Berandasehat.id – Jangan anggap remeh pemakaian vaping, khususnya jika dikaitkan dengan pandemi COVID-19. Penggunaan rokok elektrik atau vaping, menyebabkan kerusakan serius pada paru. Setelah virus corona baru yang bertanggung jawab atas penyakit pernapasan COVID-19 muncul tahun lalu, ada kekhawatiran berkelanjutan tentang bagaimana vaping dapat mempengaruhi risiko infeksi dan tingkat keparahan gejala. Beberapa bukti menunjukkan peningkatan risiko infeksi di antara mereka yang melakukan vaping.

Penelitian juga menunjukkan tingkat kematian COVID-19 yang lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita, dan pria lebih cenderung menggunakan vape daripada wanita. Namun, tidak ada bukti untuk menghubungkan kedua pengamatan ini.

Penelitian baru dari Jefferson menyoroti hal ini dengan menunjukkan bahwa paparan uap rokok elektrik meningkatkan kadar reseptor virus corona di paru tikus jantan, terutama ketika nikotin ada dalam uapnya. Ini bisa membuat virus lebih mudah menginfeksi, demikian simpul studi yang dipublikasikan di Journal of Investigative Medicine, 29 April 2021.

Menggunakan protein mirip paku di permukaannya seperti kunci, virus corona baru mengikat reseptor angiotensin-converting enzyme 2 (ACE-2) yang ditemukan di lapisan saluran udara manusia, dan membuka jalurnya ke sel paru.

“Telah ditunjukkan bahwa perokok memiliki tingkat ACE-2 yang lebih tinggi di paru mereka dan bahwa merokok merupakan faktor risiko yang diketahui untuk mengembangkan penyakit dan infeksi paru,” kata Pawan Sharma, Ph.D. dan penulis senior penelitian ini. “Kami ingin melihat apakah efek serupa terlihat pada rokok elektrik atau vaping, dan apakah efek yang diamati berbeda antara pria dan wanita.”

Dalam risetnya, para peneliti menempatkan tikus betina atau jantan dalam sebuah kotak yang terpasang pada sistem otomatis yang mengirimkan jumlah uap rokok elektrik yang dikontrol dengan tepat, dengan atau tanpa nikotin, selama 30 menit, dua kali sehari selama 21 hari. Dibandingkan dengan tikus kontrol yang menghirup udara ruangan, tikus yang terpapar uap rokok elektrik mengalami peradangan pada jaringan paru mereka dan penurunan fungsi organ pernapasan, menguatkan bahaya vaping. Efek ini diamati apakah nikotin ditambahkan ke uap atau tidak, menunjuk pada sifat berbahaya dari bahan kimia yang ditemukan dalam uap rokok elektrik.

Terdapat juga peningkatan kadar reseptor ACE-2 di paru tikus yang terpapar uap, jantan dan betina. Meskipun tidak diuji dalam penelitian ini, tingkat reseptor ACE-2 yang lebih tinggi dapat membuat virus lebih mudah memasuki saluran udara, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi.

Menariknya, kehadiran nikotin dalam uap semakin meningkatkan peningkatan ACE-2 khususnya pada tikus jantan.

Para peneliti yang pertama menunjukkan potensi perbedaan jenis kelamin ini dalam efek paparan vaping dan nikotin pada tingkat ACE-2 in vivo (skala lab). Meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami kompleksitas faktor risiko COVID-19, hasil studi ini menjelaskan perbedaan fisiologis penting yang membuat satu jenis kelamin berpotensi lebih rentan.

“Temuan kami memberikan alasan untuk melihat efek vaping pada tingkat ACE-2 di paru-paru manusia,” kata Dr. Sharma. “Jika induksi serupa dari ACE-2 terlihat, itu memberikan bukti lebih lanjut bahwa vaping menjadi faktor risiko COVID-19 dan dapat membantu kami memahami cara mencegah dan mengurangi infeksi pada populasi ini.” (BS)