Berandasehat.id – Sekitar 2 miliar orang di seluruh dunia terinfeksi kuman tuberkulosis laten, bentuk penyakit yang tidak aktif yang tidak menimbulkan gejala dan tidak menular. Namun, dalam lima hingga sepuluh persen kasus, bakteri yang tidak aktif dapat aktif kembali dan berkembang menjadi penyakit yang mengancam jiwa.
Para ilmuwan di Universitas James Cook telah mengungkap wawasan baru tentang bagaimana tubuh menampung kuman tuberkulosis laten, menggunakan teknik mutakhir yang memungkinkan para peneliti untuk memetakan secara tepat di mana sel imun dan bakteri berinteraksi di dalam jaringan.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications itu memungkinkan pengujian awal kandidat vaksin tuberkulosis baru untuk membantu mencegah penyakit tersebut aktif kembali.
Aktivasi kembali kuman lebih mungkin terjadi ketika sistem kekebalan tubuh melemah, termasuk pada orang lanjut usia dan mereka yang memiliki kondisi seperti diabetes atau HIV.
Profesor Andreas Kupz dari Universitas James Cook mengatakan bahwa memahami mengapa hal ini terjadi tetap menjadi tantangan penting. “Mempelajari infeksi tuberkulosis laten sulit karena Mycobacterium tuberculosis hanya menginfeksi manusia, sehingga sebagian besar model hewan tidak benar-benar menunjukkan jenis infeksi laten ini,” tuturnya.
Untuk mengatasi hal ini, Profesor Kupz dan Dr. Socorro Miranda-Hernandez mengembangkan sebuah model yang meniru infeksi di luar paru. Menurut Profesor Kupz ada bukti bahwa infeksi laten pada manusia sebenarnya tidak terjadi di paru, meskipun infeksi aslinya terjadi di sana.
“Sebaliknya, bakteri tuberkulosis mungkin berada di organ limfatik seperti kelenjar getah bening atau sumsum tulang. Jenis infeksi limfatik ini dapat disimulasikan dalam model tuberkulosis yang terkendali,” imbuhnya.

Inti dari terobosan ini adalah teknologi yang dikenal sebagai transkriptomik spasial, yang memungkinkan para ilmuwan untuk mempelajari seluruh jaringan daripada sel-sel yang terisolasi.
Sampai sekitar lima atau enam tahun yang lalu, ketika mempelajari sistem kekebalan tubuh, banyak hal yang harus dilakukan didasarkan pada sel-sel kekebalan yang terisolasi. Kini, kita dapat melihat seluruh jaringan secara keseluruhan, dan benar-benar dapat menemukan sel mana yang berdekatan dengan sel lain, menurut Profesor Kupz.
“Kita dapat melihat dengan tepat di mana bakteri tuberkulosis laten berada. Transkriptomik spasial memungkinkan kita untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di kelenjar getah bening tersebut ketika bakteri tersebut terkendali atau ketika mereka dapat lolos dari penahanan,” urainya.
Dengan menggunakan pendekatan ini, tim tersebut mengidentifikasi peran kunci sel T CD8+ dalam mengendalikan infeksi. Berkat temuan ini, kini tim peneliti tahu apa yang dilakukan sel T CD8+ di kelenjar getah bening, dan bagaimana mereka melakukannya secara spasial.
Namun demikian, tim peneliti tidak tahu persis bagaimana mereka membunuh bakteri, atau apakah mereka hanya menyediakan penghalang. Jika mendapatkan pendanaan yang sesuai, tim berencana untuk mendorong penelitian ini ke tingkat lanjut. (BS)