Berandasehat.id – Demam berdarah (dengue) adalah penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk yang menyerang jutaan orang setiap tahun, dengan gejala mulai dari penyakit mirip flu hingga perdarahan hebat dan kegagalan organ.

Para ilmuwan kini menggunakan Wolbachia, bakteri alami yang ditemukan di banyak serangga, untuk mengubah nyamuk pembawa penyakit, menjadi sekutu yang tak terduga melalui Proyek Wolbachia–Singapura.

Dalam eksperimen selama dua tahun di seluruh kota di Singapura, para peneliti membagi lingkungan perkotaan menjadi beberapa kelompok, melepaskan nyamuk jantan Aedes aegypti steril yang terinfeksi Wolbachia di beberapa daerah sementara daerah lain dibiarkan tanpa perlakuan untuk menguji apakah pendekatan biologis ini dapat mengurangi penularan penyakit di kota yang padat penduduk.

Pelepasan nyamuk terbukti cukup efektif. Di daerah tempat intervensi digunakan, jumlah nyamuk menurun tajam, dan orang-orang yang tinggal di lingkungan yang diberi perlakuan sekitar 70% lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan gejala demam berdarah setelah beberapa bulan terpapar, menurut temuan yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine.

Ubah masalah menjadi solusi

Metode pengendalian nyamuk tradisional, seperti menghilangkan tempat berkembang biak dan menggunakan penolak nyamuk, mungkin efektif dalam jangka pendek tetapi kerap gagal memberikan pengurangan kasus atau infeksi demam berdarah yang berkelanjutan.

Penolak nyamuk berbasis kimia juga menimbulkan risiko, karena dapat memengaruhi kesehatan manusia, membahayakan keanekaragaman hayati, dan mengganggu lingkungan sekitar.

Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah menemukan bahwa menginfeksi nyamuk Aedes aegypti pembawa virus dengue dengan bakteri Wolbachia dapat menjadi alternatif yang ampuh untuk metode pengendalian demam berdarah tradisional.

Wolbachia mencegah virus demam berdarah bereplikasi di dalam nyamuk ini, sehingga membuat mereka jauh lebih kecil kemampuannya untuk menyebarkan penyakit.

Proyek Wolbachia bekerja dengan melepaskan nyamuk Aedes jantan yang membawa Wolbachia. Meskipun nyamuk jantan tidak menggigit manusia, mereka memainkan peran penting dalam mengurangi populasi nyamuk penggigit yang menularkan demam berdarah.

Ketika nyamuk jantan yang terinfeksi ini dilepaskan untuk kawin dengan nyamuk betina liar yang tidak membawa Wolbachia, telur yang mereka hasilkan tidak menetas. Seiring waktu, pelepasan berulang mengakibatkan berkurangnya jumlah nyamuk yang bertahan hidup di kota.

Strategi khusus ini dikenal sebagai teknik serangga tidak kompatibel yang dimediasi Wolbachia – teknik serangga steril (IIT-SIT).

Meskipun metode IIT-SIT telah menunjukkan potensi awal dalam mengurangi populasi nyamuk, masih kurang data uji coba terkontrol secara acak untuk mengkonfirmasi efektivitasnya dalam mengurangi infeksi demam berdarah pada manusia.

Melacak dampak pencegahan demam berdarah

Untuk penelitian ini, para peneliti membiakkan nyamuk Aedes aegypti jantan steril yang terinfeksi Wolbachia di laboratorium.

Selanjutnya, mereka memilih 15 area perumahan besar di Singapura dan secara acak membaginya menjadi dua kelompok. Delapan kelompok menerima pelepasan nyamuk jantan steril yang terinfeksi Wolbachia dua kali seminggu, sementara tujuh kelompok berfungsi sebagai kontrol dan tidak menerima pelepasan nyamuk.

Hal ini berlanjut selama 24 bulan, dari pertengahan 2022 hingga akhir 2024.

Untuk menilai apakah pelepasan nyamuk tersebut berpengaruh, para peneliti melacak dua hasil: populasi nyamuk dan jumlah diagnosis demam berdarah.

Pertama, tim peneliti menggunakan perangkat khusus untuk menangkap dan menghitung nyamuk betina liar, yang memungkinkan mereka untuk melacak perubahan populasi nyamuk.

Kedua, menganalisis basis data kesehatan nasional untuk mengidentifikasi penduduk yang mengunjungi dokter dan dinyatakan positif demam berdarah, dan membandingkan tingkat infeksi demam berdarah di daerah dengan pelepasan nyamuk dengan daerah tanpa pelepasan.

Di daerah tempat nyamuk dilepaskan, jumlah nyamuk betina liar menurun sekitar 77%—dari 0,18 menjadi 0,041 nyamuk per perangkap. Penurunan ini sejalan dengan berkurangnya infeksi demam berdarah, di mana setelah enam bulan atau lebih, hanya 6% orang di daerah intervensi yang dinyatakan positif, dibandingkan dengan 21% di daerah kontrol.

Secara keseluruhan, paparan nyamuk pembawa Wolbachia mengurangi risiko demam berdarah sekitar 71–72% selama tiga hingga 12 bulan.

Hasil studi dinilai menggembirakan, dan para peneliti percaya bahwa teknologi ini dapat melengkapi metode pengendalian nyamuk tradisional dan vaksin untuk lebih mengendalikan penularan demam berdarah dan penyakit lain yang dibawa oleh nyamuk Aedes. (BS)