Berandasehat.id – Awalnya dikembangkan untuk mengobati diabetes, kelas obat yang dikenal sebagai agonis reseptor peptida mirip glukagon-1 (GLP-1 RA) kini menjadi sorotan sebagai obat penurun berat badan.

Namun demikian, sebuah tinjauan menyeluruh baru-baru ini menyoroti kekhawatiran tentang keamanan terkait penggunaan obat GLP ini, di samping berbagai potensi manfaat

Tinjauan yang dipublikasikan di JAMA Network Open tersebut memilih studi yang mengamati lebih dari sekadar hasil non-kardiometabolik seperti gula darah, berat badan, dan kesehatan jantung dan ginjal. Pencarian dipersempit menjadi 60 meta-analisis yang mencakup 1.751 uji klinis acak dengan lebih dari 3,5 juta peserta, dan menemukan hubungan yang kuat antara obat GLP-1 dan efek samping gastrointestinal, termasuk mual, diare, dan muntah.

Para peneliti juga menemukan bahwa obat-obatan tersebut mungkin benar-benar melindungi terhadap infeksi serius tertentu dan bermanfaat untuk kesehatan tulang, otak, dan paru. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menarik kesimpulan yang solid mengenai manfaat ini.

Turunkan risiko infeksi serius, dukung kesehatan paru

Agonis reseptor GLP-1 meniru hormon alami dalam tubuh, yang dilepaskan dari usus setelah makan, untuk mengatur gula darah dan nafsu makan.

Agonis ini mengaktifkan reseptor GLP-1 yang sama di lambung dan usus yang membantu memperlambat pengosongan lambung, membuat orang merasa kenyang lebih cepat dan lebih lama, mengurangi asupan makanan secara keseluruhan.

Pada saat yang sama, obat itu memberi sinyal pada pankreas untuk melepaskan insulin ketika kadar gula darah meningkat. Bersama-sama, efek ini membantu meningkatkan kontrol glukosa sekaligus mendukung pengelolaan berat badan.

Ada banyak penelitian yang meneliti manfaat atau risiko metabolik dan kardiovaskular yang terkait dengan obat-obatan tersebut. Namun, peran potensialnya dalam spektrum hasil kesehatan yang jauh lebih luas masih kurang diketahui.

Dengan meningkatnya penggunaan agonis reseptor GLP-1, baik dokter maupun pasien membutuhkan gambaran yang lebih jelas tentang potensi risiko dan manfaatnya, terutama di luar peran yang telah ditetapkan.

Dalam penelitian ini, tim mencari beberapa basis data medis utama untuk mengidentifikasi semua studi yang relevan yang melibatkan uji klinis acak, standar emas penelitian medis, di mana obat GLP-1 dibandingkan dengan plasebo atau obat lain.

Untuk studi ini, tim peneliti hanya fokus pada hasil nonkardiometabolik.

Temuan yang paling konsisten adalah bahwa obat-obatan ini sangat terkait dengan efek samping gastrointestinal. Namun, obat-obatan ini juga menunjukkan beberapa manfaat tak terduga di luar perannya dalam diabetes.

Bukti menunjukkan bahwa obat-obatan tersebut dapat menurunkan risiko infeksi serius dan mendukung kesehatan paru dengan mengurangi peradangan saluran napas dan stres oksidatif.

Pada saat yang sama, penurunan berat badan yang dipicunya dapat memperbaiki kondisi seperti sleep apnea.

Ada juga indikasi kemungkinan manfaat bagi otak, termasuk perlindungan terhadap demensia melalui peningkatan aliran darah dan pengurangan penumpukan protein berbahaya. Obat-obatan tersebut juga dapat memperkuat tulang dan menurunkan risiko patah tulang, meskipun hal ini masih kurang pasti.

Temuan dari penelitian ini mendukung pemantauan yang cermat terhadap efek samping gastrointestinal pada pasien yang menggunakan GLP-1 RA.

Sebelum obat-obatan ini dipertimbangkan secara serius untuk pengobatan atau pencegahan infeksi, kondisi pernapasan, atau demensia, para peneliti mendesak kehati-hatian, dengan mencatat bahwa informasi yang diidentifikasi sejauh ini bersifat eksploratif dan akan membutuhkan bukti yang lebih kuat dari penelitian di masa mendatang, demikian laporan Science x Network. (BS)