Berandasehat.id – Selama beberapa dekade, para peneliti telah menyelidiki hubungan antara penyakit gusi dan kesehatan kardiovaskular.
Penyakit gusi dimulai ketika lapisan lengket yang penuh bakteri yang disebut plak menumpuk di sekitar gigi.
Jenis plak yang sama sekali berbeda, terbuat dari lemak, kolesterol, kalsium, dan zat lain yang ditemukan dalam darah, dapat menumpuk di dalam arteri. Dikenal sebagai aterosklerosis, plak lemak ini merupakan ciri khas penyakit arteri koroner.
Orang dengan penyakit gusi (juga dikenal sebagai penyakit periodontal/periodontitis) memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat mengalami serangan jantung, stroke, atau kejadian kardiovaskular serius lainnya. Tetapi mungkin tidak ada hubungan langsung.
Banyak orang dengan penyakit jantung memiliki gusi yang sehat, dan tidak semua orang dengan penyakit gusi mengembangkan masalah jantung. Faktor risiko bersama, seperti merokok atau diet yang tidak sehat, dapat menjelaskan hubungan tersebut.
Namun demikian, ada kecurigaan yang berkembang bahwa penyakit gusi mungkin merupakan faktor risiko independen untuk penyakit jantung.
Periodontitis dapat menyebabkan kehilangan gigi. Bakteri penyebab periodontitis dapat masuk ke aliran darah melalui jaringan gusi, dan berpotensi memengaruhi bagian tubuh lainnya.

Misalnya, periodontitis dikaitkan dengan penyakit pernapasan, rheumatoid arthritis, penyakit arteri koroner, kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah, serta masalah pengendalian gula darah pada penderita diabetes, menurut laman Mayo Clinic.
Gingivitis (radang gusi) adalah penyakit gusi tahap awal yang disebabkan oleh penumpukan plak bakteri, ditandai dengan gusi merah, bengkak, dan mudah berdarah.
Jika dibiarkan tanpa perawatan, gingivitis dapat berubah menjadi penyakit periodontal Gusi menjadi longgar di sekitar akar gigi, menciptakan kantung gusi yang secara bertahap semakin dalam. Akhirnya, infeksi dan peradangan dapat menyebabkan gigi menjadi longgar dan mungkin tanggal.
Tanda-tanda penyakit gusi
Salah satu tanda berikut dapat menjadi petunjuk penyakit periodontal, antara lain gusi bengkak, merah, atau nyeri; gusi mudah berdarah, nanah di antara gigi dan gusi, bau mulut, penumpukan endapan cokelat keras di sepanjang garis gusi, gigi goyang atau gigi yang bergeser, perubahan pada cara alat bantu gigi terpasang, menurut laman Harvard Medical School.
Penyakit gusi dan beban peradangan
“Penyakit periodontal meningkatkan beban peradangan dalam tubuh,” menurut spesialis penyakit gusi Dr. Hatice Hasturk dari Forsyth Institute yang berafiliasi dengan Harvard, sebuah organisasi penelitian nirlaba yang berfokus pada kesehatan mulut.
Mengatasi peradangan kronis telah menjadi fokus utama penelitian medis dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian awal oleh Dr. Hasturk dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa senyawa unik yang disebut resolvin dinilai menjanjikan untuk mengobati penyakit yang terkait dengan peradangan seperti periodontitis dan aterosklerosis.
Untuk mengeksplorasi hubungan antara kesehatan mulut dan jantung, Dr. Hasturk dan rekan-rekannya menggunakan kelinci yang diberi makanan kaya kolesterol sebagai model untuk meniru penyakit jantung manusia.
Beberapa kelinci kemudian diinfeksi dengan bakteri yang diketahui menyebabkan penyakit periodontal. Kelinci-kelinci tersebut mengembangkan plak aterosklerotik yang kurang stabil (dan karena itu lebih mungkin menyebabkan serangan jantung) dan juga memiliki kadar peradangan dalam darah yang lebih tinggi daripada kelinci yang tidak terpapar bakteri penyakit gusi.
Selanjutnya, para peneliti mengobati kelinci-kelinci tersebut dengan cairan topikal oral yang mengandung resolvin, yaitu molekul yang berasal dari asam lemak omega-3 yang diyakini dapat membantu meredakan peradangan.
Pengobatan tersebut tidak hanya mencegah penyakit periodontal pada kelinci yang terinfeksi, tetapi juga menurunkan peradangan dan aterosklerosis.
Temuan ini menyoroti potensi hubungan antara kedua kondisi tersebut, kata Dr. Alpdogan Kantarci, seorang kolega Dr. Hasturk di Forsyth Institute yang terlibat dalam penelitian tersebut.
“Jika dapat mengendalikan satu jenis peradangan, Anda mungkin dapat mengendalikan jenis peradangan lainnya,” katanya.
Hingga saat ini, belum ada bukti bahwa pengobatan penyakit gusi akan mencegah penyakit kardiovaskular atau komplikasinya. Namun, hubungan tersebut cukup meyakinkan sehingga dokter gigi (dan banyak dokter) mengatakan bahwa ini adalah alasan lain untuk waspada dalam mencegah penyakit gusi sejak awal.
Pencegahan penyakit gusi
Menyikat gigi dan menggunakan benang gigi setiap hari dapat mencegah dan bahkan membalikkan tahap awal penyakit gusi, yang dikenal sebagai gingivitis.
Menggunakan benang gigi membersihkan lapisan lengket di antara gigi yang menyebabkan penumpukan plak. Pembersihan dua kali setahun oleh dokter gigi atau ahli kebersihan gigi juga disarankan. (BS)