Berandasehat.id – Diet dan olahraga kerap berada di urutan teratas untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah). Namun, kesehatan jangka panjang, terutama pada remaja, mungkin dimulai dengan sesuatu yang lebih mendasar: tidur.

Sebuah studi baru, yang dipimpin oleh tim dari Penn State College of Medicine, menemukan bahwa waktu tidur dan bangun pada remaja mungkin menjadi pendorong utama di balik apa yang mereka makan dan seberapa banyak remaja bergerak.

Remaja yang tidur lebih larut dan bangun telat cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori, lebih sering ngemil, dan kurang aktif secara fisik—terutama saat di sekolah dibandingkan saat liburan sekolah.

Temuan ini menunjukkan bahwa tidur dapat menjadi pengungkit untuk melindungi kesehatan jantung, kata para peneliti.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Health meneliti bagaimana berbagai aspek tidur, kaitannya dengan asupan dan komposisi makanan, olahraga, dan perilaku sedentari pada remaja.

“Tidur merupakan faktor risiko potensial bagi kesehatan kardiometabolik, bahkan pada remaja,” kata Julio Fernandez-Mendoza, profesor psikiatri dan kesehatan perilaku Edward O. Bixler di Penn State College of Medicine dan penulis senior studi.

Waktu tidur, yakni kapan remaja tidur dan bangun, memiliki pengaruh terbesar pada perilaku sedentari dan makan pada remaja.” Ini adalah sesuatu yang perlu diperhatikan—dan dilindungi—oleh orang tua selama tahun-tahun perkembangan kritis seperti masa remaja,” kata Fernandez-Mendoza.

Jam internal tubuh mengatur siklus tidur-bangun selama 24 jam setiap hari. Tetapi ia juga mengatur proses dan perilaku tubuh penting lainnya, seperti metabolisme dan aktivitas fisik. Misalnya, tidur dan bangun larut malam tidak hanya memengaruhi jadwal tidur seseorang, tetapi juga memengaruhi rasa lapar, keinginan akan jenis makanan tertentu, dan keinginan untuk bergerak atau beristirahat.

Kebutuhan tidur remaja dan jadwal modern

Sebagian besar remaja tidak mendapatkan delapan hingga sepuluh jam tidur yang direkomendasikan oleh National Sleep Foundation. Jam internal remaja secara alami bergeser lebih larut malam selama masa remaja, yang menjelaskan mengapa remaja cenderung begadang dan tidur lebih lama.

Namun, jadwal sekolah yang umum bertentangan dengan dorongan alami remaja untuk tidur. Dengan jadwal sekolah pagi, mereka perlu bangun lebih awal daripada yang disukai jam biologis tubuhnya.

Studi sebelumnya menemukan bahwa ketika remaja tidak cukup tidur, mereka cenderung kurang aktif secara fisik dan makan dengan buruk, yang keduanya dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan metabolik.

Tetapi studi-studi ini mengevaluasi tidur berdasarkan satu metrik, seperti durasi tidur, dan pengukuran yang dilaporkan sendiri, kata para peneliti. Hal ini berpotensi membatasi pemahaman tentang sejauh mana hubungan antara tidur, pola makan, dan aktivitas fisik.

“Tidur lebih dari sekadar berapa lama seseorang tidur, tetapi tidak banyak penelitian yang melihat masalah ini dari perspektif holistik di luar berapa banyak tidur yang didapatkan remaja,” kata Pura Ballester-Navarro, profesor di Universidad Católica San Antonio de Murcia di Spanyol dan penulis pertama studi tersebut.

Dalam studi ini, para peneliti ingin menentukan apakah aspek-aspek spesifik tidur—seperti durasi tidur, waktu, keteraturan, dan kualitas—yang diukur dengan metode berbeda berhubungan secara berbeda dengan kebiasaan makan dan perilaku aktivitas fisik remaja, dan apakah berada di sekolah atau di luar sekolah mengubah seberapa kuat hubungan tersebut.

Studi melibatkan 373 peserta dari Penn State Child Cohort, sebuah studi longitudinal berbasis populasi yang didirikan pada tahun 2000.

Para peneliti memantau berbagai aspek tidur, termasuk waktu tidur, waktu bangun, total waktu tidur, titik tengah tidur dan ketidakteraturannya, efisiensi tidur, dan waktu di tempat tidur.

Mereka mengumpulkan data menggunakan kombinasi metode objektif dan subjektif, termasuk perangkat yang dikenakan di pergelangan tangan, survei laporan diri, dan studi tidur di laboratorium. Mereka juga melacak asupan makanan, asupan camilan, dan aktivitas fisik.

Tim menemukan bahwa remaja dengan pola ‘burung hantu malam’ umumnya tidur setelah tengah malam dan bangun setelah pukul 8 pagi, secara konsisten mengonsumsi lebih banyak kalori, terutama karbohidrat, dan lebih banyak duduk.

Mereka juga cenderung lebih banyak mengonsumsi camilan, terutama di siang hari dan malam hari. Karena mereka bangun lebih siang, remaja sering melewatkan sarapan.

Sebaliknya, mereka makan siang, makan malam, dan camilan larut malam, yang cenderung kurang sehat daripada sarapan biasa.

Durasi tidur yang sangat bervariasi—ketika remaja bergantian tidur lebih singkat dan lebih lama di malam hari—juga dikaitkan dengan perilaku yang kurang sehat, khususnya kurangnya aktivitas fisik.

Peneliti menyampaikan, untuk mendorong pola makan sehat dan aktivitas fisik, menargetkan keteraturan dan waktu tidur remaja dapat menjadi strategi kunci. Misalnya, orang tua dan pengasuh dapat fokus pada waktu tidur yang lebih awal, durasi tidur yang lebih lama, dan jadwal tidur yang konsisten selama tahun ajaran sekolah sambil mengurangi kebiasaan ngemil larut malam dan perilaku kurang gerak saat anak-anak sedang libur sekolah.

“Rutinitas tidur yang konsisten adalah alat yang ampuh,” tandas Ballester-Navarro. (BS)