Berandasehat.id – Gangguan spektrum autisme (ASD) merupakan kondiri perkembangan mental yang ditandai dengan perbedaan dalam cara orang belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain, serta perilaku yang terbatas atau berulang.

Banyak studi psikologi sebelumnya telah mengeksplorasi fitur unik autisme, mengumpulkan wawasan penting yang telah membantu mengembangkan program pendidikan dan pendekatan psikoterapi yang disesuaikan untuk individu autis.

Beberapa penelitian secara khusus fokus pada hubungan antara autisme dan kemampuan matematika. Namun, temuan yang dikumpulkan sejauh ini kerap tidak konsisten, karena orang autis dapat memiliki kualitas dan karakteristik unik yang sangat berbeda.

Untuk mengurai misteri ini, para peneliti di Universitas Hong Kong dan Universitas Sun Yat-sen baru-baru ini meninjau beberapa studi sebelumnya yang fokus pada autisme untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana autisme berhubungan dengan keterampilan matematika.

Dalam makalah yang diterbitkan di Nature Human Behavior, kajian menunjukkan rata-rata orang autis mendapat skor lebih rendah dalam tes matematika daripada individu bukan kondisi itu, dan kemampuan matematika sangat bervariasi di antara orang autis.

“Karakteristik fundamental kemampuan matematika pada individu dengan ASD, khususnya kemahiran dan variabilitas, masih belum dipahami secara memadai,” tulis Jiaxi Li, Zijun Ke, dan rekan.

Dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis itu tim peneliti mengatasi kesenjangan ini dengan mensintesis bukti tentang kemampuan matematika pada individu autis dibandingkan dengan populasi bukan autis. Pencarian di berbagai basis data menghasilkan 66 studi.

Untuk mengeksplorasi hubungan antara autisme dan kemampuan matematika, Li, Ke, dan rekan-rekan mereka menganalisis temuan dari 66 studi penelitian masa lalu, sambil juga memeriksa kualitas dan keandalan metode yang digunakan untuk mengumpulkan temuan ini.

Tim kemudian menggabungkan hasil dari upaya penelitian masa lalu ini menggunakan metode statistik umum yang digunakan untuk melakukan meta-analisis.

Risiko bias dinilai menggunakan daftar periksa Joanna Briggs Institute yang diadaptasi. Meta-analisis efek acak menggunakan Hedges’ g dan logaritma natural dari rasio variabilitas (lnVR) sebagai ukuran efek.

Adapun bias publikasi disesuaikan dengan menggunakan uji efek presisi dan estimasi efek presisi dengan kesalahan standar, serta model seleksi tiga parameter.

Para peneliti juga mencoba menentukan apakah kemampuan matematika individu autis yang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya dipengaruhi oleh usia peserta penelitian, IQ (koefisien kecerdasan) mereka, dan oleh bias implisit yang terkait dengan desain penelitian.

Kajian menemukan bahwa baik kecerdasan maupun usia memengaruhi variabilitas yang diamati dalam kemampuan matematika individu autis yang ikut serta dalam penelitian tersebut.

Hasil penelitian terbaru ini menunjukkan bahwa sebagian besar individu autis memiliki kinerja yang lebih buruk pada tes matematika dibandingkan individu bukan autis. Menariknya, para peneliti juga menemukan bahwa perbedaan dalam kemampuan matematika antara orang autis dan bukan autis melebar selama beberapa dekade terakhir.

Hal ini menyoroti perlunya peningkatan pendidikan untuk anak-anak dan remaja autis, dengan mempertimbangkan perbedaan terkait ASD dan memberikan dukungan yang lebih baik kepada siswa saat mereka belajar matematika.

Selain itu, tim tersebut mengidentifikasi beberapa masalah metodologis yang mungkin menjelaskan inkonsistensi yang diamati di antara temuan penelitian sebelumnya.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang dilakukan oleh Li, Ke, dan rekan-rekan mereka dapat memandu desain studi baru yang menyelidiki hubungan antara ASD dan kemampuan matematika. Sudi ini juga dapat berkontribusi pada pengenalan program matematika tingkat rendah dan tinggi yang dipersonalisasi untuk orang autis. (BS)