Berandasehat.id – Mutasi gen MDGA1, faktor kunci yang memodulasi koneksi dan karakteristik antara sel saraf, berfungsi sebagai penyebab baru gangguan spektrum autisme (ASD). Studi terkini itu membuka jalan tentang kemungkinan adanya obat untuk mengobati gangguan tersebut.
Studi yang dipublikasikan di EMBO Molecular Medicine dinilai penting karena memberikan petunjuk biologis mengapa autisme lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.
ASD adalah gangguan perkembangan saraf. Ciri-cirinya meliputi kurangnya interaksi sosial dan perilaku berulang.
Meskipun angka kejadian dan diagnosis ASD umumnya diketahui sekitar tiga hingga empat kali lebih tinggi pada pria daripada wanita, penyebab biologis yang jelas dari bias gender ini tetap menjadi misteri.
Hasil studi baru itu telah memecahkan misteri tersebut dan memberikan petunjuk biologi molekuler mengapa autisme lebih sering terjadi pada pria.
Studi gabungan yang dijalankan tim peneliti internasional dari Spanyol menemukan mutasi missense MDGA1 pada pasien dengan gejala autisme. Menurut temuan penelitian, protein MDGA1 bertindak sebagai modulator yang menghambat sirkuit saraf otak agar tidak terlalu terangsang.

Penelitian menemukan bahwa jika gen ini bermutasi, fungsi (tingkat fosforilasi) protein (Synapsin II), yang membantu mentransmisikan sinyal antar sel saraf, menurun dan selanjutnya merusak keseimbangan sirkuit saraf otak.
Menariknya, kegagalan sirkuit otak ini bermanifestasi berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada model tikus yang didesain mengalami mutasi MDGA1 yang dikembangkan oleh kelompok penelitian, tikus jantan menunjukkan perilaku seperti autisme yang jelas, seperti gangguan keterampilan komunikasi sosial, sementara tikus betina mempertahankan pola perilaku normal.
Kelompok penelitian mengaitkan efek ini dengan sistem pensinyalan estrogen pada perempuan yang melindungi terhadap kelainan pada sirkuit saraf yang disebabkan oleh penghapusan gen.
Berdasarkan mekanisme pertahanan ini, kelompok penelitian memberikan bazedoxifene, modulator reseptor estrogen selektif yang telah disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), kepada tikus jantan yang bermutasi.
Kelompok peneliti tersebut mengonfirmasi bahwa hal ini mengembalikan fungsi neuroprotein yang terganggu (fosforilasi Synapsin II) dan mengembalikan perilaku mirip autisme, seperti vokalisasi ultrasonik abnormal dan respons terkejut, ke tingkat normal.
“Studi ini memiliki signifikansi yang sangat besar karena tidak hanya mengidentifikasi faktor genetik baru dari ASD, yang penyebab pastinya sulit ditentukan, tetapi juga mengidentifikasi mekanisme molekuler yang menyebabkan perbedaan gender,” kata Profesor Jaewon Ko.
Tim peneliti kan melanjutkan penelitian lanjutan untuk aplikasi klinis di masa mendatang, karena hal ini membuka kemungkinan bahwa bazedoxifene, obat yang keamanannya telah terbukti, dapat digunakan sebagai pilihan pengobatan baru untuk autisme. (BS)