Berandasehat.id – Puasa di bulan Ramadan selama sebulan penuh hukumnya wajib bagi umat Islam di seluruh dunia. Selain menjalankan ibadah wajib ain (wajib dilakukan setiap umat Muslim tanpa bisa diwakili), puasa diyakini memiliki sejumlah manfaat kesehatan yang sudah terbukti secara ilmiah.
Dr. Sherif Hassan, profesor penyakit dalam di Fakultas Kedokteran UC Riverside, menjawab sejumlah pertanyaan terkait manfaat puasa Ramadan. Ia memperoleh gelar kedokteran dan doktornya dari Universitas Kairo, Mesir, dan menyelesaikan pelatihan residensi di bidang kedokteran umum, bedah, dan patologi klinis dan kimia, dengan pengalaman puluhan tahun dalam pendidikan kedokteran, termasuk anatomi, neuroanatomi, pencitraan medis, dan embriologi.
Kepada laman MedicalXpress, Dr. Hassan berbagi wawasan tentang manfaat puasa dari perspektif medis. Menurutnya, puasa selama Ramadan (sejak fajar hingga magrib), secara fisiologis mirip dengan makan terbatas waktu (puasa intermiten), karena keduanya mengalihkan tubuh dari penggunaan glukosa ke lemak setelah 12–16 jam.
“Perbedaan utamanya adalah Ramadan melarang cairan selama siang hari, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi. Perubahan pola tidur selama Ramadan juga dapat memengaruhi hasil metabolisme,” ujarnya.
Apa yang terjadi di dalam tubuh selama puasa 12–16 jam?
Setelah cadangan glikogen menurun, insulin turun dan tubuh meningkatkan pemecahan lemak dan produksi keton ringan. Hormon pertumbuhan meningkat dan sensitivitas insulin dapat membaik sementara. Energi bergeser dari ketergantungan glukosa ke pemanfaatan lemak yang lebih besar.
Perbaikan jangka pendek pada glukosa, sensitivitas insulin, trigliserida, dan kolesterol baik (HDL) umumnya diamati. Efeknya sangat bergantung pada kualitas diet dan asupan kalori selama periode makan. Namun manfaat itu kerap berbalik jika kebiasaan makan sebelum puasa dilanjutkan.

Dr. Hassan juga menyoroti manfaat puasa bagi pria dan wanita. Wanita mungkin lebih sensitif secara hormonal terhadap pembatasan kalori yang berkepanjangan, terutama jika kekurangan berat badan atau stres.
Sejumlah wanita mungkin mengalami ketidak teraturan menstruasi dengan puasa yang agresif. “Pria dan wanita sehat umumnya dapat menoleransi puasa Ramadan dengan baik, tetapi variabilitas individu cukup signifikan,” ujarnya.
Puasa Ramadan aman bagi penderita diabetes tipe 2
Penderita diabetes tipe 2 dapat berpuasa dengan aman hanya jika terkontrol dengan baik dan diawasi secara medis, menurut Dr. Hassan. Waktu pemberian obat harus disesuaikan dan kadar glukosa dipantau dengan cermat.
Pasien berisiko tinggi (mereka yang memiliki kontrol diabetes yang buruk, ketergantungan insulin, atau penyakit ginjal) biasanya disarankan untuk tidak berpuasa.
Lantas, apakah puasa menurunkan tekanan darah atau meningkatkan kesehatan kardiovaskular? Penurunan tekanan darah yang moderat dan peningkatan penanda lipid sering terlihat.
Penurunan berat badan dan peningkatan sensitivitas insulin kemungkinan besar mendorong efek ini. Namun, dehidrasi dapat menyebabkan pusing atau fluktuasi tekanan darah.
Selain itu, penurunan berat badan selama Ramadan biasanya moderat dan kerap bersifat sementara. Keberhasilan jangka panjang bergantung pada kontrol kalori yang berkelanjutan dan pilihan makanan sehat. “Puasa itu sendiri adalah alat, bukan jaminan penurunan lemak,” Dr. Hassan mengingatkan.
Puasa dan penyakit jantung
Lebih lanjut dr. Hassan menyampaikan pasien sakit jantung yang stabil dapat berpuasa dengan aman dengan bimbingan dokter. Namun demikian penderita gagal jantung lanjut, angina tidak stabil, atau aritmia signifikan menghadapi risiko lebih tinggi akibat dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Untuk itu, penilaian risiko individu sangat penting.
Apakah puasa meningkatkan kejernihan mental atau fokus?
Beberapa orang melaporkan peningkatan kewaspadaan karena ketosis ringan dan peningkatan katekolamin. Yang lain mengalami kelelahan atau penurunan konsentrasi, terutama dengan dehidrasi atau kurang tidur. Respons kognitif sangat bervariasi antar individu.
Olahraga saat berpuasa
Olahraga ringan hingga sedang umumnya aman, terutama menjelang atau setelah berbuka puasa. Latihan intensif selama dehidrasi berkepanjangan meningkatkan risiko penyakit akibat panas dan kelelahan. Atlet harus mengoptimalkan hidrasi malam hari dan menyesuaikan beban latihan.
Apakah wanita hamil atau menyusui boleh berpuasa?
Wanita hamil umumnya disarankan untuk tidak berpuasa. Menyusui dapat dipengaruhi oleh hidrasi dan asupan kalori. Adapun lansia yang lemah berisiko lebih tinggi mengalami dehidrasi, jatuh, dan stres ginjal.
Siapa yang secara medis tidak boleh berpuasa, meskipun menginginkannya?
Mereka yang menderita diabetes yang tidak terkontrol, penyakit ginjal atau jantung stadium lanjut, penyakit hati berat, gangguan makan, atau penyakit akut tidak boleh berpuasa tanpa izin medis, Dr. Hassan menyarankan.
Risiko tinggi hipoglikemia atau dehidrasi merupakan kontraindikasi utama. Bahaya medis lebih besar daripada potensi manfaat pada kelompok ini.
Apakah ada kelompok orang yang lebih banyak mendapat manfaat dari puasa?
Individu yang kelebihan berat badan dan mereka yang mengalami resistensi insulin ringan sering kali mengalami perbaikan metabolisme yang paling signifikan.
Orang yang meningkatkan kualitas diet selama Ramadan lebih banyak mendapat manfaat daripada mereka yang mengonsumsi makanan tinggi kalori secara berlebihan.
Adapun individu kurus dan sehat secara metabolik mungkin hanya mengalami perubahan terukur minimal. (BS)