Berandasehat.id – Masih banyak orang beranggapan nyeri dada berat seperti terbakar sebagai GERD (refluks asam lambung naik ke kerongkongan yang menimbulkan sensasi panas terbakar) atau bahkan angin duduk, sehingga banyak yang melakukan kerokan dengan harapan angin duduk itu segera enyah dan keluhan nyeri berlalu.
Sikap semacam ini bisa berakibat fatal, karena penderita bisa kehilangan nyawa karena terlambat ditolong.
“Banyak pasien yang merasakan nyeri dada berat tertekan seperti terbakar, rasanya seperti tertimpa benda berat atau didudukin orang. Mereka menyebutnya angin duduk, biar angin keluar dikerok. Saya sering dapat pasien dengan badan merah habis dikerok. Padahal bukan itu sebabnya,” ujar Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Jantung dan Pembuluh Darah Kardiologi Intervensi Pondok Indah Heart Center dr. Nanda Iryuza, Sp. J.P, Subsp. K.I. (K), FIHA, FAPSIC dalam temu media di Jakarta, baru-baru ini.
Keluhan semacam itu merupakan gejala serangan jantung, bukan angin duduk. “Kalau saat istirahat tiba-tiba merasakan dada sesak, hati-hati. Itu juga tanda serangan jantung,” ujar dr. Nanda.
Banyak kejadian pasien mengalami serangan jantung saat tidur sehingga terlambat dibawa ke rumah sakit yang berujung pada kematian.
Saat mengalami nyeri yang berasal dari dada kiri, kemudian menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang bahkan telinga, harus dicurigai sebagai serangan jantung. “Apalagi jika ditandai keluar keringat dingin yang muncul tiba-tiba tanpa sebab jelas seperti berada di sauna, harus secepatnya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.Jika muncul kondisi itu jangan lama-lama karena penderita sedang dalam ancaman kematian. Itu gejala serangan jantung akibat penyumbatan,” cetus dr. Nanda.

Lebih lanjut ia mengungkap, ada banyak gangguan atau penyakit yang dapat menyerang jantung, salah satunya adalah penyumbatan jantung. “Ini terjadi pada pembuluh darah koroner yang berfungsi menyuplai oksigen ke otot-otot jantung. Jika dibiarkan, penyumbatan jantung berisiko menyebabkan sejumlah masalah kesehatan serius,” bebernya. “Penyumbatan jantung yang tidak segera ditangani berisiko menyebabkan seperti serangan jantung (infark miokard), aritmia (detak jantung tidak teratur), bahkan gagal jantung.”
Penyumbatan jantung, atau penyakit jantung koroner (PJK) adalah kondisi terjadinya penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri koroner akibat penumpukan plak (lemak, kolesterol, dan kalsium) yang dikenal sebagai aterosklerosis. Kondisi itu dapat menghambat aliran darah dan suplai oksigen ke otot jantung (iskemia), sehingga menimbulkan ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen jantung dan ketersediaan suplai darah. “Jika tidak ditangani, kondisi ini berisiko menyebabkan serangan jantung,” terang dr. Nanda.
Pasien yang megalami serangan jantung berkejaran dengan waktu. Jika ada anggota keluarga atau menemui orang dengan gejala-gejala di atas, segera dibawa ke Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan.
Fasilitas kesehatan umumnya memiliki alat bantu hidup dasar dan kejut jantung yang dapat digunakan sebagai pertolongan pertama. “Semakin cepat kondisi ini ditangani, maka semakin banyak otot jantung yang dapat diselamatkan dan mencegah terjadinya komplikasi yang lebih buruk,” ujar dr. Nanda.
Penanganan serangan jantung dan teknologi pencitraan intravaskular
Penanganan serangan jantung bertujuan untuk mengurangi gejala, mencegah komplikasi, dan meningkatkan fungsi jantung. “Jenis penanganan ditentukan setelah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah mendapatkan hasil pemeriksaan awal,” beber dr. Nanda.
Beberapa metode penanganan serangan jantung mencakup terapi obat, dengan pemberian obat pengencer darah dan penurun kolesterol untuk menstabilkan plak. Opsi berikutnya adalah pemasangan stent/ring (percutaneous coronary intervention/PCI), yakni prosedur minimal invasive untuk membuka pembuluh darah yang tersumbat. Dokter spesialis jantung juga dapat melakukan tindakan bypass (coronary artery bypass grafting/CABG), prosedur pembedahan untuk membuat jalur aliran darah baru melewati area sumbatan parah, jika dibutuhkan.
Pemasangan ring/stent biasa zaman dulu bisa menimbulkan masalah di masa depan karena tidak diketahui ukuran yang tepat, atau apakah pasien memang butuh ring sebagai solusinya. Hal itu dapat diatasi dengan menggunakan teknologi pencitraan intravaskular, yang memberikan gambaran visual yang akurat mengenai struktur dinding arteri dan tingkat penyempitan.
“Teknologi ini membantu dokter dalam mengambil keputusan tindakan yang lebih tepat, seperti perlu atau tidaknya pemasangan stent/ring,” ujar dr. Nanda seraya menambahkan penggunaan teknologi ini sangat membantu dalam memastikan diagnosis yang lebih akurat dan perencanaan terapi yang optimal sesuai dengan kondisi pasien.
Bagi pasien yang memiliki sakit jantung namun sulit dipasang ring/stent, teknologi intravenous lithotripsy (IVL) menggunakan gelombang kejut untuk memecahkan kalsium atau kapur yang keras pada dinding pembuluh darah koroner. Menggunakan balon khusus yang dimasukkan melalui kateter, yang kemudian mengeluarkan energi suara untuk meretakkan kerak kalsium tanpa merusak jaringan lunak pembuluh darah.

IVL mampu menangani sumbatan yang sangat keras (kalsifikasi berat) yang sulit ditembus oleh balon biasa atau pemasangan stent/ring standar. Teknologi ini bekerja spesifik pada jaringan keras (kalsium), sehingga meminimalkan risiko robekan atau trauma pada dinding pembuluh darah yang sehat, nembuat pembuluh darah lebih lentur sehingga stent/ring dapat mengembang dengan baik.
“Prosedur IVL direkomendasikan pada pasien dengan penyempitan pembuluh darah koroner yang disertai kalsifikasi berat. Selain itu, IVL juga digunakan sebagai persiapan sebelum pemasangan stent/ring agar tidak terhambat oleh dinding pembuluh darah yang kaku,” tandas dr. Nanda.
Pemulihan setelah serangan jantung umumnya berlangsung antara 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada kondisi masing-masing pasien. Pada fase ini, sangat penting untuk mulai menerapkan perubahan gaya hidup guna menurunkan risiko serangan jantung di masa mendatang.
Perubahan tersebut meliputi olahraga teratur sesuai anjuran dokter, pola makan sehat untuk jantung, serta berhenti merokok, serta menjalankan terapi pengobatan yang dianjurkan dokter. (BS)