Berandasehat.id – Tren bedah estetik alias operasi plastik tampaknya terus meneingkat. Di Korea Selatan misalnya, menjadi hal lazim anak remaja begitu lulus SMA mendapat hadiah operasi plastik. Sebenarnya, pada usia berapa operasi plastik dengan tujuan estetik bisa dilakukan?

Menurut dr. Alexander Perkasa Hendropriyono, Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik yang berpraktik di RS Pondok Indah, operasi plastik sebaiknya dilakukan saat usia sudah cukup matang.

“Kalau di Korea sudah umum anak lulus SMA mendapat hadiah operasi plastik. Saya termasuk konservatif, operasi plastik untuk tujuan estetik sebaiknya dilakukan saat usia dewasa dengan kondisi emosi stabil. Anak remaja mentalnya masih fluktuatif jadi saya tidak sarankan operasi plastik kecuali untuk bedah rekonstruksi atau ada indikasi medis,” ujarnya di acara temu media di Jakarta, baru-baru ini.

Psikologis pasien menjadi hal penting dalam bedah estetik, bukan hanya terkait umur, sebut dr. Alex. Tak dimungkiri, ada sejumlah orang dengan kondisi mental yang tidak stabil sehingga saat melakukan operasi plastik selalu merasa tidak cukup atau kurang sehingga terus-terusan melakukan operasi plastik.

“Kalau kondisi psikologis pasien tidak baik-baik saja, mau operasi sebagus apapun pasti akan selalu merasa kurang, padahal sudah operasi berulangkali, bahkan sampai delapan kali misalnya,” tuturnya.

Dia menekankan, operasi plastik sebaiknya dilakukan berdasar indikasi, bukan semata hitungan berapa kali. “Asal ada indikasi medis dan legal itu bisa dikerjakan,” terangnya.

dr. Alexander Akbar Wiratama Perkasa Hendropriyono, Sp.B.P.R.E., M.Ked.Klin

Dia menyoroti sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan sebelum menjalani bedah estetik, misalnya pasien dengan penyakit penyerta (komorbid) seperti diabetes melitus atau tekanan darah tinggi perlu mendapat perhatian ekstra. “Diabetes dan hipetensi dapat mempersulit operasi plastik karena proses penyembuhannya bisa lebih lama,” cetusnya.

Mereka yang minum obat pengencer darah juga berisiko tinggi menjalani operasi plastik. “Kebiasaan merokok atau vaping juga bisa mempersulit tindakan saat operasi dan berisiko gagal,” imbuh dr. Alex.

Bicara tentang bedah estetik, operasi kelopak mata (blepharoplasty) dan hidung (rhinoplasty) menjadi prosedur yang paling banyak dilakukan dibandingkan operasi payudara atau bokong, menunjukkan tingginya perhatian terhadap penampilan menjadi pendorong banyak orang di Indonesia melakukan prosedur tersebut.

Prosedur sebagai rhinoplasty dan kelopak mata, sebut dr. Alex, ini dirancang khusus untuk memperkuat struktur anatomi khas masyarakat Asia. “Prosedur ini memastikan hasil yang harmonis dengan bentuk tulang wajah pasien, sehingga perubahan yang dilakukan lebih harmonis dengan wajah secara keseluruhan,” tuturnya.

Dia tak menyarankan pasien yang operasi hidung ingin setinggi orang Kaukasia. “Itu kurang cocok dengan wajah Asia, termasuk Indonesia. Hasilnya malah tidak proporsional, tidak harmonis dengan wajah,” tandas dr. Alex. (BS)