Berandasehat.id – Kesehatan otak, yang mencakup fungsi kognitif dan emosional, adalah salah satu tantangan kesehatan masyarakat utama abad ke-21. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari satu dari tiga orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan neurologis seperti stroke, epilepsi, atau penyakit Parkinson, sementara lebih dari satu dari dua orang akan mengalami gangguan mental, termasuk depresi, gangguan kecemasan, atau skizofrenia.

Seiring bertambahnya usia populasi, angka-angka ini terus meningkat. Bahkan pada orang dewasa yang sehat, kesehatan otak berfluktuasi dari waktu ke waktu, mencerminkan interaksi antara berbagai faktor, termasuk pengaruh lingkungan dan kebiasaan gaya hidup individu.

Oleh karena itu, menganalisis perubahan fungsi kognitif dan emosional dari hari ke hari atau dari minggu ke minggu sangat penting untuk memungkinkan strategi pencegahan yang proaktif dan individual.

Apakah ponsel atau jam tangan pintar membantu mendeteksi tanda-tanda awal penyakit neurologis atau mental? Ternyata bisa. Untuk mencari tahu hal ini, Para peneliti di Universitas Jenewa (UNIGE) memantau sekelompok peserta yang mengenakan perangkat terhubung, dan menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis data seperti detak jantung, aktivitas fisik, tidur, dan polusi udara.

Temuan mereka menunjukkan bahwa perangkat terhubung dapat secara akurat memprediksi fluktuasi emosional dan kognitif, membuka jalan baru untuk deteksi dini perubahan kesehatan otak, menurut studi yang diterbitkan di npj Digital Medicine.

Tim di Universitas Jenewa (UNIGE) berupaya menentukan apakah teknologi yang dapat dikenakan dan seluler dapat digunakan untuk memantau kesehatan otak secara terus menerus dan non-invasif. Untuk tujuan ini, 88 relawan berusia antara 45 hingga 77 tahun dilengkapi dengan aplikasi ponsel pintar khusus dan jam tangan pintar.

Selama periode 10 bulan, perangkat ini mengumpulkan data ‘pasif’ dalam artian tanpa intervensi atau perubahan apa pun dalam kebiasaan harian peserta, termasuk detak jantung, aktivitas fisik, pola tidur, serta kondisi cuaca dan tingkat polusi udara.

Ada total 21 indikator dianalisis.

Setiap tiga bulan, peserta juga memberikan data ‘aktif’ dengan mengisi kuesioner tentang keadaan emosional mereka dan menjalani tes kinerja kognitif.

Setelah pengumpulan data selesai, data pasif dianalisis menggunakan kecerdasan buatan yang dikembangkan sebagai bagian dari proyek tersebut.

“Tujuannya adalah untuk menentukan apakah AI dapat memprediksi fluktuasi kesehatan kognitif dan emosional peserta berdasarkan data ini,” jelas Igor Matias, asisten doktoral di Institut Penelitian Statistik dan Ilmu Informasi di Sekolah Ekonomi dan Manajemen Jenewa (GSEM) di UNIGE dan penulis utama studi.

Prediksi berbasis AI kemudian dibandingkan dengan hasil kuesioner dan tes. “Rata-rata, tingkat kesalahan hanya 12,5%, membuka kemungkinan baru untuk penggunaan perangkat terhubung dalam deteksi dini kelainan atau perubahan kesehatan otak,” imbuh peneliti.

Keadaan emosional paling mudah diprediksi

Keadaan emosional paling akurat diprediksi oleh kecerdasan buatan, dengan tingkat kesalahan umumnya berkisar antara 5% hingga 10%. Sebaliknya, keadaan kognitif diprediksi kurang tepat, dengan tingkat kesalahan berkisar antara 10% hingga 20%.

Dengan kata lain, AI berkinerja lebih baik dalam memprediksi respons terhadap kuesioner emosional daripada tes kognitif.

Mengenai relevansi indikator pasif, polusi udara, kondisi cuaca, detak jantung harian, dan variabilitas tidur muncul sebagai faktor yang paling informatif untuk kognisi. Untuk keadaan emosional, faktor yang paling berpengaruh terutama adalah cuaca, variabilitas tidur, dan detak jantung selama tidur.

Penelitian ini diawasi oleh Prof. Katarzyna Wac dari Institut Penelitian Statistik dan Ilmu Informasi di GSEM dan Prof. Matthias Kliegel dari Laboratorium Penuaan Kognitif di Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan, merupakan bagian dari proyek fakultas bersama Providemus alz.

Fase selanjutnya sudah berjalan. Tahap ini bertujuan untuk mengumpulkan jenis data yang sama selama periode 24 bulan, sambil memeriksa karakteristik individu peserta yang terkait dengan model AI berkinerja tertinggi dan terendah, untuk lebih memahami penerapannya dalam skenario individual di dunia nyata, demikian laporan MedicalXpress. (BS)