Berandasehat.id – Seiring meningkatnya partisipasi masyarakat dalam aktivitas olahraga, risiko cedera otot dan sendi juga ikut meningkat.

Tren ini juga terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga sosial seperti padel, mengombinasikan pergerakan cepat, perubahan arah, dan aktivitas raket.

Tak dimungkiri, meningkatnya minat masyarakat terhadap olahraga membawa dampak positif bagi kesehatan. Namun, aktivitas tanpa pemanasan memadai maupun manajemen pemulihan seperti pendinginan dapat meningkatkan risiko nyeri otot dan cedera.

Studi epidemiologi olahraga global seperti Injury Epidemiology in Elite Adult Field Based Team Sports (Science Direct, 2023), menunjukkan cedera cukup umum terjadi saat aktivitas fisik, terutama pada lutut dan pergelangan kaki akibat gerakan repetitif.

“Nyeri pasca-aktivitas sering muncul akibat peningkatan intensitas latihan secara mendadak, teknik gerakan yang kurang tepat, atau minimnya pemanasan,” terang dr. Ega Jaya, Sp.KFR, AIFO-K, spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi dari Heisei Rehabilitation Clinic, dalam temu media di Jakarta, Rabu (4/3).

Pengguna mencoba perangkat terbaru berbasis TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) untuk redakan nyerinoyit dan sendi (dok. Berandasehat.id)

Kajian ilmiah yang dipublikasikan Research Gate pada 2025 menegaskan bahwa pemanasan membantu menurunkan risiko cedera, sementara pendinginan berperan dalam mendukung proses pemulihan serta membantu mengurangi keluhan nyeri setelah aktivitas fisik.

Kondisi tersebut menegaskan bahwa peningkatan aktivitas fisik perlu diimbangi dengan pemahaman pencegahan cedera serta pemulihan otot dan sendi yang tepat.

Edukasi mengenai manajemen nyeri dan akses terhadap solusi terapi yang praktis menjadi semakin penting agar masyarakat dapat tetap aktif berolahraga secara aman tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.

Gangguan muskuloskeletal masih menjadi salah satu penyebab utama disabilitas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam WHO Guideline on Chronic Low Back Pain (2023) melaporkan sekitar 619 juta orang mengalami nyeri punggung bawah pada 2020, dan jumlah ini diproyeksikan terus meningkat seiring perubahan gaya hidup serta penuaan populasi.

Muskuloskeletal adalah sistem tubuh yang terdiri dari otot (musculus) dan rangka/tulang (skeletal), serta jaringan ikat pendukung seperti sendi, ligamen, tendon, dan tulang rawan.

Menurut dr. Ega, ada cara untuk meredakan keluhan itu, di antaranya melalui pendekatan tanpa obat seperti stimulasi saraf listrik dapat membantu mengurangi persepsi nyeri dan mendukung relaksasi otot. “Diharapkan proses pemulihan menjadi lebih optimal jika digunakan sesuai anjuran,” ujarnya.

Melihat kebutuhan pemulihan yang semakin relevan tersebut, solusi terapi nyeri yang praktis dan dapat digunakan secara mandiri menjadi salah satuopsi yang semakin dipertimbangkan masyarakat.

Menjawab kebutuhan ini, OMRON Healthcare Indonesia memperkenalkan perangkat terbaru berbasis TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation) untuk membantu mengelola nyeri otot dan sendi lebih praktis.

“Inisiatif ini sejalan dengan komitmen perusahaan menghadirkan inovasi kesehatan berbasis teknologi yang mudah diakses serta relevan dengan kebutuhan masyarakat modern,” ujar Tomoaki Watanabe, Director OMRON Healthcare Indonesia.

Dua perangkat terbaru, OMRON Sport TENS HV-F030 dan OMRON TENS HV-F230, menjadi bagian dari penguatan lini solusi terapi nyeri yang semakin personal, praktis, dan selaras dengan kebutuhan masyarakat aktif saat ini.

OMRON Sport TENS HV-F030 dirancang untuk mendukung pemulihan setelah aktivitas fisik maupun olahraga rutin. Perangkat ini memiliki satu bantalan otot dan dua bantalan sendi, sehingga pengguna dapat menyesuaikan pemasangan bantalan pada bagian tubuh yang nyeri.

Dilengkapi lima mode terapi, 15 tingkat intensitas yang dapat disesuaikan, serta sesi terapi otomatis selama 15 menit, perangkat ini praktis digunakan setelah berbagai aktivitas, mulai dari pekerjaan harian hingga olahraga dengan intensitas cukup tinggi, seperti padel.

Peluncuran perangkat TENS terbaru dari Omron

Desainnya yang ringkas dan portabel juga memudahkan penggunaan kapan saja sesuai kebutuhan.

Adapun OMRON TENS HV-F230 menawarkan tingkat kustomisasi terapi yang lebih tinggi. Perangkat ini cocok digunakan sebagai solusi pereda nyeri bagi pengguna usia lanjut.

HV-F230 dilengkapi dengan 12 mode terapi utama, 4 mode tambahan, serta 20 tingkat intensitas, memberikan fleksibilitas dalam menyesuaikan terapi sesuai kebutuhan dan tingkat kenyamanan masing-masing pengguna.

Desain antarmuka yang intuitif dengan tampilan layar yang jelas serta kontrol yang sederhana membuat perangkat ini mudah dioperasikan, termasuk bagi pengguna yang baru mencoba terapi nyeri mandiri di rumah. (BS)