Berandasehat.id – Retinopati diabetik merupakan menjadi salah satu komplikasi yang berpotensi menyebabkan kebutaan pada penyandang diabetes yang tidak terkontrol. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut komplikasi pada mata akibat diabetes – disebut retinopati diabetik –  sebagai lima besar penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dicegah.

WHO menyebut satu miliar orang mengalami gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dicegah/diobati – sekitar 3,9 juta di antaranya disebabkan oleh retinopati diabetik. Gangguan pada mata yang bisa memicu kebutaan ini merupakan salah satu komplikasi diabetes yang patut diwaspadai.

Asosiasi Diabetes Amerika menyebut, orang yang mengidap diabetes tipe 1 atau 2 berisiko mengalami retinopati diabetik, dimana rang yang hidup dengan diabetes selama 20-25 tahun lebih mungkin mengalami komplikasi diabetes pada mata.

Menurut spesialis mata Martin Hertanto dari JEC Eye Hospitals and Clinics, penyandang diabetes perlu tetap waspada terhadap potensi gangguan mata akibat komplikasinya bahkan di bulan puasa. “Apabila tidak terdeteksi sejak dini, retinopati diabetik bisa menyebabkan pendarahan dan robekan pada retina sehingga menimbulkan gangguan pandangan, seperti berbayang atau munculnya bercak hitam, bahkan sampai kebutaan,” ujarnya dalam acara webinar JEC Eye Talks yang dihelat Selasa (27/4).

Retinopati diabetik disebabkan oleh kerusakan pembuluh darah pada jaringan di belakang mata (retina). Pada penyandang diabetes, gula darah yang tidak  terkontrol merupakan faktor risiko. Retinopati diabetik bisa terjadi saat kadar gula darah yang naik akibat diabetes menyebabkan perubahan pada pembuluh darah di retina. Dalam beberapa kasus, pembuluh ini akan membengkak (edema makula) dan memicu cairan keluar (kebocoran) ke bagian belakang mata.

Namun dalam kasus lain, perubahan kadar gula darah itu memicu pertumbuhan pembuluh darah abnormal di permukaan retina. Bila tak segera ditangani, kelainan itu perlahan-lahan dapat menyebabkan retinopati diabetik yang serius, yang bisa berujung pada kebutaan bila terlambat ditangani.

Sayangnya gejala gangguan pada mata ini awalnya nyaris tidak kentara dan penyakit umumnya akan muncul gejala saat sudah masuk stadium lanjut.  Namun pemeriksaan retina secara berkala bisa membantu mendeteksi retinopati lebih dini. Martin mengatakan, bagi penyandang diabetes disarankan untuk memeriksakan kondisi matanya secara teratur. “Lakukan pemeriksaan retina secara berkala, minimal setahun sekali,tergantung derajat keparahan penyakit,” ujarnya.

Waspadalah apabila pasien diabetes yang mengalami gangguan penglihatan mendadak, penurunan kemampuan penglihatan, terdapat bintik atau bercak melayang saat melihat, penglihatan buram berbayang dan mata terasa sakit atau berwarna merah, harus selekasnya memeriksakan ke dokter mata sebagai langkah antisipasi.

Penyandang diabetes yang didiagnosis retinopati diabetik stadium ringan akan diminta menjaga pola makan dan mempertahankan kadar gula darah pada angka kurang dari 200 mg/dl.  Mengingat retinopati diabetik adalah komplikasi diabetes, diet dan pengobatan khusus untuk penderita diabetes berpengaruh pada peluang kesembuhan pasien.

Retinopati diabetik dapat diatasi dengan minum obat, laser dan operasi tergantung pada stadiumnya.  “Namun yang penting adalah pencegahan jangan sampau komplikasi. Karena jika sudah komplikasi hal itu tidak dapat dikembalikan,” ujar dokter spesialis penyakit dalam Suharko Soebardi.

Agar tak terjadi komplikasi diabetes, Suharko menyarankan penyandang diabetes untuk mengelola kadar gula darah terkontrol, demikian juga dengan kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi harus dikendalikan. “Jangan lupa olahraga secara teratur karena terbukti sebagai salah satu cara efektif kendalikan kadar gula darah pada pasien diabetes,” pungkasnya. (sumber: hidupgaya.co)