaring anak dengan PJB lebih dini sehingga tatalaksana dapat dilakukan lebih cepat dan memberikan dampak signifikan bagi kualitas hidup anak-anak dengan PJB,” imbuhnya.
Inisiatif berskala besar ini juga diharapkan mencetak rekor MURI sebagai kegiatan skrining PJB terbanyak bagi anak-anak yang dilakukan serentak di periode 23 Januari – 14 Februari di berbagai wilayah.
Inisiatif ini mendapatkan apresiasi dari Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmidzi, yang menekankan program ini sejalan dengan arah kebijakan kesehatan nasional yang menekankan upaya promotif dan preventif. Data menyebut, PJB merupakan kelainan yang paling banyak ditemukan pada bayi baru lahir, dengan angka prevalensi kira-kira 9-10 per 1000 kelahiran hidup.
“Penyakit jantung bawaan telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada satu tahun pertama kehidupan,” tutur Nadia
Nadia menyampaikan, program skrining PJB sejak tahun 2025 merupakan salah satu skrining pada Cek Kesehatan Gratis (CKG). Karenanya, kegiatan deteksi dini PJB pada anak sekolah merupakan salah satu upaya edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat, sekaligus memperkuat deteksi dini agar anak-anak dengan PJB dapat memperoleh penanganan yang tepat sedini mungkin.

Data yang dihimpun melalui program skrining ini diharapkan dapat menjadi fondasi awal menuju pengembangan registri PJB nasional yang lebih komprehensif.
Dalam program skrining PJB ini GEHC menyediakan sistem ultrasonografi untuk mendukung deteksi dini kelainan jantung pada anak, menghadirkan pencitraan berkualitas tinggi guna penilaian jantung pediatrik yang lebih akurat, serta memperluas akses terhadap alat diagnostik esensial di wilayah dengan keterbatasan layanan kesehatan.
“GE HealthCare berkomitmen untuk memperluas akses terhadap teknologi diagnostik esensial di seluruh Indonesia. Dukungan kami terhadap program skrining PJB nasional ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membantu tenaga medis melakukan deteksi dini, sekaligus mendukung organisasi profesi dan program kesehatan nasional demi masa depan kesehatan anak yang lebih baik,” terang CEO GE HealthCare Indonesia, Kriswanto Trimoeljo. (BS)