Berandasehat.id – Asal mula penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer atau demensia tidak terbatas pada otak, namun juga karena pengaruh saluran cerna. Mungkin banyak yang belum tahu bahwa kondisi usus diam-diam dapat memicu siklus peradangan kronis di seluruh sistem yang mendorong otak menuju penurunan kognitif.

Tetapi bagaimana patogenesis penyakit yang tampaknya murni berbasis otak dimulai di usus—organ yang sebagian besar sibuk memproduksi bahan kimia untuk mencerna makanan?

Ternyata kedua entitas ini dihubungkan oleh poros usus-otak, jalan raya komunikasi dua arah yang terus-menerus mengirimkan sinyal antara saluran pencernaan dan sistem saraf pusat. Ia berjalan dengan pembawa pesan kimia seperti neurotransmiter dan asam lemak, berbagi informasi yang membentuk ingatan, suasana hati, dan pemicu peradangan tubuh.

Analisis dari 15 studi yang melibatkan lebih dari 4.200 peserta menemukan bahwa jalan raya usus-otak dapat dimanfaatkan sebagai jalur bebas obat untuk mendukung kesehatan kognitif.

Mengatur mikrobiota usus melalui diet, suplemen, atau intervensi medis seperti transplantasi mikrobiota feses (FMT) dapat membantu meningkatkan memori, fungsi eksekutif, dan kinerja kognitif secara keseluruhan, terutama pada kasus gangguan kognitif tahap awal atau ringan.

Keuntungan dari efek perlindungan ini berasal dari peningkatan bakteri usus bermanfaat yang menghasilkan senyawa yang mampu memperlambat penurunan kognitif dan mengurangi peradangan, menurut temuan yang dipublikasikan di Nutrition Research.

Mikroba usus baik untuk perbaiki daya ingat

Usus pada dasarnya adalah ekosistem anaerobik yang dipenuhi dengan campuran mikroorganisme yang sangat banyak, termasuk bakteri, jamur, dan protozoa, yang secara kolektif disebut mikrobiota.

Organisme-organisme ini menetap di berbagai wilayah lapisan usus dan bersama-sama membentuk sebagian besar mikrobioma manusia, yang mencakup lebih dari 1.000 spesies mikroba.

Beberapa penelitian telah menetapkan bahwa mikrobiota usus memainkan peran kunci dalam perkembangan otak dan daya ingat.

Seiring bertambahnya usia atau pola makan yang buruk, komunitas bakteri di usus dapat bergeser dari bermanfaat menjadi berbahaya, suatu kondisi yang dikenal sebagai disbiosis.

Ketidakseimbangan bakteri usus tersebut dapat secara diam-diam memicu penurunan fungsi otak dengan memicu peradangan, melemahkan penghalang pelindung otak, dan memungkinkan protein berbahaya yang terkait dengan Alzheimer untuk menumpuk.

Sebagian besar penelitian sebelumnya meneliti pengobatan mikrobiota usus, satu pengobatan pada satu waktu. Dalam penelitian ini, para peneliti menginginkan pandangan yang lebih luas tentang bagaimana diet khusus, probiotik, dan transplantasi meningkatkan mikrobiota usus dan bagaimana perbandingannya satu sama lain.

Para peneliti fokus pada penelitian yang melibatkan orang dewasa di atas 45 tahun dengan masalah memori, bersama dengan pengobatan yang secara langsung atau tidak langsung menargetkan bakteri usus dan hasil kognitif yang diukur melalui tes fungsi otak yang telah divalidasi.

Setelah menyeleksi ribuan studi di lima basis data medis utama, mereka mempersempit daftar menjadi 15 uji klinis paling relevan dari Eropa, Asia, Amerika Utara, dan Timur Tengah.

Uji klinis tersebut melibatkan 4.275 peserta dan mengeksplorasi efek dari berbagai pendekatan, termasuk diet Mediterania (diet kaya tumbuhan dan lemak sehat), diet ketogenik (diet rendah karbohidrat dan tinggi lemak), suplemen seperti probiotik, omega-3, dan sinbiotik, serta intervensi medis seperti transplantasi mikrobiota tinja atau FMT (transfer bakteri usus sehat dari donor).

Mereka menemukan bahwa diet Mediterania dan ketogenik meningkatkan kinerja kognitif dengan membentuk kembali mikrobiota usus dan meningkatkan bahan kimia neuroprotektif seperti GABA.

Meningkatkan kesehatan usus dengan probiotik dan terutama transplantasi mikrobiota tinja (FMT) juga menghasilkan fungsi kognitif yang lebih baik, dengan FMT mendorong perubahan yang lebih cepat dan lebih dramatis dalam kesehatan usus.

Intervensi ini juga memicu perubahan biologis positif, termasuk peningkatan keanekaragaman mikroba, produksi asam lemak rantai pendek yang lebih tinggi, dan pengurangan peradangan otak, semua faktor yang berkontribusi terhadap otak yang lebih sehat.

Tim tersebut juga mengamati bahwa diet dan intervensi yang fokus pada usus menunjukkan manfaat yang jelas pada gangguan kognitif dini atau ringan, tetapi memiliki dampak terbatas pada pasien dengan penyakit Alzheimer stadium lanjut.

Oleh karena itu, peneliti menekankan bahwa meskipun temuan tersebut mendukung intervensi usus sebagai alat yang ampuh untuk memperlambat penurunan kognitif, waktu adalah segalanya—semakin awal dimulai, semakin baik hasilnya, demikian dikutip Science x Network. (BS)