Berandasehat.id – Cut Meyriska, ibu dua anak, ternyata pernah jadi pejuang berat badan saat anak-anaknya mengalami ‘BB seret’ alias susah naik. Dia mengaku cemas saat menghadapi timbangan tiap bulan meskipun sudah memberikan anak-anak makanan bergizi.

“Masalah berat badan anak selalu bikin deg-degan tiap bulan. Nutrisi yang diberikan sudah tepat namun kenaikan berat badan anak masih menantang, sulit naik,” ujar Cut di acara diskusi media sekaligus peluncuran kampanye ‘Pejuang Berat Badan Anak’ yang dihelat Sarihusada di Jakarta, Jumat (6/3).

Cut tentu saja tidak sendiri, karena banyak ibu lain yang menghadapi masalah yang sama pada balitanya. “BB seret sering jadi kekhawatiran utama, tapi jangan merasa sendirian. Pengalaman saya saat anak mengalami BB seret, terpenting adalah tetap tenang, pantau pertumbuhan anak secara rutin, penuhi kebutuhan gizinya dengan optimal, dan jangan ragu berkonsultasi dengan dokter untuk menemukan solusi tepat,” ujarnya.

Menurut dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja Sp.A, untuk menambah berat badan anak sejatinya tidak sulit, asal tahu caranya. “Naikin BB anak nggak susah, asal tahu caranya,” cetusnya.

Meskipun demikian, masih banyak orang tua yang punya masalah dalam menambah berat badan buah hati dengan berbagai alasan. Dia mengaku di ruang praktik, tiap minggu masih menemukan pasien yang datang membawa anak dalam kondisi gizi kurang, bahkan memasuki fase stunting.

Diskusi dan peluncuran kampanye Pejuang Berat Badan Anak

“Indonesia itu gawat darurat stunting. Tiap minggu ketemu anak stunting bahkan di kota besar dan berasal dari keluarga menengah atas ada saja anak stunting,” ulasnya.

Menurut dr. Ian, stunting tak terjadi tiba-tiba, melainkan berlangsung dalam hitungan bulan. “Anak stunting tidak terjadi dalam hitungan hari, itu terjadi bisa dua hingga tiga bulan saat berat badan dan tinggi badan anak nggak naik bisa masuk fase stunting karena masalah defisiensi nutrisi jangka panjang,” bebernya.

Lebih lanjut dr. Ian mengatakan, ada perbedaan antara stunted dan stunting. “Anak bisa mengalami stunting karena masalah kekurangan gizi, mungkin karena ada penyakit tertentu sehingga nutrisi yang masuk ke tubuh tidak bermanfaat menaikkan berat dan tinggi badan,” terangnya.

Sedangkan stunted lebih terkait masalah genetik, gangguan hormon atau sindrom tertentu yang tidak terkait nutrisi.

“Masalah utama yang dihadapi Indonesia saat ini stunting. Untuk memantau pertumbuhan anak, orang tua perlu menggunakan acuan kurva pertumbuhan. Lihat kurvanya apakah berat dan tinggi badan anak sesuai. kalau berat badan anak naik namun trennya melandai, itu sinyal nggak bagus, pertanda ada masalah, harus selekasnya diintervensi,” tutur dr. Ian seraya menyarankan agar orang tua rutin setiap bulan konsultasi dengan dokter anak sampai usia satu tahun untuk memantau tumbuh kembangnya.

Dia mengingatkan agar orang tua jangan keburu senang saat BB anak naik. “Harus dicek lagi naiknya sesuai target apa nggak. Kalau pun naik tapi nggak sesuai kurva pertumbuhan, itu disebut BB naik tapi tidak sehat. Lihat kurva pertumbuhan di buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) sebagai acuan,” sarannya.

Untuk meningkatkan berat badan anak sesuai kurva pertumbuhan, dr. Ian menyarankan praktik pemberian makan yang benar. “Kalau feeding rulesnya salah, bisa saja BB anak jadi nggak naik,” ujarnya.

Penting bagi orang tua menerapkan feeding rules yang melatih anak mengenali sinyal lapar dan kenyangnya sendiri. “Berikan makan anak dengan mengikuti sinyal lapar dan kenyangnya sendiri. Anak akan makan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan fisiologisnya sendiri dan dapat mencegah terjadinya overfeeding alias makan berlebih. Hal ini dapat membantu anak memiliki berat badan yang sehat,” ujarnya.

Selain itu, orang tua harus memahami responsive feeding (pemberian makan responsif) dengan jadwal makan teratur. Tak kalah penting, pastikan anak mengonsumsi cukup karbohidrat sebagai sumber kalori dan protein hewani (misal telur dan susu) sesuai usia. “Protein hewani penting untuk mencegah stunting karena mengandung asam amino lengkap,” cetus dr. Ian.

Bila feeding rules sudah dijalankan namun BB anak tetap seret, orang tua harus cepat tanggap dan konsultasi ke tenaga kesehatan. “Bisa jadi anak ada penyakit infeksi, anema atau TBC yang membuat berat badannya sulit naik yang berpotensi menghambat pertumbuhan,” ulasnya.

BB anak yang sulit naik sehingga kurus, dokter mungkin akan meresepkan sutingkal (susu tinggi kalori) untuk membantu agar berat badan anak naik. “Naikin BB anak harus naikin kalori, dan itu bisa pakai sutingkal yang punya kalori lebih tunggi dari susu formula biasa. Namun ini harus sesuai saran dokter, tidak bisa dikonsumsi sembarangan,” tandas dr. Ian.

Skrining status gizi anak

Guna mendukung orang tua pejuang berat badan buah hatinya, sarihusada merilis Pejuang Berat Badan Anak, bertujuan untuk mengajak para ibu agar lebih memahami pentingnya nutrisi seimbang, deteksi dini, dan pemantauan rutin agar anak mencapai berat badan ideal serta terhindar dari gangguan pertumbuhan.

Peluncuran kampanye Pejuang Berat Badan Anak

Kampanye ini juga merupakan keberlanjutan dari komitmen dan upaya Sarihusada yang telah berhasil dilakukan pada 2025 melalui gerakan Generasi Maju Bebas Stunting (GMBS) dan kampanye aksi 3 Langkah Maju yang telah meraih Rekor MURI skrining pertumbuhan anak terbanyak dengan menjangkau 1 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Angelia Susanto, Healthcare Nutrition Marketing & Strategy Director Sarihusada mengatakan kampanye Pejuang Berat Badan Anak dilakukan untuk terus memperluas jangkauan edukasi dan skrining status gizi anak. “Melalui inisiatif ini, para ibu diajak untuk deteksi sejak dini risiko gangguan pertumbuhan panak dan bergabung dalam kampanye Pejuang Berat Badan Anak dengan melakukan Growth Checker yang dapat diakses melalui bit.ly/pejuangbbanak-alodokter,” ujarnya.

Diharapkan kampanye ini berkontribusi mendukung pemerintah dalam upaya mengatasi permasalahan kesehatan anak Indonesia sedini mungkin, dan memberikan intervensi gizi yang tepat dalam mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius. (BS)