Pewarna Makanan Bisa Munculkan Penyakit ketika Sistem Kekebalan ‘Kacau’

Berandasehat.id – Pewarna makanan buatan yang diklaim aman pun dapat menyebabkan penyakit ketika sistem kekebalan menjadi tidak terkendali, menurut peneliti Icahn School of Medicine di Mount Sinai. Riset yang dipublikasikan di Cell Metabolism pada Mei 2021 adalah yang pertama menunjukkan fenomena ini.

Studi yang dilakukan pada tikus, menemukan bahwa hewan pengerat itu mengembangkan kolitis ketika mereka mengonsumsi makanan dengan pewarna makanan buatan FD&C Red 40 dan Yellow 6 ketika komponen tertentu dari sistem kekebalan mereka, yang dikenal sebagai sitokin IL-23, tidak terkendali.

Meskipun masih belum jelas apakah pewarna makanan memiliki efek yang sama pada manusia, para peneliti berencana untuk menyelidiki dengan tepat bagaimana sitokin IL-23 mendorong perkembangan kolitis setelah paparan pewarna makanan.

Kolitis adalah salah satu bentuk penyakit radang usus (IBD), dan disregulasi sitokin IL-23 diketahui menjadi faktor dalam perkembangan IBD pada manusia. Obat-obatan yang menghalangi fungsinya sekarang berhasil digunakan pada pasien. Pewarna makanan seperti Red 40 dan Yellow 6 banyak digunakan dalam makanan, minuman, dan obat-obatan. Kedua pewarna makanan ini paling umum digunakan di dunia.

Kecenderungan genetik maupun faktor lingkungan tampaknya berperan dalam menentukan apakah seseorang mengembangkan IBD, suatu kondisi yang mempengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, tetapi faktor lingkungan yang tepat tetap sulit dipahami.

Pada risetnya, para peneliti membuat model tikus memiliki ekspresi tidak diatur untuk sitokin IL-23. Yang mengejutkan, tikus dengan respons imun yang tidak diatur itu tidak mengembangkan penyakit radang usus secara spontan meskipun IL-23 yang tidak teratur merupakan faktor pada orang dengan penyakit tersebut.

Ketika diberi makanan dengan pewarna makanan Red 40 atau Yellow 6, tikus yang diubah tersebut mengembangkan kolitis. Namun, tikus yang diberi makan infus pewarna tetapi memiliki sistem kekebalan normal tidak mengembangkan IBD. Untuk membuktikan bahwa pewarna makanan memang bertanggung jawab, para peneliti memberi makan tikus yang dikondisikan dengan diet tanpa pewarna makanan dan air yang mengandung pewarna. Dalam kedua kasus, penyakit berkembang saat tikus mengonsumsi zat pewarna, tetapi tidak sebaliknya. Mereka mengulangi temuan ini untuk beberapa diet dan beberapa pewarna makanan.

“Perubahan dramatis dalam konsentrasi polutan udara dan air serta peningkatan penggunaan makanan olahan dan aditif makanan dalam makanan manusia pada abad terakhir berkorelasi dengan peningkatan kejadian penyakit peradangan dan autoimun,” kata penulis senior Sergio Lira, MD, Ph.D., Leona M. dan Harry B. Helmsley Charitable Trust Professor of Immunology di Precision Immunology Institute di Icahn Mount Sinai. 

“Perubahan lingkungan ini dianggap berkontribusi pada perkembangan penyakit ini, tetapi relatif sedikit yang diketahui tentang bagaimana mereka melakukannya. Kami berharap penelitian ini merupakan langkah untuk memahami dampak pewarna makanan pada kesehatan manusia,” tandasnya. (BS)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s