Berandasehat.id – Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan peningkatan gula darah akibat ketidakmampuan sekresi insulin, resistensi insulin, atau keduanya. Prevalensi penyakit ini mencapai 18,6 juta penderita per tahun. Yang meresahkan, sekira 19 persen hingga 34 persen dari keseluruhan pasien DM akan mengalami kondisi kaki diabetes.

Bila tak dikontrol atau dikelola dengan benar, diabetes dapat memicu komplikasi, mencakup komplikasi akut (koma diabetik) dan komplikasi kronis yang melibatkan komplikasi pada pembuluh darah kecil (mikrovaskular), pembuluh darah besar (makrovaskular), dan komplikasi bukan pembuluh darah (perlemakan hati, gangguan pergerakan usus, muskuloskletal, dan infeksi).

Disampaikan dr. Wirawan Hambali, Sp. P.D, FINASIM, Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah – Puri Indah, kaki diabetes bukan persoalan sepele mengingat data menyebut ada peluang 50 hingga 60 persen luka kaki diabetes akan mengalami infeksi, yang bisa berujung amputasi jika terlambat dirawat.

Kaki diabetes adalah komplikasi diabetes yang paling umum terjadi. Diperkirakan kondisi ini terjadi pada 15% pasien diabetes, lebih sering terjadi pada penyandang berusia lanjut. Sekitar 85% dari kasus amputasi tungkai bawah berkaitan dengan diabetes.

Komplikasi diabetes seperti kaki diabetes merupakan hal serius, dengan risiko seumur hidup 19 hingga 34 persen. “Kondisi ini mendahului 80 hingga 85 persen amputasi terkait diabetes, dengan mortalitas 5 tahun mencapai 30 hingga 50 persen,” ujar dr. Wirawan dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Indonesia menghadapi beban berat terkait diabetes, berada di peringkat lima dunia dari segi jumlah penderita DM. Ada sebanyak 20,4 juta orang penyandang diabetes pada 2024, dan diperkirakan menjadi 28,6 juta orang pada 2050. Adapun pasien undiganosed di Indonesia adalah sebanyak 73,2 persen. “Disayangkan, mereka sering kali datang berobat ketika sudah muncul komplikasi,” beber dr. Wirawan.

Proses perkembangan kaki diabetes

Kaki diabetes merupakan lesi yang melibatkan luka pada kulit, biasanya akibat kombinasi neuropati diabetik, iskemia, dan deformitas, yang memicu perkembangan nekrosis dan ulserasi pada permukaan telapak dan sisi ibu jari kaki.

Terkait proses terjadinya kaki diabetes, dr. Wirawan mengatakan gula darah tinggi (hiperglikemia) merusak saraf dan pembuluh darah kaki. Akibatnya, aliran darah yang terganggu menyebabkan jaringan kekurangan oksigen (hipoksia), sehingga luka sulit sembuh. “Selain itu, proses pembentukan pembuluh darah baru terganggu (impaired angiogenesis) dan keseimbangan kuman normal kulit berubah – terjadi perubahan mirkobiota, sehingga luka lebih mudah terinfeksi,” bebernya.

Kaki diabetes sering kali tidak menunjukkan gejala hingga mikroorganisme masuk dan berkembang biak di dalam luka, sehingga menyebabkan infeksi pada kaki.

Salah satu penyebab utama adalah kaki diabetes adalah neuropati perifer, yaitu kerusakan saraf pada kaki. Ketika saraf rusak, kaki menjadi kebas atau mati rasa. Penderita mungkin tidak merasakan sakit saat tertusuk benda tajam, terkena panas, atau mengalami lecet karena sepatu yang sempit.

Pengabaian luka kecil berujung serius

Luka kecil yang tidak terasa ini sering diabaikan. Karena tetap dipakai berjalan dan terus mendapat tekanan, luka tersebut dapat membesar dan menjadi serius. “Ada pasien diabetes yang bahkan tidak sadar kakinya luka digigit tikus,” ujar dr. Wirawan.

Kaki diabetes ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga tingkatan berdasarkan derajat ulserasi dan jenis infeksinya; ringan, sedang, dan berat. Pengobatan kaki diabetes bergantung pada tingkat keparahan luka/ulkus, mulai dari pemberian antibiotik hingga amputasi.

Perlu diingat, kaki diabetes atau luka kaki pada penderita diabetes bukan sebuah kondisi yang muncul secara tiba-tiba. “Prosesnya terjadi perlahan, sering kali tanpa disadari, akibat kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama,” bebernya.

Gula darah yang tidak terkontrol dapat merusak saraf dan pembuluh darah, terutama di bagian kaki. “Kombinasi kerusakan inilah yang akhirnya dapat menimbulkan luka yang sulit sembuh,” imbuh dr. Wirawan.

Charcot food dan Peripheral Artery Disease (PAD)

Pada sebagian kasus, kerusakan saraf yang berat dapat menyebabkan kondisi yang disebut Charcot foot. Dalam keadaan ini, tulang dan sendi kaki menjadi rapuh dan mudah berubah bentuk. Kaki bisa tampak membengkak atau melengkung tidak normal. Perubahan bentuk ini membuat beban tubuh tidak lagi terbagi merata saat berjalan, sehingga muncul titik-titik tekanan baru yang rentan menjadi luka.

dr. Wirawan Hambali, Sp. P.D, FINASIM

Lebih lanjut dr. Wirawan mengungkap, diabetes juga meningkatkan risiko terjadinya Peripheral Artery Disease (PAD), yaitu penyempitan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak. Jika aliran darah ke kaki berkurang, jaringan tidak mendapatkan cukup oksigen dan nutrisi. “Akibatnya, luka menjadi sulit sembuh. Tanda-tandanya bisa berupa kaki terasa dingin, pucat atau kebiruan, nyeri saat berjalan, serta berkurangnya pertumbuhan rambut di kaki,” ulasnya.

Poinnya, luka kecil yang tidak terasa karena neuropati, kulit pecah akibat gangguan saraf otonom, perubahan bentuk kaki yang meningkatkan tekanan, serta aliran darah yang kurang baik, semua saling memperburuk keadaan. “Luka yang awalnya tampak ringan dapat berkembang menjadi infeksi serius, bahkan berisiko menyebabkan gangren dan amputasi jika tidak ditangani dengan baik,” tandas dr. Wirawan.

Dia menekankan, dengan deteksi dini, pengelolaan gula darah yang baik, serta evaluasi dan intervensi vaskular yang tepat, risiko amputasi dapat dicegah.

“Dengan penanganan multidisiplin yang komprehensif, meliputi kendali metabolik, kendali vaskular, kendali infeksi, kendali luka, kontrol tekanan dan edukasi pasien, diharapkan mempercepat penyembuhan luka, mencegah komplikasi serius seperti infeksi berat dan gangren, menurunkan risiko amputasi, dan tentunya meningkatkan kualitas hidup pasien,” tandas dr. Wirawan. (BS)