Berandasehat.id – Bukan rahasia lagi bahwa olahraga bermanfaat bagi pikiran dan tubuh, diakui sebagai alat yang ampuh untuk menjaga kesehatan otak seiring bertambahnya usia.
Sebuah studi baru dalam Alzheimer’s Research & Therapy mengatakan bahwa hanya melakukan aktivitas fisik saja tidak cukup.
Para peneliti menemukan bahwa bagaimana kita menyusun aktivitas fisik seperti halnya sesi individu diatur dan dikelola, mungkin lebih penting untuk kesehatan otak seiring bertambahnya usia daripada jumlah total aktivitas.
Peserta yang mengikuti sesi aktivitas fisik terstruktur yang didefinisikan oleh para peneliti sebagai setidaknya 10 menit gerakan dengan kecepatan 40 langkah per menit atau lebih menunjukkan keuntungan yang jelas.
Mereka yang melakukan hal itu punya tingkat beban intensitas berlebih materi putih yang lebih rendah, penanda utama cedera serebrovaskular, dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikuti sesi tersebut.
Identifikasi elemen yang bermanfaat
Studi telah menemukan bahwa melakukan aktivitas fisik dapat meningkatkan kemampuan kognitif, mengurangi risiko demensia, dan membantu menjaga struktur otak yang sehat pada orang dewasa yang lebih tua.

Namun, sebagian besar data ini berasal dari penelitian observasional. Temuan ini tidak selalu direplikasi dalam uji coba terkontrol secara acak, yang sebagian besar menunjukkan hasil yang beragam.
Perbedaan ini mungkin berasal dari variabilitas yang luas dalam bagaimana program aktivitas fisik dirancang untuk kesehatan otak dan dari pemahaman kita yang terbatas tentang elemen olahraga mana (mencakup intensitas, durasi, atau frekuensi) yang memberikan manfaat terbesar bagi kesehatan otak.
Guna mengatasi kesenjangan ini, penting untuk mengembangkan rekomendasi aktivitas fisik berbasis bukti yang dapat diikuti oleh lansia untuk melindungi kesehatan kognitif mereka dan mengurangi risiko demensia/kepikunan.
Mengidentifikasi elemen-elemen ini memiliki tantangan metodologis tersendiri, yang berkisar dari ketergantungan pada ukuran luas seperti total langkah harian atau waktu yang dihabiskan dalam aktivitas sedang hingga berat hingga menggunakan ukuran yang dilaporkan sendiri atau umum.
Kemajuan dalam teknologi yang dapat dikenakan telah membuka jalan untuk memeriksa gerakan dunia nyata hingga setiap menit, yang secara signifikan lebih akurat daripada meminta seseorang untuk mengingat rutinitas olahraga mereka.
Dengan memanfaatkan teknologi ini, para peneliti melacak 279 orang dewasa berusia 40 hingga 91 tahun yang tidak menderita demensia.
Setiap peserta mengenakan Fitbit, perangkat pemantau aktigrafi pergelangan tangan, selama 30 hari berturut-turut, yang menangkap semuanya mulai dari olahraga yang disengaja hingga gerakan sehari-hari seperti pekerjaan rumah tangga.
Tim tersebut menyertakan rentang usia yang luas bagi peserta untuk mengukur dengan lebih baik bagaimana aktivitas fisik dapat memengaruhi otak secara berbeda seiring bertambahnya usia.
Para peneliti merancang algoritma baru untuk mengidentifikasi sesi gerakan yang disengaja dari data Fitbit yang berkelanjutan, di mana satu sesi didefinisikan sebagai setidaknya 10 menit berjalan kaki dengan kecepatan 40 langkah per menit atau lebih cepat.
Berdasarkan data tersebut, mereka membagi kelompok menjadi: peserta yang berolahraga, yang menyelesaikan setidaknya satu sesi yang memenuhi aturan di atas, dan peserta yang tidak berolahraga, yang tidak menyelesaikan satu pun sesi yang disengaja.
Untuk menganalisis dampak aktivitas fisik, tim melakukan pemindaian MRI resolusi tinggi untuk mengukur ukuran wilayah otak tertentu dan kesehatan materi putih.
Mereka juga meminta peserta untuk menyelesaikan permainan otak yang dirancang untuk menguji memori, kecepatan mental, dan keterampilan pemecahan masalah mereka.
Secara total, 79% dari kelompok tersebut menyelesaikan setidaknya satu sesi aktivitas fisik selama periode pemantauan.
Bagi peserta yang berolahraga tersebut, frekuensi sesi dan irama sesi muncul sebagai prediktor utama kesehatan otak.
Faktor-faktor ini terkait erat dengan kesehatan materi putih yang lebih baik dan fungsi eksekutif yang lebih kuat, dengan manfaat yang lebih terasa pada wanita daripada pria.
Bahkan bagi 21% yang tidak mengikuti sesi terstruktur selama 10 menit, tetap aktif dengan cara tertentu menunjukkan manfaat, karena jumlah langkah harian total yang lebih tinggi dikaitkan dengan kesehatan otak yang lebih baik.
Studi ini menunjukkan bahwa sesi aktivitas fisik yang lebih singkat dan lebih sering dengan intensitas tinggi mungkin paling efektif untuk mendukung kesehatan kognitif pada orang dewasa yang lebih tua.
Riset itu juga memperkuat pesan penting dalam kesehatan masyarakat: aktivitas apa pun lebih baik daripada tidak sama sekali dalam hal melindungi otak yang menua. (BS)